Guest Book

powered by Is Banned ???

You Are Here: Home - Khilafah , Motivasi - Keyakinan Pejuang Khilafah akan Manhaj Rasulullah saw.


Allah swt. berfirman,
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An Nur: 55)

Rasulullah saw. bersabda,
“Dahulu, urusannya bani Israil diatur oleh para Nabi. Setiap kali Nabi tersebut meninggal (binasa) seketika digantikan oleh Nabi lainnya. Sesungguhnya tidak ada lagi Nabi sesudahku. Dan kelak (sepeninggalku yang mengatur/memelihara) adalah para Khulafa yang jumlah mereka itu banyak. Ditanyakan (oleh para sahabat): ‘Apa yang engkau perintahkan kepada kami?’ Dijawab: ‘Bai’atlah (Khalifah) yang pertama dan yang pertama. Dan serahkanlah kepada mereka hak-hak mereka, karena sesungguhnya Allah akan menanyai mereka atas apa yang menjadi urusan (dan tanggung jawab) mereka’.” (HR. Muslim)

Perjuangan penegakan khilafah, memang sangat sulit. Perjuangan menegakkan kembali khilafah rasyidah tidak akan terlepas dari berbagai tantangan, rintangan, hambatan, dan ancaman yang setiap saat datang di hadapan kita. Namun demikian, kita tidak boleh berputus asa dan menjadi orang-orang yang ‘terbeli’ dalam perjuangan ini. Kita tidak boleh berputus asa, sekali pun kaum kafir dan orang-orang sekuler berusaha membeli kita dengan berbagai kenikmatan duniawi dan mereka selalu berusaha menghalangi jalan kita. Sekali lagi, kita tidak boleh terbeli!!

Khilafah adalah sebuah cita-cita besar yang harus diperjuangkan, karena dengan itulah kaum muslimin akan meraih kemuliaan, hudud ditegakkan, syariat diterapkan, jihad untuk menyebarkan rahmat Allah dilangsungkan, dan berbagai kebaikan-kebaikan akan disebar ke seluruh penjuru bumi. Semakin besar cita-cita yang kita perjuangkan, maka hambatan, rintangan, tantangan, serta ancaman yang datang pun akan semakin besar. Oleh karena itu, dibutuhkan keyakinan yang kuat untuk bisa memperkokoh semangat itu hingga berbagai penghalang tidak akan mudah menembus jantung-jantung perjuangan para pejuang.

Lemahnya semangat para pejuang, bisa jadi disebabkan oleh sikap mereka yang (mungkin) tidak yakin atas apa yang diperjuangkan dan metode yang dijalankan. Bisa jadi, para pejuang itu lemah, karena mereka tidak yakin bahwa kemuliaan Islam itu hanya dengan tegaknya negara khilafah Islam. Bisa jadi pula, para pejuang itu lemah, karena mereka memang tidak yakin dengan metode perjuangan yang sedang dijalaninya. Lemahnya semangat pejuang, kadang-kadang juga disebabkan karena mereka merasa sempit rezekinya. Mereka merasa penghidupan mereka sulit jika menjadi seorang pejuang. Sehingga mereka pun mudah berputus asa dan mudah terbeli atas kondisi yang ada.

Kita harus menyadari bersama bahwa sulitnya perjuangan meraih sesuatu, tidak ada kaitannya dengan ‘keberadaan’ sesuatu yang ingin diraih. Bagi seorang siswa, menjadi juara kelas, itu memang tidak mudah. Tetapi bukan hal yang tidak mungkin untuk diwujudkan. Lihatlah orang-orang di sekeliling kita. Untuk bisa duduk di kursi parlemen, memang sangat sulit. Tetapi bukan berarti tidak bisa. Semua tinggal usahanya. Ada yang menyogok sana sini, ada pula yang money politics. Untuk menjadi partai pemenang pemilu yang menguasai legislatif, memang sangat sulit. Tetapi bukan tidak mungkin diwujudkan. Mungkin dengan merekrut orang kafir, menanggalkan ideologi partai, dan menjadi partai terbuka, akan bisa membawa pada suara yang besar dan meraih suara kuat di parlemen. Jadi, segala sesuatu yang sulit dicapai, belum tentu sesuatu itu tidak bisa diraih, apalagi dikatakan mustahil atau dikatakan tidak ada.

Jika kita berbicara tentang negara khilafah, sebuah cita-cita besar kaum muslimin yang ingin diraih, maka hal ini pun tidak akan terlepas dari berbagai kesulitan yang datang menghadang. Tetapi bukan berarti perjuangan ke arah sana kemudian dikatakan tidak bisa atau mustahil. Kita yakin untuk bisa menjadi orang yang berprestasi di lingkungan kerja atau masyarakat itu bisa kita raih, oleh karena itulah ada usaha untuk meraihnya. Termasuk juga, jika kita memang yakin bahwa kemuliaan Islam dan kaum muslimin hanya dengan tegaknya khilafah, maka kita pun pasti akan memiliki usaha untuk menuju ke sana.

