Guest Book

powered by Is Banned ???

You Are Here: Home - Densus 88 , Nasional - Kebohongan Polisi Terkait Teroris Solo


khoirunnisa-syahidah.blogspot.com - Jakarta –  Polisi melakukan kebohongan kepada masyarakat dengan menyebut kejadian penembakan di Solo dilakukan para teroris. Ketua Presidium Indonesian Police Watch (IPW) Neta S Pane menilai, aksi penembakan terhadap polisi di Solo bukan serangan yang dilakukan oleh teroris, seperti yang selama ini disebut polisi.
Menurutnya, ada hal yang sangat signifikan untuk diragukan, yaitu pelaku menembak polisi dari jarak dekat dan menggunakan senjata FN, seperti dikatakan pihak kepolisian. “Penembakan terhadap polisi di Solo bukan dilakukan teroris yang selama ini disebut-sebut polisi,” kata Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane, Selasa (4/9/2012).
Sebelumnya Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Anang Iskandar, mengatakan bahwa korban bernama Bripka Dwi Data Subekti tewas seketika akibat tertembak di dada sebanyak empat kali. “Ya, telah terjadi penembakan di Pos Polisi Matahari Singosaren jam 21.00, ditembak jarak dekat. Korban Briptu Data, anggota Polsek Serengan dengan luka empat tembakan di dada,” kata Anang saat itu, seperti dikutip kompas.com.
Menurut Neta, ada hal yang sangat berbeda dan sangat signifikan dalam peristiwa di Solo itu, yakni, pelaku menembak polisi dengan jarak dekat dengan senjata yang menurut polisi adalah FN. “Fakta yang ada selama ini adalah, para teroris selalu menyerang targetnya dari jarak jauh memakai remote control maupun menggunakan handphone. Kalaupun ada serangan jarak dekat, hanya aksi bom bunuh diri,” kata Neta.
Kata Neta, pola penyerangan yang dilakukan pihak tertentu terhadap anggota polisi di lapangan perlu dicermati secara jernih, agar petugas di lapisan bawah tidak terus menerus menjadi korban sia-sia.

Presidium IPW Neta S Pane: Siapa yang berani menembak polisi dari jarak dekat? Tak lain adalah orang-orang terlatih dan orang-orang yang sudah terbiasa berada di lingkungan aparat keamanan…

