Guest Book

powered by Is Banned ???

You Are Here: Home - Analisis - Benarkah Indonesia Sudah Bangkit ?


302283_143781252394818_137347889704821_158088_2136814108_n.jpg (1148×720)
Seperti biasa pada tiap masuk pada bula Mei Negara Indonesia selalu memperingati Hari Kebangkitan Nasional (HARKITNAS). Dan tepat pada tanggal 20 mei 2012, Indonesia sudah memperingati hari kebangkitan nasional ini yang ke 104 tahun. Dalam hal memperingati HARKITNAS tersebut, setidaknya memunculkan dua pertanyaan mendasar bagi kita, yakni :
  1. Siapa atau Gerakan manakah yang mempelopori tonggak dasar kebangkitan tersebut bagi bangsa Indonesia?, dan
  2. Benarkah bangsa Indonesia ini sudah benar-benar bangkit?
Dalam buku-buku sejarah yang diajarkan kepada kita sejak kita duduk di bangku sekolah dasar, menginjak ke sekolah menengah pertama, sekolah menengat atas hingga ke perguruan tinggi pemikiran kita sudah di doktrin bahwa gerakan sosial yang bernama BUDI UTOMO. Sebuah gerakan yang didirikan oleh Dr. Sutomo dan para mahasiswa STOVIA yaitu Goenawan Mangoenkoesoemo dan Soeraji pada tanggal 20 Mei 1908. Digagaskan oleh Dr. Wahidin Sudirohusodo. Organisasi ini bersifat sosial, ekonomi, dan kebudayaan tetapi tidak bersifat politik. Maka setiap tanggal 20 Mei, selalu diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional.
Namun kita juga dikejutkan dengan adanya gugatan terhadap peran dan posisi Boedi Oetomo. Sebagian menilai, kelahiran organisasi Boedi Oetomo pada tanggal 20 Mei 1908 lalu sesungguhnya amat tidak patut diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional, karena organisasi ini mendukung penjajahan Belanda, sama sekali tidak pernah mencita-citakan Indonesia merdeka, a-nasionalis, anti agama, dan bahkan sejumlah tokohnya merupakan anggota Freemasonry Belanda (Vritmejselareen).
Lebih jauh mereka menilai, dipilihnya tanggal 20 Mei sebagai Hari Kebangkitan Nasional, sesungguhnya merupakan suatu penghinaan terhadap esensi perjuangan merebut kemerdekaan yang diawali oleh tokoh-tokoh Islam. Sarekat Islam (SI) yang lahir 3 tahun terlebih dahulu dari Boedi Oetomo (BO), yakni pada tahun 1905, yang jelas-jelas bersifat nasionalis, menentang penjajah Belanda, dan mencita-citakan Indonesia merdeka, lebih tepat dijadikan tonggak kebangkitan nasional. Karena itu, sejarah kebangkitan nasional yang selama ini mendasarkan pada peran Boedi Oetomo harus dipertanyakan kembali.
. Pelaku dan penulis sejarah, KH Firdaus AN mengungkapkan “…Boedi Oetomo adalah organisasi sempit, lokal dan etnis, dimana hanya orang Jawa dan Madura elit yang boleh menjadi anggotanya. Orang Betawi saja tidak boleh menjadi anggotanya.”
Selanjutnya Firdaus AN mengungkapkan, perkumpulan Boedi Oetomo dipimpin oleh para ambtenaar, yakni para pegawai negeri yang setia terhadap pemerintah kolonial Belanda. Boedi Oetomo pertama kali diketuai oleh Raden T. Tirtokusumo, Bupati Karanganyar kepercayaan Belanda, yang memimpin hingga tahun 1911. Kemudian dia diganti oleh Pangeran Aryo Notodirodjo dari Keraton Paku Alam Yogyakarta yang digaji oleh Belanda dan sangat setia dan patuh pada induk semangnya.
Selain itu, Firdaus AN memaparkan bahwa dalam rapat-rapat perkumpulan dan bahkan di dalam penyusunan anggaran dasar organisasi, Boedi Oetomo menggunakan bahasa Belanda, bukan bahasa Indonesia.
Karena itu, lanjut Firdaus, Boedi Oetomo tidak memiliki andil sedikit pun untuk perjuangan kemerdekaan, karena mereka para pegawai negeri yang digaji Belanda untuk mempertahankan penjajahan yang dilakukan tuannya atas Indonesia, dan Boedi Oetomo tidak pula turut serta mengantarkan bangsa ini ke pintu gerbang kemerdekaan, karena telah bubar pada tahun 1935.