Dr. Aunur Rafiq Al Amin dalam sebuah disertasinya di IAIN Sunan Ampel Surabaya yang berjudul Membongkar Proyek Khilafah ala Hizbut Tahrir di Indonesia, menyatakan bahwa ide menegakkan negara khilafah yang notabene adalah persatuan umat, adalah sebuah ide yang konyol dan utopia. Artinya, ide menegakkan kembali negara khilafah Islam adalah ide yang mustahil dan tidak mungkin bisa diraih, atau bahkan bisa dikatakan negara khilafah yang dipenuhi dengan kebaikan itu adalah negara utopia (mustahil adanya). 

Asumsi orang mengatakan bahwa khilafah gagasan utopia adalah bahwa umat Islam telah terpecah belah dalam berbagai mazhab dan golongan. Umat yang satu sering bertikai dengan umat Islam yang lain dalam segala hal. Ini menjadi penghalang bersatunya kaum muslim dari sisi internal. Sedangkan dari sisi eksternal, upaya yang dilakukan orang Barat dalam membendung gerakan penegakan khilafah sangat besar. Sehingga, segala upaya yang dilakukan Barat tidak akan pernah berhenti untuk menghalangi tegaknya negara yang mempersatukan umat Islam.

Namun, benarkah bahwa tegaknya negara khilafah itu benar-benar tidak akan bisa dicapai oleh kaum muslim? Saya akan memberikan ilustrasi aksiomatis yang akan membantah hal tersebut, yaitu bahwa sesuatu yang tidak terindera bukan berarti tidak ada keberadaannya. Apalagi berkuasanya kaum muslimin di dunia adalah suatu janji Allah sebagaimana terdapat dalam QS. An Nur: 55 di atas. Sebagaimana hari kiamat, janji Allah itu memang sesuatu hal yang gaib untuk saat ini. Tetapi sekali-kali janji Allah itu nyata dan Allah Maha Menepati Janji. Allah berfirman,
“Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syaitan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah.” (QS. Fathir: 5)

Analoginya begini:
Misalnya Kakbah. Apakah Anda pernah melihat Kakbah secara langsung? Mungkin di antara Anda, sudah pernah ada yang pergi ke Makkah untuk berbagai tujuan, haji, umrah, study, atau bisnis. Maka Anda akan bisa melihat Kakbah secara langsung. Tetapi bagaimana dengan Anda yang belum pernah pergi ke sana? Mengapa Anda yang belum pernah pergi ke Makkah begitu yakin bahwa Kakbah itu benar-benar ada, sedangkan Anda tidak melihatnya dengan mata Anda sendiri?

Ya, kita memang yakin dengan seyakin-yakinnya. Saya termasuk orang yang yakin 100% bahwa Kakbah itu memang benar-benar ada. Keyakinan kita itu lebih didasarkan pada datangnya kabar kepada kita tentang Kakbah secara mutawatir. Jutaan orang yang datang berhaji atau orang yang telah melakukan Umrah di Makkah, telah menyaksikan sendiri Kakbah secara langsung. Mereka berasal dari seluruh penjuru dunia, dengan berbeda suku, bahasa, rasa, warna kulit, dan lain sebagainya. Mereka tidak saling kenal. Kalaupun ada, itu hanya beberapa.

Jutaan orang yang tidak saling kenal itu secara langsung mereka melihat wujud Kakbah yang dibangun oleh Nabi Ibrahim as. dan Nabi Ismail as. Mereka melihat sendiri wujudnya seperti kubus, dengan ditutup kain warna hitam. Di Kakbah juga ada Hajar Aswad, dan lain-lain yang menunjukkan ciri-ciri Kakbah. Jutaan orang itu melihat secara langsung dengan indra penglihatan mereka sendiri.

Pertanyaannya: mungkinkah orang yang sedemikian banyak dan tidak saling kenal itu bersepakat untuk berdusta atau berbohong tentang Kakbah? Apakah menurut Anda mungkin terjadi, mereka yang berhaji atau yang berumrah itu membuat kesepakatan untuk menceritakan yang tidak-tidak tentang Kakbah? Misalnya, Kakbah itu berbentuk bola, dengan kain penutup berwarna emas, dan ada cahaya lampu di atasnya. Mungkinkah demikian? Jelas tidak mungkin. Sebab, di antara mereka tidak ada yang saling mengenal. Namun kalau pun ada orang yang berdusta tentang Kakbah, tentu orang lain yang juga pernah naik haji pasti akan membantahnya habis-habisan.

