Guest Book

powered by Is Banned ???

You Are Here: Home - Motivasi , Muslimah - Masyithah: Imannya Seharga Keluarganya


Di istana Firaun yang megah dan menjulang tinggi itu terpancar sebuah sinar keimanan yang sangat agung, melebihi kebesaran istana tersebut. Sinar itu berasal dari keimanan dua wanita solehah dengan iman yang teguh. Kedua wanita itu adalah Asiah binti Muzahim, istri Firaun, dan Masyithah, tukang sisir kepercayaan Firaun.

Di istana Firaun, Masyithah tinggal dengan keluarganya yang juga merupakan pelayan-pelayan Firaun. Mereka terdiri dari suami dan dua orang anaknya. Masyithah adalah penata rabut bagi istri-istri Firaun serta putri-putrinya. Tidak ada seorang pun dalam istana yang mengetahui bahwa mereka sekeluarga beriman kepada Allah dan Nabi Musa as., kecuali Asiah, istri Firaun. Mereka berdua adalah dua orang yang menjadi pengikut setia Nabi Musa as.

Pada suatu hari, Masyithah sedang menata rambut seorang putri Firaun, seperti biasa yang dilakukan sehari-hari. Namun, pada hari itu, dengan kehendak Allah, sisir yang sedang dipegang Masyithah tiba-tiba jatuh ke lantai, sehingga secara refleks Masyithah mengucapkan, “Dengan nama Allah, celakalah Firaun.” Ucapan tersebut meluncur begitu saja dari mulut Masyithah.

Tentu saja putri Firaun yang mendengar itu terkejut bukan main. Seorang pelayan berani melaknati ayahnya yang (menurutnya) adalah seorang Tuhan. Sang putri menjadi heran sekali. Kemudian sang putri berkata, “Mengapa engkau menyebut nama Tuhan selain anam ayahku? Apakah engkau mempunyai Tuhan lain selain ayahku?”

Dengan terang-terangan, tanpa mnyembunyikan keimanannya sekali pun Masyithah menjawab, “Ya benar. Aku mempunyai Tuhan selain ayahmu.”

Mendengar jawaban Masyithah ini sang putri terkejut. Sebab di negeri Mesir (saat itu) tidak ada seorang pun yang berani menentang kekuasaan ayahnya. Tetapi ini kok ada seorang pelayan dari kelas rendah justru melaknati ayahnya. Kemudian putri Firaun itu pun berkata, “Kejadian ini akan aku laporkan kepada ayahku.”

Mendengar ucapan sang putri itu, Masyithah tidak sedikit pun gentar. Ia bahkan balik mengancam, “Silahkan saja, kejadian ini engkau laporkan kepada ayahmu, aku tidak takut menghadapinya.” Ternyata ancaman sang putri bukan sekedar gertakan semata. Beberapa waktu kemudian ada panggilan untuk Masyithah dan keluarganya untuk menghadap Firaun.

Di depan Firaun, Masyithah dan keluarga tetap tegar dan tidak memiliki rasa takut sedikit pun di hadapan penguasa lalim tersebut. Kebenaran akan tetap dikatakan, apapun yang terjadi.

Firaun bertanya, “Wahai Masyithah, apakah engkau mempunyai Tuhan lain selain aku?” Masyithah menjawab, “Benar, aku mempunyai Tuhan lain selain engkau. Tuhanku adalah Tuhanmu juga. Dia adalah Allah yang menciptakan dan menguasai jagad raya ini.”

Jawaban Firaun ini membuat Firaun terkejut. Tetapi Firaun tetap bersikap tenang, tidak emosional, dan berusaha tetap membujuk Masyithah dan keluarganya agar mengakui dirinya sebagai Tuhan. Namun bujuk rayu Firaun ditolak mentah-mentah.

Jabatan, kehormatan, dan harta yang banyak akan diberikan kepada Hizqil, suami Masyithah jika mereka mau mengakui Firaun sebagai Tuhan. Namun Masyithah dan Hizqil tetap berpegang teguh prinsip kebenaran keimanan mereka, yaitu tidak ada Tuhan selain Allah.

Setelah segala macam bujuk rayu yang diusahakan Firaun mengalami kegagalan, maka Firaun pun menjadi gusar dan akhirnya memutuskan untuk memberikan hukuman kepada keluarga itu.