Oleh karena itu, sangat tidak tepat dan tidak layak jika gerakan Boedi Oetomo ini dijadikan sebagai gerakan yang menjadi pencetus atau pelopor kebangkitan nasional bangsa Indonesia. Maka jika gerakan ini bukan pencetusnya,maka siapa atau gerakan manakah yang layak dan patus dijadikan icon untuk kebangkitan tersebut?Untuk menjawab pertanyaan tersebut, maka kita harus melihat gerakan-gerakan yang ada pada waktu itu.
Sejarah telah mencatat bahwa 3 tahun sebelum berdirinya Boedi Oetomo, sudah ada gerakan yang berdiri, yakni Sarekat Dagang Islam (SDI) yang dikemudian waktu berubah menjadi Sarekat Islam (SI). Jika Boedi Oetomo berdiri pada 20 mei 1908, maka Sarekat Dagang Islam berdiri pada 16 Oktober 1905 yang didirikan oleh H Samanhudi—seorang saudagar Muslim di Solo. SDI berawal dari dominasi pedagang-pedagang nonpribumi yang menguasai perdagangan pribumi sehingga organisasi ini ingin menghalau perdagangan yang tidak sehat itu. Pedagang pribumi menjadi korban penguasaan para pedagang nonpribumi. Mereka terus bercokol dalam perdagangan dan bersaing dengan para pedagang pribumi.
Jika kepengurusan atau anggota yang tergabung di dalam Boedi Oetomo hanya boleh berasal dari suku jawa dan Madura saja yang mana itu bermakna sukuisme tidak berskala nasional, maka gerakan sarekat Dagang Islam sebaliknya. Haji Samanhudi dan HOS Tjokroaminoto berasal dari Jawa Tengah dan Timur, Agus Salim dan Abdoel Moeis dari Sumater Barat, dan AM. Sangaji dari Maluku. Sifat menasional Sarekat Islam juga tampak dari penyebarannya yang menyentuh hingga kepelosok-pelosok desa. Tahun 1916, tercatat 181 cabang SI di seluruh Indonesia dengan tak kurang dari 700.000 orang tercatat sebagai anggotanya. Tahun 1919 melonjak drastis hingga mencapai 2 juta orang. Sebuah angka yang fantastis kala itu. Sebaliknya, Boedi Oetomo pada masa keemasannya saja hanya beranggotan tak lebih dari 10.000 orang.
Adanya faktor Islam inilah yang membuat Sarekat Islam lebih progresif, tidak terbatas pada kelompok tertentu, dan menginginkan adanya kemajuan bagi seluruh rakyat. Salah satu misi pembentukan Sarekat Islam, seperti dirumuskan oleh Tirtoadisuryo ialah, “Tiap-tiap orang mengetahuilah bahwa masa yang sekarang ini dianggap zaman kemajuan. Haruslah sekarang kita berhaluan: janganlah hendaknya mencari kemajuan itu cuma dengan suara saja. Bagi kita kaum muslimin adalah dipikulkan wajib juga akan turut mencapai tujuan itu, dan oleh karena itu, maka telah kita tetapkanlah mendirikan perhimpunan Sarekat Islam.” (Deliar Noer, Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942. Jakarta: LP3JS, 1982. Hal 116).
Berdasarkan alasan tersebut, tampak adanya sikap kepeloporan perubahan dan perbaikan bagi seluruh warga negara yang lebih merakyat yang didorong atas keyakinan Islam. Cakupan kegiatan Sarekat Islam yang meliputi seluruh rakyat Indonesia juga tampak dalam tujuan organisasi tersebut yang termaktub dalam anggaran dasarnya.
Organisasi ini berkembang dengan cepat di daerah-daerah lain di Jawa, bahkan organisasi ini menyebar juga ke luar Jawa, seperti di Sumatera Selatan.
Jelas tampak adanya perbedaan mendasar antara Boedi Oetomo yang hanya berjuang untuk kelompok kecil priyayi di Jawa dengan Sarekat Islam yang berjuang untuk seluruh rakyat. Dengan menjadikan Islam sebagai dasar perjuangan, tampak pula bahwa SI sesungguhnya merupakan pelopor yang sebenarnya dari sebuah kebangkitan yang bersifat nasional.