Orang Islam Indonesia yang berhaji, akan mengatakan tentang Kakbah, sama dengan orang Islam Palestina yang juga beribadah haji. Orang Islam Malaysia, akan mengatakan sesuatu yang sama pula dengan yang dikatakan orang Islam dari Mesir tentang Kakbah. Orang Islam Amerika yang berhaji ke Makkah juga akan mengatakan sesuatu yang sama tentang Kakbah, sama persis dengan yang dikatakan rombongan haji dari Afrika. Semua sama. Begitu juga, ketika tetangga kita berangkat berhaji, kemudian kita diceritakan tentang Kakbah, hal itu sama dengan yang diceritakan oleh orang lain di lain tempat. Mungkin Anda memiliki saudara yang juga pernah naik haji. Apa yang dikatakan saudara Anda tentang Kakbah, pasti juga akan sama dengan apa yang dikatakan tetangga Anda. Padahal tetangga Anda dan saudara Anda mungkin tidak saling mengenal. Demikianlah. Keyakinan kita akan keberadaan Kakbah dibangun oleh suatu khabar (berita) yang mutawatir, yang benar-benar tidak akan pernah bisa disangkal. Dari semua ini, kita akan mengambil kesimpulan bahwa Kakbah: pasti ada!

Kemudian, jika kita sudah yakin bahwa Kakbah benar-benar ada, lalu Anda berpikir, bagaimana jalan yang harus ditempuh untuk sampai ke Kakbah? Jika demikian, maka kita akan bisa menemukan banyak sekali jalan untuk bisa sampai ke Kakbah. Tinggal kita mau memilih jalan yang mana.

Misalnya kita mau pergi ke Makkah untuk naik haji dan bisa menemukan Kakbah, kita mengikuti jalan yang ditempuh oleh Pak Ahmad. Jika kita benar-benar mengikuti dan menyusuri jalan Pak Ahmad, maka niscaya kita akan mendapati berbagai pengalaman dan pemandangan sebagaimana pengalaman dan pemandangan yang didapati Pak Ahmad. Misalnya, Pak Ahmad pergi naik haji dengan Shafa Karima Tour. Kemudian Pak Ahmad juga harus pergi ke Bandara Soekarno-Hatta terlebih dahulu, di sana ada bandara internasional yang besar, di bandara itu Pak Ahmad melihat hotel-hotel dan berbagai penginapan. Pak Ahmad pergi ke Makkah dengan pesawat Mandala Airlines. Pak Ahmad juga berbagai pelayanan-pelayanan yang memadai.

Jika kita memang benar-benar mengikuti dan menyusuri jalan yang ditempuh oleh Pak Ahmad, maka kita pun akan menjumpai berbagai pemandangan dan pengalaman sebagaimana yang dijumpai Pak Ahmad. Kita pergi haji harus dengan Shafa Karima Tour, bukan dengan Darul Safar Tour atau Mulya Syifa’ Tour atau yang lainnya. Kita juga harus pergi ke Bandara Soekarno-Hatta di Jakarta, bukan bandara Adi Sumarmo di Solo, bukan bandara Adi Sucipto di Yogyakarta, bukan bandara Polonia di Medan, bukan bandara Husein Sastranegara di Jawa Barat, atau bandara lain selain Soekarno-Hatta. Dengan begitu kita juga akan mendapati pemandangan sebagaimana pemandangan yang dijumpai Pak Ahmad, misalnya di bandara, kita melihat hotel-hotel dan berbagai macam penginapan. Sama persis seperti yang dijumpai Pak Ahmad. Sebab pemandangan di Bandara Soekarno-Hatta berbeda dengan pemandangan di bandara Adi Sumarmo, bandara Adi Sucipto, bandara Polonia, atau bandara Husein Sastranegara.

Selain itu kita juga harus memakai maskapai Mandala Airlines, bukan Simpati, Qantas, atau Garuda Indonesia. Di sana kita juga akan mendapatkan berbagai pelayanan-pelayanan yang memadai seperti yang dirasakan Pak Ahmad. Sekalipun saat itu, Anda sedang tidak bersama Pak Ahmad.

Tetapi jika Anda melenceng sedikit saja dari jalan yang dilalui Pak Ahmad, maka Anda tidak akan menjumpai pemandangan dan pengalaman seperti yang dijumpai Pak Ahmad. Misalnya, Anda memakai Maskapai Garuda Indonesia. Ini sudah berbeda. Pasti yang Anda jumpai, akan berbeda dengan yang dijumpai Pak Ahmad. Atau Anda tidak memakai biro haji Shafa Karima, tetapi memakai biro lain seperti Darul Safar Tour, atau Mulya Syifa’ Tour, atau yang lain. Pasti pelayanan yang Anda dapatkan juga tidak sama seperti yang didapatkan Pak Ahmad. Sehingga, dengan sedikit saja kita melenceng dari perjalanan Pak Ahmad, pasti kita akan mendapati berbagai pengalaman dan pemandangan yang berbeda, sekali pun Anda juga akan tetap sampai ke Makkah dan melihat Kakbah. Tetapi sekali lagi, Anda tidak melalui jalan yang dilalui Pak Ahmad.

