Guest Book

powered by Is Banned ???

You Are Here: Home - Pernikahan - Prenup Pemisahan Harta Suami-Istri

syahidah.web.idPrenup atauprenuptial agreement adalah perjanjian pranikah. Biasanya, perjanjian ini terkait dengan kepemilikan harta. Suami dan istri ingin hartanya dihitung secara terpisah. Laporan pajaknya pun terpisah.
Kalangan pengusaha dan wanita karir melirik prenup untuk melindungi hartanya, baik harta pribadi maupun bisnis. Bila suami bangkrut, harta istri tidak ludes untuk membayar hutang-hutang suami. Demikian pula sebaliknya.
Pandangan Islam atas Pemisahan Harta Suami-Istri
Berlawanan dengan anggapan umum, Islam justru telah memisahkan harta suami-istri tanpa perlu perjanjian khusus (by default). Islam menjadikan tiap-tiap individu, laki-laki maupun perempuan, bertanggung jawab atas amal masing-masing, termasuk dalam zakat, sedekah, infaq, pengelolaan bisnis, hingga waris. Allah SWT berfirman, “Baginya apa yang diusahakannya dan bagimu apa yang kamu usahakan; kamu tidak akan diminta pertanggungjawaban tentang apa yang orang lain kerjakan.” [QS. al-Baqarah 141]
Ketika menyuruh umatnya bersedekah, Rasulullah SAW secara khusus berpesan agar para wanita bersedekah. Sabdanya, “Wahai para wanita, bersedekahlah, karena aku telah melihat banyak penghuni neraka adalah dari golongan kalian.” [HR Bukhari No. 1462]
Demikian pula dalam berzakat. Wanita bertanggung jawab menzakati harta pribadinya. Diriwayatkan oleh ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya tentang dua wanita yang mengenakan gelang, lalu Rasulullah SAW bertanya, “Sudahkah kalian bayar zakatnya?” Keduanya menjawab, “Belum.” Nabi bertanya lagi, “Maukah kalian bila kelak Allah mengenakan gelang dari api neraka?” Mereka jawab, “Tidak!” Nabi melanjutkan, “Maka bayarlah zakatnya.” [HR Tirmidzi No.637] Nabi SAW tidak menagih zakat para wanita ini melalui ayah, suami atau wali mereka, namun para wanita sendirilah yang wajib membayar zakat atas harta pribadinya.
Hikmah Pemisahan Harta
Dalam pemisahan harta, minimal ada tujuh hikmah. Pertama, istri memiliki kesempatan untuk mendapatkan pahala sendiri melalui zakat dan sedekah. Selama ini, istri dianggap hanya “nunut” (numpang) hidup pada suami sehingga menutup haknya untuk bersedekah secara mandiri.
Kedua, menghilangkan perebutan harta gono-gini, apabila keduanya bercerai. Gono-gini sering memunculkan dendam. Padahal keduanya tetap harus bekerja sama dalam pengasuhan anak.
Ketiga, memperkecil pertengkaran antara suami istri. Salah satu pemicu pertengkaran rumah tangga adalah urusan belanja. Misal, suami tidak suka tempe, namun istri hanya menyajikan tempe. Istri ingin memakai sisa uang belanja untuk berinvestasi. Akhirnya, suami diam-diam makan di luar dan istri diam-diam memotong jatah belanja. Suami-istri bermain petak umpet untuk mengamankan kepentingannya.
Keempat, memberi kesempatan kepada suami untuk menafkahi orang tua dan kerabatnya. Islam menetapkan kewajiban nafkah tidak hanya kepada anak-istri, namun juga kepada orang tua dan keluarga yang membutuhkan. Campur tangan istri sering membuat suami ragu melaksanakan kewajiban ini. Demikian pula istri, untuk bersedekah kepada orang tua maupun kerabatnya tanpa menunggu ijin suami. Istri hanya wajib meminta ijin suami apabila hendak bersedekah dengan harta suami.
