Guest Book

powered by Is Banned ???

You Are Here: Home - Tafsir - ..**Menjual Ayat-ayat Allah (Tafsir QS at-Taubah : 9)**..

http://2.bp.blogspot.com/_jVF1072qdGU/TJh64XRaAjI/AAAAAAAAApY/2Bc98V6AIBY/s320/al-quran.jpgJustify Full

Oleh MR Kurnia
]اشْتَرَوْا بِآيَاتِ اللهِ ثَمَنًا قَلِيلاً فَصَدُّوا عَنْ سَبِيلِهِ إِنَّهُمْ سَاءَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ[

Mereka menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka kerjakan.
(QS at-Taubah [9]: 9).



Makna Umum

Surat at-Taubah (9) ayat 9 ini merupakan gambaran kaum Musyrik, yang biasa menukar ayat-ayat Allah Swt. dengan harga yang rendah. Mereka memutarbalikkan ayat-ayat tersebut hanya untuk mendapatkan kepentingan dunia, baik berupa kekuasaan, kepemimpinan, maupun harta dengan cara menghalangi manusia untuk beriman sehingga loyalitasnya tetap untuk mereka. Sekalipun obyek ayat ini adalah kaum Musyrik, adanya penyifatan, “Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka kerjakan,” menunjukkan bahwa siapapun orang yang melakukan perbuatan tersebut berarti melakukan perbuatan paling buruk, yang tentu saja diharamkan.
Keharaman menjual ayat-ayat Allah dengan harga murah ini ditegaskan oleh qarâ’in (indikasi-indikasi) dalam banyak ayat. Di antaranya, mereka yang melakukan hal tersebut berarti melakukan perbuatan amat buruk (QS Ali Imran [3]:187 dan at-Taubah [9]: 9); mereka celaka (QS al-Baqarah [2]: 79); membeli kesesatan dengan petunjuk; membeli siksa dengan ampunan (QS al-Baqarah [2]: 174-175). Semua ini secara tegas menunjukkan keharaman perbuatan tersebut.
Lebih jauh, pengertian ‘menjual ayat-ayat Allah Swt. dengan harga murah’ ini dijelaskan dalam ayat-ayat lain. Pertama, menulis al-Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu menyatakan, “Ini dari Allah,” padahal bukan. (Lihat: QS al-Baqarah [2]: 79). Mereka memutar-mutar lidahnya membaca al-Kitab, dan membuat-buat legalisasi seakan apa yang diungkapkannya adalah wahyu, padahal itu berasal dari logika mereka sendiri (QS Ali Imran [3]: 77-78).
Kedua, menyembunyikan ayat Allah. (Lihat: QS al-Baqarah [2]: 174-175). Mereka membeli kesesatan dengan petunjuk, membeli siksa dengan ampunan. Allah mengambil janji untuk menerangkan isi Kitab dan tidak menyembunyikannya. Akan tetapi, mereka melemparkan janji itu dan menukarnya dengan harga sedikit. (Lihat: QS Ali Imran [3]:187).
Ketiga, orang-orang yang beriman kepada Allah dan pada wahyu yang diturunkan kepada para nabi apa adanya, mereka itu orang yang tidak menjual ayat-ayat Allah dengan harga murah. Mereka tidak terpedaya oleh kelancaran dan kemajuan dalam perdagangan dan perusahaan orang kafir. Artinya, perbuatan tidak mengimaninya merupakan tindakan menjual ayat-ayat Allah dengan harga murah. (Lihat: QS Ali Imran [3]: 196-199).
Keempat, tidak menghukumi setiap perkara dengan ayat-ayat Allah Swt. dan menggantinya dengan yang lain karena takut kepada manusia. (Lihat: QS al-Maidah [5]: 44).
Penyebab sebenarnya orang yang menukar ayat Allah dengan harga murah adalah: (1) lebih takut kepada manusia daripada kepada Allah Swt. (Lihat: QS al-Maidah [5]: 44); (2) untuk kepentingan orang lain (Lihat: QS al-Maidah [5]: 106); dan puncaknya (3) untuk menghalang-halangi manusia dari jalan Allah Swt. (Lihat: QS at-Taubah [9]: 9). Walhasil, semuanya ditujukan semata-mata untuk kepentingan dunia.
Larangan menjual atau menukar ayat-ayat Allah Swt. dengan harga sedikit tidak bisa dipahami sebagai ‘kalau harganya mahal adalah boleh’. Sebab, sekalipun perbuatannya itu dihargai dengan seluruh dunia dan segala isinya, semua itu tetap sedikit. Dunia dengan segala kesenangannya hanyalah seonggok perhiasan yang penuh tipuan. Apa yang ada di dunia akan lenyap sementara apa yang ada pada sisi Allah kekal (QS an-Nahl [16]: 96). Dunia tidak ada artinya apa-apa jika dibandingkan dengan ampunan dan ridha Allah Swt. yang salah satu wujudnya adalah surga yang luasnya seluas langit dan bumi (QS Ali Imran [3]: 133). Kunci agar seseorang tidak terjerumus ke dalam tindakan menjual ayat-ayat Allah dengan harga murah adalah betul-betul bertakwa kepada Allah Swt. (QS al-Baqarah [2]: 41).