Sungguh biadab. Raja yang tidak lagi memiliki hati dan perasaan. Raja lalim ini benar-benar seorang manusia kejam yang sangat tidak berperikemanusiaan. Firaun, si raja hina yang mengklaim dirinya sebagai Tuhan dan mampu memberikan penghidupan ini bersiap-siap menyiksa Masyihah dan keluarganya. Rupanya si raja hina ini ingin menunjukkan kekuatan dan kekejamannya kepada orang banyak agar mereka tidak meniru kelakuan Masyithah dan keluarganya dengan mengkhianati kekuasaannya (Firaun).

Keteguhan hati Masyithah ini, Firaun lalu menggunakan akal liciknya. Firaun mengancam keluarga beriman itu dengan merebus mereka hidup-hidup di dalam satu wadah yang besar. Namun ternyata kekuatan iman keluarga mulia itu sangat kuat hingga tidak mampu dirobohkan oleh ancaman seperti apapun juga. Bahkan dengan tegas Masyithah berbalik menentang Firaun dengan berkata, “Jika engkau benar-benar akan membunuh kami karena tidak mau mengakui dirimu sebagai Tuhan, maka kuburkanlah kami dalam satu lubang!”

Mendengar hal tersebut, Firaun merasa terhina bukan main. Mau mengancam agar menakut-nakuti Masyithah dan keluarganya, justru mereka malah meminta dikuburkan bersama. Bagi Firaun yang sombong, hal ini merupakan pelecehan dan penghinaan besar. Seolah-olah kekejaman Firaun tidak dianggap apa-apa oleh mereka.

Lantas Firaun pun berkata, “Baiklah jika itu memang permintaanmu, aku akan mengabulkannya!” Kemudian Firaun memanggil pelayan dan para algojonya untuk menyiapkan sebuah tungku yang sangat besar. Sebuah wadah yang berukuran raksasa didatangkan beserta kayu bakar yang banyak. 

Setelah wadah disiapkan di atas tungku, kayu bakar pun dinyalakan dan diisi air. Api yang besar itu pun memanasi wadah itu hingga air mendidih. Sungguh sangat mengerikan. Hati siapa yang tidak merinding melihat hal tersebut. Firaun si raja hina ini benar-benar di luar batas. Dia ingin merebus manusia, sebuah keluarga layaknya seekor daging yang siap dimasak.

Tidak jauh dari tempat tersebut, Masyithah dan keluarganya menoba untuk tetap tenang. Anaknya yang masih balita yang masih berada dalam gendongannya tampak diam tanpa merengek, tidak merasakan hawa panas dari nyala api yang besar itu. Sungguh besar kuasa Allah. Laa haula wa laa quwwata illaa billaah..

Semua orang yang menyaksikan kejadian tersebut sangat tegang dan seolah-olah seperti tidak tega melihatnya. Kekejaman Firaun memang sungguh keterlaluan. Para penduduk Mesir yang mendatangi tempat tersebut memang baru kali ini melihat Firaun merebus manusia. Belum pernah mereka melihat kekejaman Firaun sampai yang seperti ini. Tidak terbayang bagaimana panasnya air yang mendidih itu. Tidak terbayang kulit yang akan terkelupas oleh didihan air. Tidak terbayang bagaimana raga akan terbakar, melepuh, dan meleleh. Tulang pun pasti akan hancur. Masya Allah..

Tetapi hal itu tidak membuat Masyithah takut sedikitpun. Masyithah dan keluarganya tetap berusaha untuk tenang dan menyerahkan semua urusannya kepada Allah. Dari mulut mereka tidak henti-hentinya menyebut nama Allah yang Maha Agung.

Orang pertama yang mendapat giliran untuk direbus hidup-hidup adalah Hizqil…
Suami Masyithah yang memegang teguh keimanan ini benar-benar telah syahid seiring dengan dilemparkan dirinya ke dalam air mendidih itu..
Inna lillaahi wa inna ilaihi raa ji’uun..

Masyithah begitu sakit hati. Perasaannya hancur melihat suaminya meregang nyawa dalam didihan air yang sangat panas. Hatinya seakan menjerit melihat kekejaman Firaun. Air matanya berlinang, menangis kepada Allah seraya mengharap agar keluarganya segera dimasukkan ke dalam surga-Nya.

Firaun menawar sekali lagi, agar Masyithah mau mengakui dirinya sebagai Tuhan. Jika menerima, maka anak-anaknya akan selamat. Tetapi jika menolak, maka anak-anaknya akan bernasib sama seperti ayahnya. Tetapi Masyithah tetap tegar dan gigih memegang keimanan.