Apa yang saya gambarkan di atas, sama seperti keyakinan kita akan tegaknya kembali Khilafah Islam dengan metode penegakkan seperti metode Rasulullah.

Jika Anda memang yakin, bahwa kemuliaan Islam dan kaum muslimin hanya bisa diraih dengan tegaknya negara khilafah Islam, maka konsekuensi logis dari itu semua adalah adanya kesadaran untuk berjuang mewujudkannya. Kita yakin bahwa khilafah memang sudah pernah berdiri, hal ini secara mutawatir diriwayatkan oleh banyak sekali ulama’ dan para sejarawan baik dari kalangan muslim maupun orientalis. Sekalipun terjadi penyimpangan di sana-sini, tetapi para ulama tetap menyebut sistem pemerintahan Islam dengan sistem khilafah. Bukan kerajaan, atau yang lain. Imam Asy Suyuthi, dalam kitabnya Tarikh Khulafa’ tetap menyebut penguasa-penguasa kaum muslimin sebagai khalifah, yang berarti kepala negara khilafah. Demikian pula Imam Al Mawardi dan Imam Abu Ya’la Al Fara’ dalam kitab mereka Ahkam Ash Shulthaniyah.

Demikian pula, para orientalis. Orang-orang kafir ini, yang meneliti sejarah Islam, juga menyatakan bahwa penguasa orang Islam adalah khalifah. Bukan raja. Jika Anda melihat buku Henry S. Lucas, atau Montgomery Watt, atau Philip K. Hitti, maka di sana dikatakan, ketika mereka menyebut penguasa orang Islam adalah seorang khalifah (chaliph/chaliphate). Tidak hanya itu. National Intellegence Council (NIC) sebuah badan inteligen di Amerika telah meramalkan dalam Mappingh The Global Future yang diterbitkan pada tahun 2004. Dalam risetnya itu NIC memprediksi bahwa pada tahun 2020 akan berdiri negara khilafah. Jika orang kafir saja demikian percaya, bagaimana mungkin kita sebagai orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir tidak mempercayainya?

Lalu, bagaimana caranya cara menegakkan negara khilafah? Caranya adalah mengikuti metode Rasulullah saw. Mengapa harus Rasulullah saw? Sebab, Allah swt. bersabda,
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al Ahzab: 21)

“…Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.” (QS. Al Hasyr: 7)

Juga sabda Rasulullah saw.,
“Barang siapa melakukan suatu perbuatan yang tidak ada perintah kami atasnya, maka perbuatan itu pun tertolak.” (HR. Muslim)

Dalil-dalil di atas menunjukkan larangan keras untuk mengikuti jalan lain selain jalan Rasulullah. Atau membuat jalan sendiri yang bertentangan dengan jalan Rasulullah, atau mengikuti jalan orang lain yang tidak sama dengan jalan Rasulullah. Bahkan Allah telah menyebut, bahwa Rasulullah merupakan teladan yang baik. Apa yang harus diteladani? Semua hal, sunah-sunah beliau, termasuk juga metode beliau dalam menegakkan Islam. Itu juga harus diteladani. Tidak main-main, jika kita melenceng, maka Allah pun mengancam dengan siksa yang pedih.

Jika kita benar-benar mengikuti metode Rasulullah saw. dalam mencapai kejayaan dan kemuliaan Islam dan kaum muslimin, maka kita pasti akan mendapati berbagai pengalaman dan pemandangan sebagaimana yang dialami dan didapati Rasulullah saw., sama persis dengan analogi tentang ‘mengikuti Pak Ahmad’ di atas.

Misalnya, Rasulullah saw. berdakwah dengan terang-terangan tanpa sedikit pun ada maksud menyembunyikan sesuatu pun, maka kita pun harus melakukannya pula. Kita tidak boleh bermanis muka dengan masyarakat dengan alasan takut ditolak. Kita harus seperti Rasulullah, tegas dan terang-terangan. Sekali pun masyarakat akan banyak menetang kita. Tidak masalah. Mengapa? Sebab, masyarakat Makkah pada waktu itu juga menentang dakwah Rasul. Jadi, jika dakwah kita ditentang masyarakat, itu adalah suatu keniscayaan dalam berdakwah.