Pendapat Para Ahli Tafsir

Pengertian surat at-Taubah (9) ayat 9 ini akan lebih dapat dipahami dengan menyandingkannya dengan ayat berikut:

]وَءَامِنُوا بِمَا أَنْزَلْتُ مُصَدِّقًا لِمَا مَعَكُمْ وَلاَ تَكُونُوا أَوَّلَ كَافِرٍ بِهِ وَلاَ تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلاً وَإِيَّايَ فَاتَّقُونِ[
Berimanlah kalian kepada apa yang telah Aku turunkan (al-Quran) yang membenarkan apa yang ada pada kalian (Taurat). Janganlah kalian menjadi orang yang pertama kafir kepadanya dan janganlah kalian menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah. Hanya kepada Akulah kalian harus bertakwa (QS al-Baqarah [2]: 41).

Di antara pendapat para ahli tafsir adalah:
1. Tafsir Jalalain[i]
At-Taubah (9) ayat 9: Mereka menjual ayat-ayat Allah, al-Quran, dengan harga murah, berupa dunia ini. Artinya, mereka meninggalkan mengikuti ayat-ayat tersebut demi keinginan dan hawa nafsu. Lalu, mereka menghalang-halangi dari jalan Allah, dîn-Nya. Sesungguhnya itu adalah seburuk-buruk apa yang mereka lakukan.
Al-Baqarah (2) ayat 41: Berimanlah pada apa yang Aku turunkan, yakni al-Quran, yang membenarkan apa yang ada pada kalian, yaitu Taurat, karena kesesuaian al-Quran tersebut dengan Taurat dalam hal tauhid dan kenabian. Janganlah kalian menjadi orang yang pertama kafir padanya dari kalangan Ahluli Kitab, karena orang-orang sesudah kalian yang mengikuti kalian maka dosa mereka akan menimpa kalian. Janganlah kalian menjual—yakni mengganti—ayat-ayat-Ku yang terdapat dalam kitab kalian berupa sifat Muhammad saw., dengan harga yang sedikit, yaitu dengan perhiasan dunia yang sangat kecil. Artinya, janganlah kalian menyembunyikan ayat-ayat tersebut karena takut kehilangan apa yang kalian ambil dari kalangan bawah kalian. Hanya kepada Akulah kalian harus bertakwa, yakni takutlah hanya kepada-Ku dalam hal tersebut, bukan pada yang lain.

2. Tafsir al-Qurthubi[ii]
At-Taubah (9) ayat 9: Mereka mengganti ayat-ayat Allah, al-Quran, demi perhiasan dunia. Lalu mereka menghalang-halangi manusia dari jalan Allah, yakni membuat halangan-halangan untuk menjauhkan manusia dari jalan Allah. Mereka menjual ayat-ayat Allah dengan murah, artinya Yahudi menjual hujah-hujjah Allah dan penjelasan-Nya demi mendapatkan kepemimpinan (riyâsah) dan mendapatkan banyak materi. Mereka itulah orang-orang yang melampaui batas, maksudnya melampaui batas halal-haram, dengan memutuskan perjanjian.
Al-Baqarah [2] ayat 41: Kalimat Janganlah kalian menjual (wa lâ tasytarû) merupakan ma’thûf bagi kalimat dan janganlah kalian menjadi orang kafir pertama (wa lâ takûnû…). Dia melarang mereka kafir dan mengambil harga atas ayat-ayat Allah, yakni dengan mengubah sifat-sifat Muhammad saw. Dulu para pendeta melakukan hal tersebut, maka mereka dilarang melakukannya. Ada juga yang mengatakan “Janganlah kalian menjual…,” artinya, “Janganlah kalian menjual perintah-perintah-Ku, larangan-larangan-Ku, dan ayat-ayat-Ku dengan harga yang kecil; yakni dunia, keluasannya, dan kehidupannya yang memang sedikit (nazrun) karena bahaya yang dikandungnya. Apa yang mereka tukarkan tersebut disebut harga (tsaman) karena mereka menjadikannya sebagai imbalan (‘iwâdh). Karena itu, istilah harga diterapkan padanya sekalipun sebenarnya bukanlah harga. Sekalipun ayat ini khusus bagi Bani Israil, ayat ini lencakup siapapun yang mengerjakan perbuatan mereka. Karena itu, siapa saja yang mengambil sogokan (risywah) untuk mengubah kebenaran, menyatakan batil suatu kebenaran, menolak mengajarkan apa yang wajib dia ajarkan, menolak melakukan apa yang ia ketahui, ia masuk kedalam topik ayat tersebut. Wallâhu a‘lam.

