Guest Book

powered by Is Banned ???

You Are Here: Home - Analisis , Halaqoh Online - TETAP EKSIS, TANPA BATAS GEOGRAFIS

Sejauh mata memandang, dunia berwarna merah putih. Itulah pemandangan wajib di bulan Agustus. Karena rakyat Indonesia tengah merayakan hari kemerdekaannya.

Tiba-tiba saja, rakyat Indonesia merasa disatukan oleh sebuah ikatan yang kuat. Rakyat Indonesia merasakan semangat nasionalisme yang menggelora. Rakyat Indonesia merasa saling memiliki, melindungi, dan mengasihi satu sama lain. Rakyat Indonesia merasa sangat ingin melakukan yang terbaik bagi negeri Indonesia tercinta ini. Semua itu, atas nama Bangsa Indonesia.
*dengan latar bendera berkibar dan lagu 'Indonesia Raya'

Eits, bener gitu?!

Kalo bener nasionalisme itu ikatan yang nyata mengikat bangsa ini, lalu kenapa masih ada 12 juta anak putus sekolah (www.depkominfo.go.id)? Kenapa harga pendidikan kian mahal? Kenapa lapangan pekerjaan sulit didapat? Kenapa anak jalanan dan pengemis merajalela? Kenapa para pemuda-pemudi harapan bangsa menjadikan seks bebas dan aborsi sebagai tradisi? Lebih jauh lagi, kok bisa-bisanya rakyat yang mencintai bangsa, negara, tumpah darahnya ini membiarkan kekayaan alam Indonesia dikeruk habis-habisan oleh asing (Freport & Blok Cepu, serta banyak daerah lain), hutan digunduli, laut dikuras? Jawablah, Kawan!
Sepertinya, yang nyata terasa adalah masing-masing dari rakyat Indonesia merasa sangat memiliki terhadap negeri ini.Sampai-sampai, rasanya seluruh kekayaan di negeri ini adalah miliknya seorang..Sampai-sampai, muncul slogan 'Kepentinganku adalah Kepentingan Bangsa' . Wuih,parah...

Itulah kenyataannya, Sis! Ikatan nasionalisme ternyata hanya mampu menjalin kebersamaan dalam kondisi terserang. Musuh datang, kita garang. Musuh pulang, kita tenang-tenang...

Apa yang Salah dengan Nasionalisme?

Mos Reader, tau 'ga gimana sejarah PBB terlahir? Buat kamu yang belum tau, begini ceritanya..
Sejak Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah tahun 1924, wilayah Islam yang membentang dari ujung Afrika Utara di Barat hingga Indochina di Timur, dibagi-bagi sebagai tanah jajahan oleh Inggris, Perancis, Spanyol dan Portugis. (silakan baca kembali perjanjian-perjanjian pembagian tanah-tanah jajahan Eropa; Perjanjian Berlin, Perj. Sykes Picot, dan sebagainya).

Seiring berjalannya waktu, para negara penjajah tersebut capek menjajah secara fisik. Perlahan-lahan mereka mengubah cara penjajahannya. Mereka terapkan taktik penjajahan versi baru. Mereka tidak perlu repot-repot mengurus wilayah jajahan yang luas itu, tapi kas negaranya masih tetap bisa menggelembung. Caranya adalah, negara-negara muslim yang terjajah itu dilepaskan satu persatu. Yang menjadi catatan adalah, sebelum mereka dilepaskan menjadi negara merdeka, para penjajah menghembuskan semangat nasionalisme. Sehingga para negeri terjajah itu, sangat mencintai negerinya dan tak sudi wilayahnya dikuasai oleh orang asing. Hal itu mudah saja dilakukan. Siapa sih makhluk hidup yang tak punya rasa memiliki? Anak kecil saja pasti marah, kalau mainannya direbut.

Nah, yang briliannya lagi, para negara penjajah tersebut membuat suatu Badan yang bertugas sebagai polisi dunia. Tugas sang polisi dunia tersebut adalah menjaga keutuhan negara-negara yang baru merdeka tersebut. Jangan sampai mereka tergoda untuk bersatu dalam satu kepemimpinan seperti di masa keKhilafahan dulu. Mos Reader pasti tau 'kan siap polisi dunia yang dimaksud? Yup, dialah PBB. Sang wayang yang menunggu perintah dalang (baca: Negara-negara kafir Barat penjajah)

Sampai di sini, kita mendapatkan jawaban atas pertanyaan 'Apa yang salah dengan nasionalisme?'. Yang salah adalah, kita (kaum muslimin) telah diperdaya mentah-mentah oleh kafir penjajah, sehingga kita tak lagi kenal mana kawan, mana lawan. Nasionalisme yang dipropagandakan oleh kaum kafir penjajah itu, telah membuat kita (kaum muslimin) tercerai-berai!