Syaikh Taqiyuddin An Nabhani dalam kitabnya Nizhamul Islam dalam bab Kaifiyah Dakwah menyebutkan ada tiga konsekuensi dari dakwah, yaitu diterima, ditolak, atau dibiarkan saja. Kesimpulan ini diambil dari fakta dakwah Rasulullah saw., yaitu bahwa dalam berdakwah secara terang-terangan, kadang-kadang Rasulullah diterima, kadang-kadang ditolak, dan kadang-kadang dibiarkan saja (tidak dipedulikan). Inilah jalan dakwah Rasulullah, yaitu terang-terangan dalam berdakwah, tidak ada yang disembunyikan dari masyarakat. Tidak bermanis muka dengan alasan takut ditolak masyarakat.

Kemudian, Rasulullah saw. dan para sahabatnya, membongkar kebobrokan sistem jahiliyah Makkah, dan menghinakan tuhan-tuhan mereka, sehingga Rasulullah pun mendapatkan berbagai halangan dan perlawanan fisik yang keras. Jika kita mengikuti metode dakwah Rasulullah dengan benar, maka kita pun harus membongkar kebobrokan sistem jahiliyah modern yang saat ini diterapkan. Sekali pun kita juga mendapati berbagai hambatan dan perlawanan. Sama persis, seperti yang dialami Rasulullah saw. Kita harus membongkar keburukan sistem demokrasi, sistem kapitalis ribawi, sistem liberalis, dan sebagainya. Semua dibongkar keburukannya dengan tujuan agar orang tidak lagi percaya dengan paham-paham tersebut.

Sama persis dengan yang dilakukan Amar. Ketika dia menjelekkan paham jahiliyah dan menjatuhkan berhala yang disembah kedua orang tuanya (Yasir dan Sumayyah), maka Amar pun dimarahi habis-habisan oleh kedua orang tuanya. Tetapi karena kesabaran Amar dan kecerdasan Amar, maka Yasir dan Sumayyah pun sadar hingga akhirnya keduanya memilih pemahaman baru yang dibawa Amar. Sekalipun akibatnya adalah Yasir dan Sumayyah syahid di tangan kafir Quraisy.

Kita pun harus demikian, sekali pun ketika kita berdakwah kita terus menerus ditolak karena kita telah menghinakan berbagai paham-paham kufur yang dianut masyarakat. Sekali lagi, kita tidak boleh berputus asa.

Rasulullah saw. juga berdakwah dengan pemikiran, melawan pemikiran-pemikiran kufur. Sehingga beliau pun akhirnya harus menghadapi berbagai macam fitnah, mulai dari difitnah sebagai tukang sihir, pendusta, tukang pemutus hubungan nasab, dan sebagainya. Jika kita mengikuti Rasulullah saw. dalam berdakwah, niscaya kita pun akan menjumpai pemandangan yang sama. Kita pun akan terkena berbagai macam fitnah keji dari orang-orang yang tidak menyukai kita. Jadi, janganlah kita takut celaan orang-orang yang mencela. Ingat, ini hanyalah salah satu konsekuensi dalam berdakwah.

Jika kita melihat Rasulullah saw. tidak pernah mendirikan laskar-laskar (atau sistem kepanduan) dalam berdakwah. Sekali pun Rasulullah saw. disiksa dan dizalimi secara fisik. Maka kita pun demikian. Kita tidak perlu membuat-buat laskar-laskar untuk mengantisipasi perlawanan fisik. Tidak perlu, sebab Rasulullah saw. juga tidak melakukannya. Rasulullah berdakwah tetap dengan pemikiran, sekalipun gerakan dakwah Rasulullah diserang secara fisik oleh orang-orang kafir.

Rasulullah saw. berdakwah dengan membentuk kelompok dakwah. Maka kita pun saat ini hendaknya bergabung dalam sebuah kelompok dakwah yang menyeru dalam sebuah aktivitas untuk menuju cita-cita besar, sama persis seperti yang dicita-citakan Rasulullah, yaitu tegaknya Islam. Kelompok dakwah Rasulullah adalah sebuah gerakan politik, bukan gerakan sosial, bukan gerakan akhlaqiyah, buakn lembaga pendidikan, bukan sekolahan, atau yang lainnya. Tetapi sebuah gerakan politik.

Rasulullah saw. berjuang dengan jalur politik. Maka kita pun juga harus berjuang dalam bidang politik sebagaimana jalan yang ditempuh Rasulullah saw. Beliau berdakwah tidak semata-mata menegakkan tauhid dalam diri tiap-tiap orang Makkah. Tetapi beliau berupaya sekuat tenaga meraih kekuasaan untuk bisa menegakkan Islam. Untuk itulah beliau mencari nushrah (pertolongan) dari para ahlul quwwah yang memiliki kekuatan. Beliau mendakwahi para pemilik kekuatan untuk bisa beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan mau dipimpin oleh Rasulullah saw. Beliau telah mendakwahi Bani Kalb, Bani Hanifah, Bani Tsaqif, Bani Amr bin Sha’sha’ah, Bani Aus, Bani Khazraj, dan bani-bani lainnya di tanah Arab.