3. Tafsir Ath-Thabari[iii]
At-Taubah (9) ayat 9: Allah, Zat Yang Mahagagah lagi Maha Terpuji, menyatakan bahwa mereka (orang-orang musyrik) yang Allah menyuruh kalian, wahai kaum Mukmin, untuk membunuh mereka dimana pun kalian temui mereka karena mereka tidak mengikuti apa yang dihujahkan oleh Allah Swt. atas mereka—menjual hujah-hujah yang jelas dengan imbalan yang sedikit dari perhiasan dunia ini. Mereka adalah orang-orang yang memutuskan perjanjian dengan Rasul saw. Adapun pernyataan, “Lalu mereka menghalang-halangi manusia dari jalan Allah,” maknanya adalah, “Lalu mereka menghalangi masyarakat masuk ke dalam Islam dan berupaya mengembalikan kaum Muslim dari agama mereka tersebut.” Dalam kalimat, “Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka kerjakan itu,” Allah, Zat Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji menyatakan bahwa mereka kaum musyrik yang sifat-sifatnya telah dijelaskan itu amatlah buruk perbuatannya, yaitu perbuatan mereka membeli kekufuran dengan iman dan membeli kesesatan dengan petunjuk serta menghalang-halangi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya itu (Muhammad, red.) dan orang-orang yang hendak menjadi beriman.
Al-Baqarah (2) ayat 41. Abu ‘Aliyah mengatakan, makna kalimat, “Janganlah kalian menjual ayat-ayat-Ku dengan harga sedikit,” adalah, “Janganlah kalian mengambil upah atas ayat-ayat tersebut.” Sementara itu, As-Suday menyebutkan makna ‘harga sedikit’ adalah, “Janganlah kalian mengambil harga (tham’an, tsaman) sedikit dengan menyembunyikan nama Allah. Jadi, takwil dari ayat tersebut adalah janganlah kalian menjual ilmu yang telah Aku berikan kepada kalian dalam kitab-Ku dan ayat-ayat-Ku dengan harga yang sangat murah dan perhiasan dunia yang sedikit. Penjualan mereka seperti itu berarti mereka meninggalkan keterangan yang ada dalam kitab mereka tentang Nabi Muhammad saw. bagi masyarakat, padahal di dalam kitab itu disebutkan bahwa beliau adalah nabi yang ummi, baik dalam Taurat maupun Injil. Penjualan ini dilakukan dengan harga murah, yaitu berupa kesukaan mereka untuk mendapatkan kepemimpinan dari golongan dan agama mereka, dan mereka pun mendapatkan imbalan atas apa yang mereka jelaskan kepada masyarakat itu.

4. Tafsir Ibnu Katsir[iv]
At-Taubah (9) ayat 9. Allah, Zat Yang Mahatinggi, berfirman sebagai celaan terhadap kaum musyrik dan anjuran bagi kaum Mukmin untuk memerangi mereka: “Mereka menjual ayat-ayat Allah dengan harga sedikit.” Artinya, mereka menolak mengikuti ayat-ayat Allah karena digelincirkan oleh urusan-urusan dunia yang rendah. “Lalu mereka menghalang-halangi dari jalan-Nya,” yakni mereka menghalangi kaum Mukmin untuk mengikuti kebenaran (al-haq). Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka kerjakan itu.
Al-Baqarah (2) ayat 41. Adapun pernyataan, “Janganlah kalian menjual ayat-ayat Allah dengan harga sedikit,” artinya janganlah kalian menukar keimanan kepada ayat-ayat-Ku dan pembenaran atas Rasul-Ku ini dengan dunia dan segala daya tariknya. Sebab, semua itu sedikit lagi fana. Sebagaimana yang disebutkan oleh al-Hasan al-Bashri, ‘harga sedikit’ maknanya adalah dunia dan segala isinya, sedangkan menurut Sa‘ad bin Jubair, ‘dunia dan segala daya tariknya’. Berkenaan dengan firman Allah, “Hanya kepada-Ku-lah hendaknya kalian bertakwa,” arti takwa adalah engkau melakukan ketaatan kepada Allah dengan mengharap rahmat Allah di atas cahaya Allah serta meninggalkan kemaksiatan kepada-Nya di atas cahaya-Nya karena takut akan siksaan-Nya. Kalimat tersebut juga berarti bahwa Allah Swt. mengancam mereka atas kesengajaan mereka menyembunyikan kebenaran dan memunculkan hal-hal yang bertentangan dengan kebenaran tersebut serta menyalahi Rasulullah saw.