Firaun pun segera memerintahkan untuk menyeret anak pertama Masyithah agar dimasukkan ke dalam air mendidih tersebut. Anak tersebut akhirnya diseret oleh algojo-algojo Firaun, dan dilemparkan ke dalam air mendidih itu bersatu dengan jasad ayahnya yang sudah syahid.
Inna lillaahi wa inna ilaihi raa jii’uun..

Hati siapakah yang tidak akan teriris melihat anaknya dilemparkan ke dalam didihan air? Sungguh, Masyithah benar-benar seorng wanita yang tegar. Kegigihannya memang berlinang air mata. Tetapi Masyithah yakin bahwa kebenaran harus dipegang teguh, apapun yang terjadi.

Kemudian Firaun pun menawar sekali lagi agar Masyithah meninggalkan keimananya dan berali mengakui Firaun sebagai Tuhan. Tetapi tidak. Sekali-kali tidak. Kekuatan iman Masyithah melebihi kuatnya benteng dan istana Firaun. Ia akan tetap merelakan anaknya yang masih balita, itu untuk bersatu dengan ayahnya dan kakaknya dalam didihan air yang sangat panas.

Air matanya berlinang menatap buah hatinya yang masih mungil itu. Setan-setan busuk tidak henti-hentinya membisikkan ke dalam diri Masyithah agar Masyithah mau mengakui Firaun sebagai Tuhan. Setan-setan membisikkan sesuatu ke dalam diri Masyithah, apakah tega dirinya melihat seorang bayi yang masih menyusu ibunya dimasukkan ke dalam air yang mendidih? Tetapi rupanya setan-setan itu tidak berdaya menghadapi kekuatan iman Masyithah. Setan-setan itu pun menyingkir setelah Masyithah menyatakan pada dirinya bahwa kebenaran tidak bisa dibeli dengan apapun juga dan kebenaran harus dipertahankan walau apapun juga.

Tiba-tiba sebuah keajaiban terjadi. Sungguh besar kuasa Allah. Bayi Masyithah yang masih balita itu kemudian berkata kepada ibunya, “Wahai ibu, jatuhkanlah diriku bersamamu ke dalam air mendidih itu, sesungguhnya engkau di pihak yang benar.”

Mendengar hal tersebut, akhirnya Masyithah bertambah yakin akan keimanannya. Hatinya menjadi tentram dan semakin yakin untuk bertemu dengan Tuhannya, Tuhan yang sesungguhnya.

Akhirnya, dengan tenang hati, Masyithah pun secara sukarela mendekati api unggun besar itu, dan masuk ke dalam air mendidih itu bersama putra bungsunya yang masih kecil..
Inna lillahi wa inna ilaihi raajii’uun…

Di sanalah keempat jasad manusia suci itu berkumpul. Di sanalah kemuliaan dipertahankan. Di sanalah sebuah pengorbanan untuk terwujudnya sebuah keimanan yang tinggi ditunjukkan dengan lantang. Di sanalah kezaliman penguasa dihinakan. Masyithah syahid bersama suami dan kedua anaknya. Syahid menghadapi panasnya air mendidih. Syahid dalam menghadapi kezaliman penguasa.

Suasana seperti ini pun seringkali terulang pada masa sekarang. Ketika para pejuang disiksa dan dipaksa untuk meninggalkan prinsip-prinsipnya. Ketika para pejuang dicongkel matanya oleh rezim Islam Karimov di Uzbekistan agar tidak lagi bergabung dengan barisan pejuang lainnya. Ketika seorang pejuang melihat istrinya diperkosa beramai-ramai oleh para alogojo Islam Karimov. Maka pada saat itu pulalah kebenaran akan dipetontonkan.

Pertanyaannya: siapkah kita menjadi Hizqil atau Masyithah?

Disarikan dari buku Wanita-wanita Muslimah Pengukir Sejarah karya Ustadz Fuad Kauma.
Title: Masyithah: Imannya Seharga Keluarganya
Posted by:Yulia Nisa
Published :2012-05-19T16:32:00+07:00
Rating: 5
Reviewer: 564953 Reviews
Masyithah: Imannya Seharga Keluarganya
Tags: Motivasi , Muslimah

Artikel Terkait

0 komentar

Leave a Reply

Hak Cipta Hanya Milik Allah SWT, Menyadur dan Menyebarkan isi Website ini Sangat di anjurkan - Web Desain by jawara web | seacrh engine | butik muslim | situs islam | islamic wallpaper | situs berita global