Guest Book

powered by Is Banned ???

You Are Here: Home - Khilafah - Peran Politik Perempuan dalam Sistem Islam (Khilafah) Vs Sistem Demokrasi

314.jpg (1024×768)
www.syahidah.web.id - Muslimah HTI DPD I Sumsel mengadakan Workshop Tokoh Muslimah Sumsel, pada hari Sabtu, tanggal 20 April 2013, pukul 08.00-15.30 WIB, bertempat di Aula Bina Pemprov Sumsel. Adapun tema workshop tokoh Muslimah Sumsel adalah “PERAN POLITIK PEREMPUAN DALAM SISTEM ISLAM (KHILAFAH) VS SISTEM DEMOKRASI” dengan pembicara; 1. Ibu Syafrida, S.H. (Aktivis Perempuan Sumsel), 2. Ustadzah Ir. Dedeh Wahidah Ahmad (DPP Muslimah HTI), dan 3. Ustadzah Qisthy Yetty Handayani, S.Pt (DPD I Muslimah HTI Sumsel) serta moderator acara Ustadzah Eti Sudarti Adilah, S.P. (DPD II Muslimah HTI Palembang).

Dihadiri oleh 250 tokoh Muslimah dari berbagai kalangan: Majelis Ta’lim, Birokrat, Pendidikan, Insan Media dan Intelektual. Materi pertama membahas mengenai “peran politik perempuan dalam sistem demokrasi” yang disampaikan oleh Ibu Syafrida, S.H. Pemateri kedua Ustadzah Ir. Dedeh Wahidah Ahmad dengan materi “Khilafah: melindungi perempuan dari kemiskinan dan eksploitasi”, dan Pemateri terakhir Ustadzah Qisthy Yetty Handayani, S.Pt. yang membahas “peran politik perempuan dalam Islam”. Para peserta begitu antusias mengikuti materi yang sampaikan oleh para pembicara.
Di akhir acara dibacakan pernyataan sikap Muslimah HTI Sumsel bersama tokoh Muslimah Sumsel. Isi pernyataan sikap tersebut adalah
1        Mendukung perjuangan penegakan syariah dan Khilafah yang akan menjamin kesejahteraan dan kemuliaan martabat bangsa termasuk perempuan, keluarga dan generasi dengan cara berperan aktif dalam politik Islam.
2        Demokrasi merupakan suatu pemikiran yang bertentangan dengan Syariah Islam maka kami khususnya Perempuan Sumatera Selatan menolak untuk memperjuangkan dan juga berpartisipasi di dalamnya karena tidak ada sedikitpun kemuliaan di dalamnya.
3        Mendukung perjuangan Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia Sumatera Selatan dengan mengerahkan segala potensi, daya dan upaya demi segera tegaknya Syariah dalam bingkai Khilafah dengan berpartisipasi langsung dalam acara Muktamar Khilafah yang akan diadakan di Stadion Bumi Sriwijaya pada tanggal 12 Mei 2013 dengan tema “Perubahan Besar Dunia Menuju Khilafah.”
Hal ini ditanggapi positif oleh para peserta workshop, bahkan begitu acara selesai para peserta menghubungi para panitia dan meminta agar Muslimah HTI Sumsel bersedia untuk mengisi ta’lim para peserta workshop.[]

[www.syahidah.web.id]
Title: Peran Politik Perempuan dalam Sistem Islam (Khilafah) Vs Sistem Demokrasi
Posted by:Yulia Nisa
Published :2013-05-02T12:25:00+07:00
Rating: 5
Reviewer: 564953 Reviews
Peran Politik Perempuan dalam Sistem Islam (Khilafah) Vs Sistem Demokrasi
Tags: Khilafah

Artikel Terkait

1 komentar

  1. ALi Zain says:

    Negara-negara Barat mengaku paling menjunjung
    tinggi kebebasan (paling demokratis).
    Seorang wartawan Amerika datang & bertanya
    pada saya:
    “Bagaimana tentang masuknya kaum wanita ke
    parlemen, dan bagaimana tentang wanita
    menyetir mobil (yang tidak diperkenankan di
    Saudi)..???”
    Maka saya jawab: Pertama, apakah kaum wanita
    kami mengadu kepada anda, Sehingga anda
    mencampuri urusan kami?? Mengapa anda
    (lancang) mencampuri urusan kami?. Itu
    pertanyaan pertama.