Nasionalisme itulah yang membuat Mesir (negeri muslim) membuat pagar pembatas dengan Palestina (yang juga negeri muslim), hanya karena tak mau kecipratan bom Israel.
Nasionalisme jugalah yang membuat Indonesia dan Malaysia saling berseteru menggadaikan persaudaraan Islam hanya karena perkara satu dua pulau yang sejatinya sama-sama milik kaum muslimin juga.
Nasionalisme juga yang mengajarkan kita pada aktivitas menyibukkan diri di negeri sendiri dan tak mau tau dengan urusan kaum muslimin di negeri lain. Miris...

Kaum Muslimin Tak Terpisah oleh Batas Geografis

Islam mengajarkan bahwa ikatan sesama muslim, hanyalah ikatan yang dilandasi oleh akidah Islam. Masih inget 'kan bagaimana dulu Rasulullah mempersaudarakan antara suku Aus dan Khazraj, yang sudah berabad-abad mewarisi peperangan dari nenek moyangnya? Juga bagaimana Rasulullah mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar?

Jalinan yang mengikat antar kaum muslimin saat itu, sungguh ikatan yang kuat dan lekat. Kenapa? Karena ikatan tersebut lahir dari akidah yang tertanam kuat di dalam dada kaum muslimin. Persaudaraan yang lahir dari ikatan tersebut tak mengenal suku, ras, bangsa, warna kulit, bahasa, dan segala perbedaan fisik lainnya. Persaudaraan fil Islam telah melahirkan kesatuan yang tak hanya di satu wilayah, melainkan seluruh dunia. Sehingga, tidak ada istilah saling berseteru atas nama daerah.

Dulu, zaman Khalifah Umar bin Khattab, jazirah Arab dilanda paceklik dan kelaparan. Maka Umar pun memerintahkan agar Amr bin'Ash, wali di Ethiopia untuk mengirimkan bahan pangan dan bantuan untuk penduduk jazirah Arab. Bantuan langsung datang seketika, dan 'Amr bin 'Ash berkata, "Ketika bantuan ini sampai di hadapan Amirul Mukminin, sesungguhnyakami masih mengirimkan unta-unta yang penuh membawa makanan". Subhanallah!

Rasulullah SAW bersabda: "Bukan dari golongan kami orang-orang yang menyeru kepada ashshobiyyah (fanatisme golongan), orang yang berperang karena ashshobiyyah, dan orang yang mati karena ashshobiyyah." [HR. Abu Dawud]

"Dan siapa saja yang berperang di bawah panji kejahilan, ia marah karena ashshobiyyah, atau ikut menolong (membantu) demi ashshobiyyah, kemudian ia terbunuh, maka matinya adalah mati jahiliyah." [HR.Muslim]

Jadi jelas, ketika kita memiliki rasa kecintaan terhadap tanah air hingga keluar dari persaudaraan fil Islam, maka kita adalah bagian dari orang-orang yang memperjuangkan ashshobiyyah.

Mungkin, ada di antara Mos Reader yang bertanya, bukannya ada ungkapan 'Cinta tanah air adalah sebagian dari iman'?
Ya betul. Ungkapan itu memang ada, bahkan kadung terkenal sebagai hadits. Tapi, ketahuilah, Mos Reader! Itu bukan hadits, itu hanya pepatah orang Arab. Dan pepatah jelas tidak bisa mengalahkan derajat sabda Rasulullah SAW.

Kecintaan terhadap tanah air adalah sesuatu yang lumrah, seperti halnya rasa cinta kita terhadap harta benda, adik,kakak, orangtua, dsb. Rasa cinta itu lahir karena kita memiliki kenangan dengan tanah kelahiran kita dan segala hal yang berkaitan dengannya. Tapi, ketika kecintaan tersebut telah membuat kita melupakan dan tak peduli dengan kondisi kaum muslimin di belahan dunia yang lain, maka siap-siaplah berdebat dengan Rasulullah.

"Siapa saja yang bangun pagi hari dan ia hanya memperhatikan masalah dunia(nya), maka orang tersebut tidak berguna apa-apa di sisi ALLAH. Dan siapa saja yang tidak memperhatikan urusan kaum muslimin, maka ia tidaklah termasuk golongan mereka" (HR Thabrani, dari Abu Dzar Al-Ghifari, Al Hakim)

Nah, Kawan! Masihkah mau memperjuangkan ashshobiyyah?

*Tulisan merupakan materi buletin remaja lokal "Muslimah on Stage"
Title: TETAP EKSIS, TANPA BATAS GEOGRAFIS
Posted by:Yulia Nisa
Published :2012-06-02T15:41:00+07:00
Rating: 5
Reviewer: 564953 Reviews
TETAP EKSIS, TANPA BATAS GEOGRAFIS

Artikel Terkait

0 komentar

Leave a Reply

Hak Cipta Hanya Milik Allah SWT, Menyadur dan Menyebarkan isi Website ini Sangat di anjurkan - Web Desain by jawara web | seacrh engine | butik muslim | situs islam | islamic wallpaper | situs berita global