Oleh karena nya, sejarah haruslah di tulis ulang, dengan semangat rasa kejujuran dan kebangkitan bahwa seharusnya yang dijadikan dasar sebagai hari kebangkitan nasional adalah tanggal 16 oktober sebagai hari berdirinya Sarekat Dagang Islam, bukan tanggal 20 Mei yakni hari berdirinya Boedi Oetomo.
Itu jawaban dari pertanyaan Siapa atau Gerakan manakah yang mempelopori tonggak dasar kebangkitan tersebut bagi bangsa Indonesia? Dan sekarang kita akan menjawab pertanyaan kedua yakni Benarkah bangsa Indonesia ini sudah benar-benar bangkit?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, sebenarnya ada banyak factor yang bisa dijadikan tolak ukur. Namun karena yang dipertanyakan adalah tentang sebuah bangsa, dalam hal ini adalah bangsa Indonesia, maka untuk menjawab nya, kita bisa melihat realitas Negara dan bangsa Indonesia itu sendiri.
Tahun ini, atau tepatnya pada 20 Mei 2012 nanti, kembali bangsa ini memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Itu artinya, kalau di hitung dari hari lahirnya Boedi Oetomo pada 20Mei 1908 yang dijadikan dasar berpijak pada peringatan tersebut, maka berarti sudah sekitar 1 abad lebih atau sekitar 104 tahun peringatan ini dilakukan.
Kemudian kalau kita kaitkan dengan peringatan hari Proklamasi kemerdekaan NKRI yakni pada 17 Agustus 1945, berarti Negara ini sudah merdeka lebih dari 66 tahun, atau nanti pada tanggal 17 Agustus 2012 tepat pada peringatan hari kemerdekaan yang ke 67 tahun.
Kalau saja Negara dan bangsa Indonesia ini kita ibaratkan sebagai sebuah perusahaan, maka sungguh usia 104 tahun bagi sebuah perusahaan tentu bukan usia yang muda. Perusahaan dengan usia yang demikian tua menandakan telah mempunyai pengalaman yang sangat cukup untuk mempertahankan keberadaan diri (survive) dan mengembangkan usahanya. Bahkan peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia di tahun 2012 ini baru berumur 67 tahun, sehingga bangsa Indonesia sudah mulai bangkit jauh-jauh hari sebelum menyatakan kemerdekaannya (1908 - 1945).
Tentu saja perusahaan yang bertahan hingga usianya 100 th mempunyai karyawan yang loyal karena kesejahteraannya menjadi salah satu hal penting yang diperhatikan pihak manajemen perusahaan.
Namun ternyata usia yang lama tersebut tidaklak menjadi jaminan. Kita bisa melihat realitas yang terjadi pada bangsa ini Indonesia memang mengalami “kebangkitan” dan kita yang tinggal di Negara ini harus mengakui kebangkitan tersebut. Apa sajakah kebangkitan tersebut? Mari kita lihat.
Kebangkitan Angka Kemiskinan
Dalam rapat pembahasan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2012 di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (15/9), Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Rusman Heriawan menyampaikan fakta menarik terkait perkembangan angka kemiskinan Indonesia, yakni bertambahnya jumlah penduduk hampir miskin sebanyak 5 juta jiwa pada tahun 2011.
Pertambahan sebesar 5 juta jiwa ini berasal dari 1 juta penduduk miskin yang naik status menjadi hampir miskin dan 4 juta penduduk tidak miskin yang turun status menjadi hampir miskin.
BPS mencatat, selama tiga tahun terkahir, jumlah penduduk hampir miskin terus bertambah secara konsisten. Pada tahun 2009, jumlah penduduk hampir miskin berjumlah 20,66 juta jiwa atau sikitar 8,99 persen dari total penduduk Indonesia. Pada tahun 2010, jumlahnya bertambah menjadi 22,9 juta jiwa atau 9,88 persen dari total penduduk Indonesia. Dan tahun ini, jumlah penduduk hampir miskin telah mencapai 27,12 juta jiwa atau sekitar 10,28 persen dari total populasi.
Data tersebut adalah data rakyat yang hampir miskin, belum data yang memang berbicara tentang masyarakat yang sudah miskin, dengan naik nya harga BBM kelak, dapat dipastikan kemiskinan akan kian meningkat.
Menteri Keuangan Agus Martowardojo memprediksi kenaikan bahan bakar minyak bersubsidi akan menyebabkan kenaikan tingkat kemiskinan menjadi 12,8 persen. Angka ini jauh lebih tinggi dari target pemerintah 10,5 - 11 persen pada 2012.
