Guest Book

powered by Is Banned ???

You Are Here: Home - Motivasi , Muslimah , Nafsiyah - Kekuatan Cinta


sms-cinta-sms-romantis-sms-rayuan-sms-gombal.jpg (450×309)
          Pak Odih, seperti biasa terkulai lemah. Tubuhnya yang kecil, kurus dan rapuh tak kuasa lagi ia tegakkan. Ia hanya bisa terbaring lemah tak berdaya. Jangankan untuk duduk sendiri, untuk sekedar menggerakkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan di pembaringan, ia sudah tak kuasa. Bahkan untuk sekedar mengangkat kepalanya, atau menggerakkan jari-jemarinya, ia sudah tidak memiliki tenaga. Yang masih ia lakukan adalah menggerakkan bola matanya serta berbicara dengan amat lirih.
          Pak Odih-yang sebagian ruangan rumahnya dijadikan majelis talkim yang rutin setiap pekan saya isi –menjalani kehidupan semacam itu lebih dari 20 tahun! Tepatnya, saat tiba-tiba dia di serang dengan penyakit aneh. Penyakit itu tiba-tiba melumpuhkan seluruh tubuhnxa, bahkan menjadikan tubuhnya yang semula gagah dan besar menjadi semakin mengecil dari tahun ke tahun. Hingga kini, tubuh tinggi  dan gagah 20 tahun ke belakang itu sudah tak kelihatan lagi. Yang tampak hanyalah Pak Odi yang bertubuh kecil,kurus dan ringkih.dengan tangan dan kaki yang juga kecil dan susut.
          Namun, dalam kondisi yang amat mengharukan  siapapun yang menyaksikannya, Pak Odih sesungguhnya tidak pernah kehilangan semangat hidup. Senyumnya selalu tersimpul saat siapapun datang untuk sekedar menengoknya. Ia pun tampak bahagia karena satu hal: kekuatan cinta sang istri kepadanya.
          Bu Atih, demikian yang biasa di panggil oleh para tetangganya, memang seorang istri yang luar biasa. Ia rela tetap menjadi istri yang setia bagi suaminya. Dengan penuh ke ikhlasan, ke sabaran dan rasa cintanya kepada Pak Odih , ia tidak pernah lelah mengurus dan melayani suaminya, mulai dari pagi sampai malam hari, dari membangunkan suaminya untuk shalat malam, lalu menggendongnya ke kamar mandi, memandikan sekaligus mengambil air wudhu dan me-wudhu’-kannya; mengganti pakaiannya dan menyiapkan tempat shalatnya di pembaringan:menyiapkan sarapan pagi sekaligus menyuapinya hingga memenuhi segala  kebutuhan suaminya sampai larut malam. Ia baru berhenti sampai suaminya tertidur. Ia melakukan itu setiap hari, sejak menjelang waktu subuh hingga malam hari,selama lebih dari 20 tahun.
          Padahal pada saat yang sama, Bu Atih harus berjualan sembari mengurus keempat anaknya sejak usia 4-8 tahun, sekarang alhamdulilah, ke empat anaknya itu sudah menjadi dewasa dan semuanya sudah berumah tangga.
          Siapapun tidak akan pernah bisa membayangkan bisa menjalani hidup seperti Pak Odih dan Bu Atih. Namun, dengan kekuatan cinta, semua itu toh bisa di jalani oleh ke duanya. Kekuatan cinta Bu Atih kepada suaminya mampu menjadikan dirinya selalu ikhlas, sabar dan tak mudah mengeluh dalam menjalani hidup bersama suaminya yang lumpuh itu. Begitupun Pak Odih, dengan kekuatan cinta sang istri, ia tetap memiliki kekuatan hidup, bahkan mereguk kebahagiaan, meski puluhan tahun di hinggapi ketakberdayaan.
          Para pengemban dakwah sejatinya bisa mengambil ‘ibrah (pelajaran) dari fragmen kehidupan kedua insan ini. Bagaimana kekuatan cinta ini bisa menjadi energi yang luar biasa bagi seseorang yang untuk bisa tetap mengarungi hidup yang tak selalu indah dalam bayangan. Hal ini bisa kita terapkan dalam kehidupan dakwah kita. Dalam arti, hendaklah dalam setiap pengemban dakwah menumbuhkan, memelihara dan terus mengembangkan rasa cinta terhadap dakwah ini, yang sesungguhnya merupakan wujud cinta kita pada islam  dan kepada umat ini. Dengan kekuatan cinta yang kita miliki terhadap islam dan umat ini, kita akan selalu ikhlas, sabar dan tidak mudah putus asa saat di hadapkan dengan berbagai rintangan dan halangan dakwah . itulah  juga yang sesungguhnya di tunjukan oleh Rasulullah Saw dan para sahabat serta para generasi shalafush-shalih setelah merdeka.