Rasulullah berjuang juga tidak terlibat dalam sistem kufur. Bahkan ketika beliau diajak berkompromi dan berkoalisi, maka beliau pun menolak. Hal yang sama juga harus kita lakukan. Kita tidak boleh berkompromi dengan sistem kufur yang ada dan menolak segala bentuk upaya kompromi atau koalisi. Ingat, Rasulullah saw. tidak pernah terbeli. Maka kita pun tidak boleh terbeli. Suatu saat, ketika orang kafir Quraisy merasa kewalahan menghadapi gerakan dakwah Rasulullah, mereka pun mendatangi Abu Thalib untuk memohon kepada Rasulullah agar Muhammad menghentikan laju dakwahnya. Sebagai imbalannya, mereka akan mengangkat Rasulullah menjadi pemimpin, memberikan harta, dan wanita. Tetapi Rasulullah menolak. Rasulullah hanya menerima kepemimpinan atas dasar Islam, bukan atas dasar selain Islam. Kita pun harus demikian. Sekali pun kita diiming-imingi berbagai kedudukan, harta, dan kekuasaan, maka kita pun tidak boleh terbeli.

Dalam berdakwah, Rasulullah saw. senantiasa mendekatkan diri kepada Allah untuk semakin dekatnya pertolongan Allah, maka kita pun harus menirunya. Kita harus meningkatkan ketakwaan dalam diri kita agar kita bisa mendekatkan diri pada Allah. Kita bisa mengadakan training internal dalam diri aktivis gerakan dakwah, kita bisa mengadakan mabit (malam bina takwa), dan lain sebagainya. Kedekatan kita kepada Allah, tentu akan berpengaruh pada datangnya Nasrullah (pertolongan Allah).

Rasulullah tidak menjadikan akhlak sebagai metode berdakwah. Sebab, berakhlaknya Rasulullah saw. bukan lantaran agar orang masuk Islam. Tetapi, karena Rasulullah saw. memang ‘hanya’ melaksanakan perintah Allah untuk selalu berakhlak baik kepada setiap orang, bukan sebagai metode. Kalaupun ada orang kafir Quraisy yang masuk Islam karena keluhuran akhlak beliau, itu karena Allah telah meberikan hidayah kepadanya, dan bukan lantaran Rasulullah menjadikannya metode berdakwah. Kita pun demikian. Kita menjadi pengemban dakwah hendaknya menghiasi diri kita dengan akhlakul karimah sebagai bentuk pelaksanaan atas seruan Islam, bukan semata-mata sebagai cara agar orang masuk dalam gerakan dakwah kita.

Rasulullah saw. melakukan pembinaan secara jama’iyah untuk menjelaskan keburukan sistem jahiliyah dan menjelaskan kebaikan sistem Islam di hadapan banyak orang, seperti pada keluarga beliau. Maka kita pun melakukannya. Kita adakan berbagai macam daurah, seminar, training, diskusi publik, Halqah Islam dan Peradaban, muktamar-muktamar, dan berbagai konferensi.

Rasulullah saw. memiliki maktab yang digunakan sebagai tempat-tempat pertemuan para sahabat, yaitu di Darul Arqam. Maka kita pun demikian, keberadaan maktab memang penting sebagai pusat pertemuan para aktivis gerakan dakwah.

Rasulullah saw. juga melakukan pembinaan instensif kepada para sahabat sebagai modal untuk berdakwah. Demikian pula kita. Kita harus selalu aktif mengikuti halqah-halqah yang diadakan gerakan dakwah sebagai bentuk penguatan dalam diri aktivis sebagai modal untuk berdakwah dan mengajak orang lain bergabung dalam jamaah dakwah tersebut.

Rasulullah saw. dan para sahabat melakukan kontak-kontak dengan masyarakat sebagai bentuk dari aktivitas dakwah. Sebagaimana yang dilakukan Abu Bakar Ash Shidiq kepada orang-orang Quraisy seperti Usman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, dan yang lainnya. Maka kita pun harus sama melakukannya. Kita harus kontak dengan banyak orang, sebagai bentuk realisasi kewajiban dakwah.