"Ini karena program kenaikan BBM yang menyebabkan inflasi pada Maret," ujar Menteri Keuangan Agus Martowardojo di DPR, Jakarta, Senin 12 Maret 2012. Sehingga semakin banyak orang yang kelaparan, menderita gizi buruk, PHK di mana-mana.
Kebangkitan Angka Pengangguran
Angka pengangguran juga masih tinggi. Menurut Kepala BPS Rusman Heriawan, angka pe ng angguran Indonesia pada Feb ruari 2011 mencapai 8,1 juta orang atau 6,8 % dari total angkatan kerja 119,4 juta orang (Rakyatmerdekaonline, 6/5). Angka yang digunakan BPS itu tidak mencerminkan tingkat kesejahteraan riil di masyarakat. Karena faktanya pekerja dengan penghasilan minim dan pekerja dengan jumlah jam kerja di bawah standar tidak dianggap sebagai pengangguran. LIPI mencatat jumlah orang yang yang setengah menganggur yaitu yang bekerja kurang dair 35 jam perminggu pada tahun 2010 mencapai 32,8 juta orang. Pada tahun 2011diperkirakan meningkat menjadi 34,32 juta orang.
Kebangkitan Angka Kebodohan
Mengutip data Kemendikas pada 2010, ketua PA Arist Merdeka Sirait menyebutkan, masih terdapat 11,7 juta anak usia sekolah yang belum tersentuh pendidikan (Republika, 25/7). Dan diperkirakan 4,7 juta siswa SD dan SMP yang tergolong miskin terancam putus sekolah (Republika, 26/7). Itu artinya setelah 66 tahun merdeka masih ada hampir 16 juta anak yang tidak bisa merasakan pendidikan sampai SMP.
Kebangkitan harga-harga
Dengan alasan penghematan, pencabutan subsidi, naiknya harga minyak dunia, maka harga-harga pun segera bangkit naik, mulai dari rencana naiknya harga BBM setelah sebelumnya ditunda tidak naik pada April 2012 lalu, tarif tol, tarif listrik progresif yang mana Tarif Dasar Listrik atau TDL akan dinaikan tahun 2013 nanti yang semuanya semakin menyengsarakan rakyat.
Kebangkitan Angka Utang Luar Negeri
Total utang pemerintah Indonesia hingga Maret 2012 mencapai Rp 1.859,43 triliun, naik Rp 55,94 triliun dari posisi di akhir 2011 yang nilainya Rp 1.803,49 triliun. Secara rasio terhadap PDB, utang pemerintah Indonesia berada di level 25,7% pada Maret 2012.
Jika dihitung dengan denominasi dolar AS, jumlah utang pemerintah di Maret 2012 mencapai US$ 202,55 miliar jumlah ini naik dari posisi di akhir 2011 yang mencapai US$ 198,89 miliar.
Demikian data Ditjen Pengelolaan Utang Kemenkeu yang dikutip detikFinance, Selasa (25/4/2012).
Utang pemerintah tersebut terdiri dari pinjaman Rp 612,77 triliun dan surat berharga US$ 1.246 triliun. Jika menggunakan PDB Indonesia yang sebesar Rp 7.226 triliun, maka rasio utang Indonesia per Februari 2012 Maret sebesar 25,7%.
Sementara rincian pinjaman yang diperoleh pemerintah pusat hingga akhir Maret 2012 adalah:
  • Bilateral: Rp 370,42 triliun
  • Multilateral: Rp 25,36 triliun
  • Komersial: 215,44 triliun
  • Supplier: Rp 450 miliar
  • Pinjaman dalam negeri Rp 1,11 triliun
  • Sementara total surat utang yang telah diterbitkan oleh pemerintah sampai Maret 2012 mencapai 1.246,66 triliun. Naik dibandingkan posisi di akhir 2011 yang sebesar Rp 1.859,43 triliun.