“Perbedaan ini sangat signifikan. Pertanyaannya, siapa yang berani menembak polisi dari jarak dekat? Tak lain adalah orang-orang terlatih dan orang-orang yang sudah terbiasa berada di lingkungan aparat keamanan. Sebab itu, IPW menilai, antara penembakan polisi di Solo dan penyergapan polisi di Solo adalah dua hal berbeda,” jelasnya.
Terkait teror di Solo ini, menurutnya, ada dua hal yang mendasari sehingga polisi dijadikan target penyerangan. Pertama, akumulasi kekesalan terhadap sikap, perilaku, dan kinerja polisi. Kedua, memperburuk citra Polri agar terjadi krisis kepercayaan pada institusi tersebut. Yang dimaksud adalah, terbangunnya opini bahwa Polri tak mampu melindungi anggotanya sendiri. “Sehingga muncul opini, untuk melindungi dirinya saja Polri tidak mampu, bagaimana pula untuk melindungi masyarakat,” ujar Neta.
Ia juga mengimbau agar Polri lebih jernih mencermati pola penyerangan yang dilakukan oleh pihak tertentu. Hal ini dinilai penting agar para anggota Polri di lapisan bawah tidak terus-menerus menjadi korban sia-sia.
Neta melanjutkan, peristiwa ada penggiringan opini ini penting untuk menggolkan RUU Kamnas. “Sebab esensi dari keberadaan RUU Kamnas adalah mengebiri dan mengerdilkan peran Polri dalam sistem keamanan di negeri ini. Hal itulah yang harus diantisipasi Polri,” ungkapnya.
IPW berharap, Polri jangan terjebak dengan stigma ala Orde Baru yang jika terjadi masalah langsung main tuding PKI dan komunis. Kini stigmanya diubah, jika terjadi masalah langsung main tuding, teroris dan Islam radikal.
Ada Tiga Kejanggalan Operasi Densus 88 di Solo
Indonesian Police Watch (IPW) menyatakan ada tiga kejanggalan dalam penyergapan terhadap orang-orang yang disebut sebagai teroris oleh polisi Solo pada 31 Agustus 2012. “Ada tiga kejanggalan dalam penyergapan itu,” kata Ketua Presidium IPW, Neta S Pane melalui siaran persnya di Jakarta, Ahad kemarin. Ia menjelaskan kejanggalan pertama terletak pada pistol yang disita dari tertuduh teroris yang terbunuh adalah jenis Bareta dengan tulisan “Property Philipines National Police”.
Padahal, kata Neta, sebelumnya Kapolresta Solo, Kombes Asdjima’in menyebutkan senjata yang digunakan menembak polisi di Pos Pengamanan (Pospam) Lebaran adalah jenis FN kaliber 99 milimeter (mm). “Pertanyaannya apakah orang yang ditembak polisi itu, benar-benar orang yang menembak polisi di Pospam Lebaran atau ada pihak lain sebagai pelakunya,” katanya.
Kedua, ia menambahkan Bripda Suherman, anggota Densus 88 tewas akibat tertembak di bagian perut. “Ini menunjukkan anggota Densus 88 dalam bertugas yang bersangkutan tidak sesuai dengan “Standard Operational Procedure” (SOP) yang harus memakai rompi anti peluru,” katanya.
Pertanyaannya apakah benar pada 31 Agustus 2012 malam itu, ada operasi Densus 88. “Jika ada kenapa anggota Densus 88 bisa teledor bertugas tidak sesuai SOP,” katanya.
Ketiga, beberapa jam setelah penyergapan itu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memerintahkan Kapolri segera meninjau tempat kejadian perkara (TKP). “Padahal dalam peristiwa-peristiwa sebelumnya, hal itu tidak pernah terjadi bahkan saat tiga kali penyerangan terhadap Pospam Lebaran itu, Presiden tidak bersikap seperti itu,” katanya.
Pertanyaannya apakah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ingin membangun citra dan menarik simpati publik dari peristiwa Solo yang terjadi sebelumnya yang sempat memojokkan Joko Widodo, Walikota Solo yang saat ini menjadi Calon Gubernur DKI Jakarta.
Karena itu, IPW menganalisa meski Densus 88 sudah melakukan penyergapan di Solo tapi teror dan penembakkan terhadap polisi tetap menjadi ancaman. “Sebab rasa kesal sebagai masyarakat terhadap polisi kian memuncak,” katanya.
Selama lima bulan pertama pada 2012, terdapat 11 polisi yang dikeroyok masyarakat. “Untuk itu, IPW mengimbau Polri agar mengubah sikap, perilaku dan kinerjanya. Jangan arogan, represif, memeras dan memungli masyarakat,” katanya.
Almarhum Farhan Mujahidin
Seperti diberitakan sebelumnya, Detasemen Antiteror pada Jumat (31/8/2012) malam lalu menyergap tiga orang yang diduga menembak Ajun Inspektur Dua (Anumerta) Dwi Data Subekti hingga tewas. Diduga, dua dari tiga pelaku itu, yakni Farhan Mujahidin (19) dan Mukhsin Sanny Permadi (19), tewas dalam baku tembak di Jalan Veteran, Kelurahan Tipes, Solo. Satu lainnya, Bayu Setiono, warga Tipes, ditangkap di kediaman mertuanya di Desa Bulurejo, Kecamatan Gondangrejo, Karanganyar, Jawa Tengah. 
[KbrNet/Slm/Kmps/khoirunnisa-syahidah.blogspot.com]
Title: Kebohongan Polisi Terkait Teroris Solo
Posted by:Yulia Nisa
Published :2012-09-06T10:39:00+07:00
Rating: 5
Reviewer: 564953 Reviews
Kebohongan Polisi Terkait Teroris Solo

Artikel Terkait

0 komentar

Leave a Reply

Hak Cipta Hanya Milik Allah SWT, Menyadur dan Menyebarkan isi Website ini Sangat di anjurkan - Web Desain by jawara web | seacrh engine | butik muslim | situs islam | islamic wallpaper | situs berita global