    Kedua, saya Tanya pada anda: “Bukankah
    presiden Amerika waktu masih muda menyetir
    mobil sendiri??”..

    Dia jawab: “Ya betul”.
    “Lalu ketika menjadi gubernur negara bagian juga
    kadang masih nyetir mobil?”
    Dia jawab: “ya”. “Tetapi setelah menjadi presiden Amerika, apakah
    sang presiden nyetir mobil sendiri?”,
    dia jawab: “Tidak”.

    Saya Tanya lagi: “Mengapa?”
    dia jawab: “Sebagai bentuk penghormatan dan
    penjagaan kami padanya”.

    Maka saya katakan kepadanya: Itulah yang kami
    lakukan pada kaum wanita kami. Kami menyopiri
    wanita kami sebagai bentuk penjagaan &
    penghormatan kepada kaum wanita kami. Saya
    menyupiri saudari, istri dan anak-
    anak perempuan saya. Kemudian saat kami
    dalam perjalanan.. jika saya kembali ke Mekah
    dengan pesawat dan para wanita bersama kami,
    apa yang terjadi?

    Wartawan menjawab: 'laki-lakilah yang melayani
    wanita".

    "Ya, Dialah yang mendampingi mereka, dia
    yang menjaganya dan melayaninya serta
    membawakan tasnya."

    Dalam realitas kehidupan kami, jika kami bepergian -tanpa
    melebih lebihkan- sekitar 70 – 80%, kamilah yang
    melayani keperluan para istri kami; dalam
    menyetir mobil, keperluan di hotel, mencari hotel,
    bahkan dalam haji kamilah yang memasak dan
    mereka tinggal memakannya. Itu adalah fakta
    yang diketahui semua orang, .. dan sesungguhnya
    ini adalah bentuk pelayanan kami
    kepada kaum wanita.

    Lalu saya meledek wartawan Amerika itu: “Anda
    bilang (Amerika paling) menghormati wanita dan
    mempertanyakan tidak masuknya wanita kami ke
    parlemen, sejak kapan Amerika merdeka?”
    Dia
    Menjawab: "lebih dari 200 tahun."

    “kalau begitu tunjukkan kepada saya SATU saja
    presiden Amerika yang wanita!"

    dia jawab: “gak ada satu pun” .

    Saya bilang: “Kalo tidak ada, adakah wakil presiden yang
    wanita??” .

    Dia jawab: “tidak ada juga ..”.

    Saya berkata padanya: “Kalian itu sebenarnya
    pendusta(hanya bisa berkata)"..

    "Beritahukan pada saya, dalam sejarah konggres
    (sejak dulu sampai sekarang) kapan ada masa
    di mana jumlah wanita sama dengan jumlah laki-
    laki??"

    dia jawab: "belum pernah ada sekalipun." >_<

    “Kalian hanya memasukkan beberapa wanita saja
    (ke parlemen) lantas berani mentertawakan kami ???”.

    * Kisah Syekh Nashir Al-’Umar dalam seminar bertema:
    Kesepakatan dan Muktamar #Wanita Internasional
    dan Dampaknya terhadap Dunia #Islam

Leave a Reply

Hak Cipta Hanya Milik Allah SWT, Menyadur dan Menyebarkan isi Website ini Sangat di anjurkan - Web Desain by jawara web | seacrh engine | butik muslim | situs islam | islamic wallpaper | situs berita global