Berikut catatan utang pemerintah pusat dan rasionya terhadap PDB sejak tahun 2000:
  • Tahun 2000: Rp 1.234,28 triliun (89%)
  • Tahun 2001: Rp 1.273,18 triliun (77%)
  • Tahun 2002: Rp 1.225,15 triliun (67%)
  • Tahun 2003: Rp 1.232,5 triliun (61%)
  • Tahun 2004: Rp 1.299,5 triliun (57%)
  • Tahun 2005: Rp 1.313,5 triliun (47%)
  • Tahun 2006: Rp 1.302,16 triliun (39%)
  • Tahun 2007: Rp 1.389,41 triliun (35%)
  • Tahun 2008: Rp 1.636,74 triliun (33%)
  • Tahun 2009: Rp 1.590,66 triliun (28%)
  • Tahun 2010: Rp 1.676,15 triliun (26%)
  • Tahun 2011: Rp 1.803,49 triliun (25%)
  • Maret 2012: Rp 1.859,43 triliun (25,7%)
Kebangkitan Perlawanan
Sepanjang tahun 2012 sejak januari hingga April 2012 kita tentu sudah tidak asing lagi dengan aksi-aksi demontrasi yang dilakukan oleh beberepa elemen ORMAS maupun ORPOL kepada pemerintah. Tentu aksi tersebut berlatar belakang pada ungkapan rasa protes terhadap ketidakadilan. Negara yang sudah bangkit sejak 104 tahun yang lalu, sudah merdeka lebih dari 66 tahun yang mana sebentar lagi akan menjadi 67 tahun pada 17 Agustus 2012 nanti tidak bisa mensejahterakan warga Negara nya. Kenapa bisa demikian?
Jawaban nya tidak lain adalah karena system yang diterapkan bukanlah system yang baik, system yang digunakan adalah system buatan manusia, yang mana manusia adalah makhluk yang serba lemah, serba terbatas dan serba kekurangan, maka tidak layak dan tidak tepat jika manusia membuat aturan tersebut.
Aturan yang baik yang akan menciptakan kesejahteraan dan keadilan bagi manusia haruslah berasal dari dzat yang maha baik, dan di alam semesta ini tidak ada dzat yang maha baik kecuali Allah swt.
Allah swt yang menciptakan manusia, alam semesta dan kehidupan, maka hanya Allah swt sajalah yang mengetahui apa yang diperlukan oleh manusia selama tinggal di dunia ini. Ketika Allah swt menciptakan alam semesat berserta isinya,maka Allah swt juga menurunkan seperangkat aturan untuk mengatur kehidupan manusia di dunia ini. Itulah syariah Islam.
Allah swt yang telah menurunkan syari’at Islam kepada Rasulullah SAW melalui malaikat Jibril as yang ditujukan untuk mengatur interaksi manusia dengan dirinya sendiri, mengatur interaksi manusia dengan sesamanya dan manusia dengan penciptanya. Inilah kesempurnaan Islam sebagai agama sekaligus sebagai sebuah ideology.
Kesempurnaannya sebagai sebuah sistem hidup dan sistem hukum meliputi segala perkara yang dihadapi oleh umat manusia. Firman Allah Swt:
“Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu..” (TQS. An-Nahl [16]: 89)
Ini berarti, perkara apapun ada hukumnya, dan problematika apa saja, atau apapun tantangan yang dihadapi kaum Muslim, akan dapat dipecahkan dan dijawab oleh Dinul Islam.
Dan pelaksaan hukum syariat Islam tersebut akan dilakukan oleh seorang khalifah yang menjabat sebagai kepala Negara pada system khilafah.
Dengan khilafah maka syari’at islam akan tegak dibumi ini. Asy-syatibi dalam Al-Muwaqat mengatakan bahwa hakikat diturunkan syari’at islam (maqashid asy-syari’ah) adalah untuk menjaga agama (hifzu al-din), menjaga jiwa (hifzu al-nafs), menjaga akal (hifzu al-’aql), menjaga harta (hifzu al-maal), dan menjaga keturunan (hifzu al-nasab)
Oleh karenanya mari kita menjadikan perjuangan penegakan syariah islam sebagai agenda utama, serta agenda perjuangan yang sungguh diperjuangkan dengan serius, karena daulah khilafah bukanlah sembarang daulah namun sebuah daulah yang memancarkan sistem hidup yang merupakan manifes dari aqidah islam yang terlahir dari proses berpikir yang cemerlang.
Wallahu A’lam bisshowab.
Adi Victoria, Aktivis Penegak Khilafah
Title: Benarkah Indonesia Sudah Bangkit ?
Posted by:Yulia Nisa
Published :2012-05-20T19:29:00+07:00
Rating: 5
Reviewer: 564953 Reviews
Benarkah Indonesia Sudah Bangkit ?
Tags: Analisis

Artikel Terkait

0 komentar

Leave a Reply

Hak Cipta Hanya Milik Allah SWT, Menyadur dan Menyebarkan isi Website ini Sangat di anjurkan - Web Desain by jawara web | seacrh engine | butik muslim | situs islam | islamic wallpaper | situs berita global