Rasulullah saw. mengontak tokoh-tokoh yang memiliki kekuatan (ahlul quwwah) untuk dimintai pertolongan untuk menolong dakwah Rasulullah saw. Misalnya Rasulullah saw. mengontak Bani Tsaqif, Bani Syaiban bin Tsa’labah, Bani Amr bin Sha’sha’ah, Bani Bakar bin Wail, Bani Kindah, Bani Kalb, Bani Hanifah, serta Bani Aus dan Khazraj. Kita pun demikian pula. Kita juga harus melakukan thalabun nushrah (mencari pertolongan) kepada para pemilik kekuatan. Jika Rasulullah menolak Bani Amr bin Sha’sha’ah karena mereka mengajukan syarat, amak kita pun harus menolak ketika ada ahlul quwwah yang meminta syarat tertentu kepada kita.

Demikianlah. Dakwah Rasulullah telah memiliki metode yang khas. Dakwah Rasulullah telah mampu membangkitkan umat. Kita pun, insya Allah (jika memang mengikuti metode Rasulullah saw.) akan bisa pula membangkitkan umat.

Sedikit saja kita melendeng dari metode dakwah Rasulullah saw., maka tidak bisa dikatakan kita mengikuti jalan sebagaimana jalan yang ditempuh Rasulullah saw. Oleh karena itu, jika kita memang mengaku mengikuti metode Rasulullah saw., maka kita pasti akan menjumpai hal-hal sebagaimana yang dialami Rasulullah. Jika yang kita jumpai berlawanan dengan apa yang dijumpai Rasulullah saw., bisa dipastikan jalan yang kita lalui, bukanlah jalan yang dilalui Rasulullah saw. Sekali pun endingnya, tujuannya adalah sama.

Ada yang berpendapat: bagaimana kalau (misalnya) suatu saat negara khilafah akan benar-benar berdiri tetapi dengan jalur parlemen (jalan demokrasi)? Sebab, di dunia ini segala kemungkinan akan bisa terjadi.

Maka hal ini bisa dikembalikan pada fakta perjalanan dakwah Sirah Rasulullah saw. Terlepas dari benar-tidaknya jalan yang ditempuh, kalau pun kelak negara khilafah memang benar-benar berdiri dengan jalan demokrasi, tetapi itu bukanlah negara khilafah ‘ala minhajin nubuwwah. Ingat, negara khilafah yang ingin kita tegakkan adalah negara khilafah yang mengikuti manhaj kenabian yang didirikan dengan manhaj Rasulullah, baik pada saat negara itu berdiri atau cara penegakannya. Sedangkan ‘negara khilafah’ yang didirikan atas dasar demokrasi, jelas, itu adalah negara khilafah ‘alal dimuqrathiyyah, bukan ‘ala minhajin nubuwwah.

Rasulullah saw. bersabda,
“Masa kenabian akan berlangsung di tengah-tengah kalian sesuai dengan kehendak Allah. Kemudian Allah mencabutnya jika Dia menghendakinya. Lalu datang masa kekhalifahan yang mengikuti manhaj kenabian selama masa yang diikehendaki Allah. Kemudian Allah mencabutnya jika Dia menghendakinya. Lalu datang masa kekuasaan yang zalim (mulkan ‘adhdhan) selama masa yang dikehendaki Allah. Kemudian Allah mencabutnya jika Dia menghendakinya. Lalu datang masa kekuasan diktator bengis (mulkan jabariyyan) selama masa yang dikehendaki Allah. Kemudian Allah mencabutnya jika Dia menghendakinya. Setelah itu akan datang (kembali) masa kekhalifahan yang mengikuti manhaj kenabian. Kemudian Rasulullah diam.” (HR. Ahmad)

Jadi, negara khilafah tsaniyah (negara khilafah yang kedua) adalah negara yang berdiri berdasarkan atas manhaj kenabian, bukan negara khilafah yang berdiri di atas manhaj lain selain manhaj Rasulullah.

Dengan demikian, jika kita benar-benar melihat fakta perjuangan dakwah Rasulullah pada masa dulu dengan perjuangan dakwah pada masa sekarang, tidak ada alasan untuk tidak yakin dengan jalan perjuangan ini. Tidak ada alasan untuk lemah dan bermalas-malasan dalam memperjuangkan tegaknya negara khilafah ‘ala minhajin nubuwwah.

Jika Anda mengira bahwa perjuangan ini akan enak, menyenangkan, maka Anda salah. Rasulullah saw. dan para sahabat telah menghadapi berbagai hambatan, rintangan, tantangan, dan ancaman yang menyebabkan beliau dan para sahabat dizalimi orang-orang kafir.

Jadi, yakinlah bahwa Allah telah berjanji, bahwa setiap kebaikan pasti akan mendapatkan balasan yang baik pula dari Allah. Jika Anda lemah, maka itu pilihan Anda. Dan setiap pilihan akan memiliki konsekuensi yang akan dipertanggung jawabkan. Allah telah berjanji kepada orang-orang mukmin. Dan Allah juga telah berjanji kepada orang-orang yang bermalas-malasan dalam hal kebaikan.