          Rasa cinta yang begitu besar terhadap islam dn umat inilah yang menjadikan Rasulullah saw memiliki tekad  yang kuat, ke ikhlasan, kesabaran dan ke istiqamahan dalam mendakwahi kaumnya selama 23 tahun! Padahal untuk itu beliau tidak jarang harus berhadapan dengan penderitaan  hidup serta kekerasan dan kekejaman kaumnya. Dihina, di caci-maki, di tuduh gila, di lempari kotoran dan batu, di boikot, bahkan di ancam untuk di bunuh adalah hal yang di alami Rasul sepanjang perjalanan dakwahnya. Hal itu sering beliau alami selama 13 tahun dalam periode dakwahnya di Makkah.
          Hal yang sama di alami oleh para Sahabat yang memang sejak awal bertekad untuk terus mengikuti jejak dakwah Rasul yang penuh bahaya dan bisa mengancam jiwa. Bilal bin Rabbah bisa dengan tegar mengucapkan kata, “Ahad! Ahad! Ahad!” sekaligus bertahan saat di baringkan oleh orang-orang kafir dalam keadaan tak berbaju di atas padang pasir yang amat panas dan sengatan sinar matahari yang membakar; lalu di himpit dengan batu besar dan terus-menerus di cambuk. Abu Dzar al-Ghifari rela di keroyok , di tendang dan di pukuli oleh orang-orang kafir hingga terluka parah saat mengumandangkan syahadat di tengah-tengah mereka. Bukannya kapok , hal yang sama ia lakukan ke esokan harinya meski untuk itu ia pun kembali di keroyok, di tendang dan di pukuli. Khabbab bin al-Art pernah rela di seret di atas timbunan bara api hingga lemak dan darah yang mengalir dari badannya memadamkan bara api tersebut.  Siksaan yang tak kalah keji di alami pula oleh Amar bin Yasir dan kedua orang tuanya hingga ke duanya syahid di jalan Allah.
          Gambaran di atas hanyalah secuil kisah yang menunjukan betapa karena kecintaan para sahabat yang demikian kuat kepada islam dan umatnya, mereka mampu bertahan dalam menghadapi segala macam tantangan dakwah. Dengan kekuatan cinta itu pula mereka selalu ikhlas, sabar dan tetap istiqamah di dalam dakwah.
          Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita benar-benar mencintai islam dan umatnya secara tulus? Sudahkah kita benar-benar memiliki rasa cinta yang besar dan kuat terhadap dakwah ini?
          Tentu, pertanyaan-pertanyaan itu tak perlu kita jawab secara lisan. Yang lebih penting, mari kita buktikan klaim cinta kita itu-cinta pada dakwah. Islam dan umatnya-dalam kenyataan. Caranya adalah dengan tetap ikhlas dalam dakwah;terus bersemangat di dalamnya; senantiasa sabar dan tabah dalam  menghadapi berbagai tantangannya; selalu siap sedia menjalankan taklif-taklif dakwah; tetap istiqamah; serta selalu rela berkorban  apa saja demi dan untuk dakwah!.
          Wa ma tafqihi illa billah wa ‘alayhi tawakkaltu wa ilayhi unib.  
[Arief B. Iskandar/[khoirunnisa-syahidah.blogspot.com] 
Title: Kekuatan Cinta
Posted by:Yulia Nisa
Published :2012-05-15T21:02:00+07:00
Rating: 5
Reviewer: 564953 Reviews
Kekuatan Cinta

Artikel Terkait

0 komentar

Leave a Reply

Hak Cipta Hanya Milik Allah SWT, Menyadur dan Menyebarkan isi Website ini Sangat di anjurkan - Web Desain by jawara web | seacrh engine | butik muslim | situs islam | islamic wallpaper | situs berita global