Renungan

Pengalaman menunjukkan bahwa pada saat-saat pemilihan umum (Pemilu) sering ayat-ayat al-Quran disajikan. Jika penyajian tersebut dalam rangka menjelaskan hukum dan upaya untuk memperjuangkannya untuk diterapkan di tengah kehidupan, maka hal tersebut merupakan tuntutan Islam. Akan tetapi, sayangnya, banyak ayat-ayat tersebut sekadar untuk meraih dukungan, disajikan dalam konteks perolehan suara, dan setelah itu selesailah sudah.
Keluarlah ayat bahwa kalimat yang baik laksana pohon yang baik (seperti disitir dalam QS Ibrahim [14]: 24) untuk mempromosikan lambang partainya yang berbentuk pohon. Diungkaplah pernyataan umat Nabi Musa dalam QS al-Maidah [5] ayat 24, “Pergilah engkau bersama Tuhanmu, berperanglah kalian berdua, kami di sini cukup duduk saja,” untuk melegalisasi keikutsertaan dalam sistem kufur dan menyindir orang yang tidak mau terlibat dalam sistem tersebut. Juga, dieksploitasilah ayat-ayat syura (seperti dalam QS Ali Imran [3]: 159 dan QS asy-Syura [42]: 38) dengan menyatakan bahwa syura adalah demokrasi—dalam rangka melegalkan sistem demokrasi dan meraih dukungan bagi partainya. Banyak lagi ayat-ayat al-Quran yang bertebaran saat Pemilu, yang sayangnya jauh dari pengertian sesungguhnya, dan tampak dipaksakan hanya sekadar untuk meraih dukungan.
Wahai kaum Muslim, waspadalah, jangan sampai terjerumus pada katagori, “menjual ayat-ayat Allah dengan harga murah!” [] [khoirunnisa-syahidah.blogspot.com]




Catatan Kaki:
[i] Al-‘Alâmah Jalâluddin Muhammad bin Ahmad al-Mahalliy dan Asy Syaikh al-Mutabahhir Jalâluddin Abdurrahman bin Abi Bakar as-Suyûthi, Tafsîr Jalâlain. t.t.. Dar al-Hadits, Kairo. Jilid I, hlm. 241.

[ii] Muhammad bin Ahmad bin Abu Bakar bin Farah al-Qurthubiy Abu Abdillah, Tafsîr al-Qurthubi. 1372 H. Dar asy-Sya’bi, Kairo. Jilid 8, hlm. 80 dan Juz I, hlm. 334–335.

[iii] Muhammad bin Jarîr bin Yazîd bin Khâlid ath-Thabari Abu Ja’far, Tafsîr ath-Thabari. 1405 H. Dar al-Fikr, Beirut. Jilid 00, hlm. 86 dan Jilid I, hlm. 253.

[iv] Isma’il bin Umar bin Katsîr ad-Dimsyâqi Abu Fida, Tafsîr Ibnu Katsîr. 1401 H. Dar al-Fikr, Beirut. Jilid IV, hlm. 341 dan Jilid I, hlm. 107-108. [khoirunnisa-syahidah.blogspot.com]
Title: ..**Menjual Ayat-ayat Allah (Tafsir QS at-Taubah : 9)**..
Posted by:Yulia Nisa
Published :2011-06-16T14:42:00+07:00
Rating: 5
Reviewer: 564953 Reviews
..**Menjual Ayat-ayat Allah (Tafsir QS at-Taubah : 9)**..
Tags: Tafsir

Artikel Terkait

0 komentar

Leave a Reply

Hak Cipta Hanya Milik Allah SWT, Menyadur dan Menyebarkan isi Website ini Sangat di anjurkan - Web Desain by jawara web | seacrh engine | butik muslim | situs islam | islamic wallpaper | situs berita global