Mari kita memilih, mau masuk golongan yang mana. Allah berfirman,
“Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar.” (QS. Fathir: 32)

Ayat ini tidak ditujukan untuk orang kafir, tetapi untuk kaum muslim. Kata-kata aurotsnal kitaabal ladziinasthofainaa min ‘ibadinaa (Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami) menunjukkan bahwa ayat ini diturunkan untuk orang Islam. Karena kita termasuk orang Islam, berarti kita termasuk orang-orang yang diseru Allah. Kita tinggal memilih, apakah kita Akan masuk golongan zhaalimun linafsihi (menzalimi/menganiaya dirinya sendiri), atau golongan faminhum muqtashid (orang-orang yang pertengahan), atau golongan saabiqun bil khoiroot (lebih dahulu berbuat kebaikan).

Yang dimaksud dengan orang yang menganiaya dirinya sendiri ialah orang yang lebih banyak kesalahannya daripada kebaikannya, dan orang-orang pertengahan ialah orang-orang yang kebaikannya sebanding dengan kesalahannya, sedang yang dimaksud dengan orang-orang yang lebih dahulu dalam berbuat kebaikan ialah orang-orang yang kebaikannya amat banyak dan amat jarang berbuat kesalahan.

Oleh karena itu, saya mengajak Anda semua, mari bergerak menuju surga, yang luasnya seluas langit dan bumi,
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali ‘Imran: 133)

Dan perhatikanlah kisah berikut, suatu kisah yang menunjukkan bahwa seorang muslim yang baik ketika seruan Islam datang, maka dia tidak ragu-ragu lagi, dan langsung berangkat melaksanakan perintah itu, sekalipun harus dibayar dengan nyawanya, sebab surga itu benar-benar nyata.
“Nabi saw. berangkat bersama para sahabatnya hingga mendahului kaum Musyrik sampai ke sumur Badar. Setelah itu kaum Musyrik pun datang. Kemudian Rasulullah saw. bersabda, “Berdirilah kalian menuju surga yang luasnya seluas langit dan bumi.” Anas bin Malik berkata; maka berkatalah Umair bin al-Humam al-Anshary, “Wahai Rasulullah! Benarkah yang kau maksud itu surga yang luasnya seluas langit dan bumi?” Rasulullah saw. menjawab, “Benar” Umair berkata, “ehm-ehm”. Rasulullah saw. bertanya kepada Umair, “Wahai Umair, apa yang mendorongmu untuk berkata ehm-ehm?” Umair berkata, “Tidak ada apa-apa Ya Rasulullah, kecuali aku ingin menjadi penghuninya”. Rasulullah saw. bersabda, “Sesunguhnya engkau termasuk penghuninya, Wahai Umair!” Anas bin Malik berkata; Kemudian Umair bin al-Humam mengeluarkan beberapa kurma dari wadahnya dan ia pun memakannya. Kemudian berkata, “Jika aku hidup hingga aku memakan kurma-kurma ini sesungguhnya itu adalah kehidupan yang lama sekali.” Anas berkata; Maka Umair pun melemparkan kurma yang dibawanya, kemudian maju untuk memerangi kaum Musyrik hingga terbunuh.” (HR. Muslim)

Title: Keyakinan Pejuang Khilafah akan Manhaj Rasulullah saw.
Posted by:Yulia Nisa
Published :2012-05-19T16:50:00+07:00
Rating: 5
Reviewer: 564953 Reviews
Keyakinan Pejuang Khilafah akan Manhaj Rasulullah saw.
Tags: Khilafah , Motivasi

Artikel Terkait

1 komentar

  1. ANNAS says:

    Hari ini kaum Muslimin berada dalam situasi di mana aturan-aturan kafir sedang diterapkan. Maka realitas tanah-tanah Muslim saat ini adalah sebagaimana Rasulullah Saw. di Makkah sebelum Negara Islam didirikan di Madinah. Oleh karena itu, dalam rangka bekerja untuk pendirian Negara Islam, kelompok ini perlu mengikuti contoh yang terbangun di dalam Sirah. Dalam memeriksa periode Mekkah, hingga pendirian Negara Islam di Madinah, kita melihat bahwa RasulAllah Saw. melalui beberapa tahap spesifik dan jelas dan mengerjakan beberapa aksi spesifik dalam tahap-tahap itu

Leave a Reply

Hak Cipta Hanya Milik Allah SWT, Menyadur dan Menyebarkan isi Website ini Sangat di anjurkan - Web Desain by jawara web | seacrh engine | butik muslim | situs islam | islamic wallpaper | situs berita global