Kelima, mempererat hubungan persaudaraan dan mengurangi gesekan dengan menantu/ipar. Secara fitrah, manusia lebih mudah berbagi dengan anak/saudara kandung dibandingkan dengan ipar/menantu.
Keenam, memudahkan pelaksanaan hukum waris. Suami/istri bukanlah ahli waris utama. Bagian suami hanya 1/2 atau 1/4, sedang istri 1/4 atau 1/8 [QS. an-Nisa’ 12]. Selebihnya merupakan hak anak. Bila tidak ada anak laki-laki, maka orang tua atau saudara  juga mendapatkan bagian. Apabila harta suami-istri bercampur, suami/istri yang ditinggalkan akan kesulitan/enggan memberikan hak ahli waris lainnya, terutama kepada mertua, saudara ipar, atau anak almarhum dari pasangan sebelumnya.
Ketujuh, pemisahan harta memudahkan suami berlaku adil kepada istri-istrinya. Meskipun poligami merupakan topik yang tidak disukai, namun hal ini bagian dari syariat dan fakta kehidupan. Suami yang tidak adil akan mendapatkan azab yang berat didunia dan akhirat.
Bagaimana Bila Istri “Tidak” Bekerja?
Sesungguhnya tidak ada istri yang tidak bekerja. Semua bekerja. Ada yang bekerja di luar rumah dan ada yang bekerja di dalam rumah (domestik). Istri yang bekerja domestik juga memiliki harta pribadi, yaitu mahar [QS. an-Nisa’ 4], hadiah, warisan [QS. an-Nisa’ 11] dan nafkah dari suami [QS. an-Nisa’ 34].
Nafkah dari suami dapat diibaratkan sebagai gaji istri. Bagi suami yang miskin, nafkah wajibnya adalah pemenuhan kebutuhan pokok: makanan, pakaian, dan tempat tinggal. Bagi suami yang mampu, istri berhak meminta lebih dari itu, semisal tambahan uang saku yang besarnya disepakati bersama.
Harta-harta ini adalah hak pribadi istri. Ia berhak menggunakan sesuai kehendak hatinya dan ia akan mempertanggungjawabkan di hadapan Allah. Asma’ binti Abu Bakar bertanya kepada Rasulullah SAW: “Ya Rasulullah, aku tidak memiliki harta kecuali apa yang diberikan Zubair (suaminya). Bolehkah aku sedekahkan?” Rasulullah menjawab, “Sedekahkanlah! Bila kamu kikir maka Allah akan kikir kepadamu.” [HR. Bukhari No. 2590]
Hadist di atas menunjukkan bahwa harta pemberian suami (nafkah dari suami) sudah menjadi kewenangan istri. Ia tidak memerlukan ijin suami untuk membelanjakannya.
Sedangkan istri yang bekerja di luar rumah mendapat tambahan hak atas gaji yang diperolehnya [QS. al-Baqarah 233] atau atas keuntungan dari bisnisnya. Suami yang mengijinkan istrinya bekerja menyadari penuh bahwa hasil kerja istri adalah mutlak milik si istri, kecuali bila istri memberikan sebagian kepada suami sebagai sedekah [HR. Bukhari No. 1462]
Harta Suami
Bila nafkah dari suami merupakan kewenangan istri, apa hak suami? Allah SWT berfirman, “…para suami telah menafkahkan sebagian dari harta mereka kepada para istri…” [QS.an-Nisa’ 34]. Nafkah suami kepada istri adalah SEBAGIAN bukan seluruhnya. Suami memiliki kewajiban lain, seperti nafkah untuk diri sendiri, untuk anak-anaknya yang belum dewasa (termasuk anak-anak dari istri sebelumnya), untuk membayar keperluan rutin rumah tangga (listrik, dll), untuk orang tuanya, anak-anak yatim dalam tanggungannya, hingga kerabat yang membutuhkan. Selain gaji, harta suami meliputi warisan dan hadiah yang pernah ia dapatkan. Barang-barang yang ia beli, termasuk rumah/mobil, merupakan miliknya, kecuali bila ia hadiahkan/belikan untuk istri.
Demikianlah Islam mengatur pengelolaan keuangan suami dan istri. Kedua belah pihak harus saling menghargai harta pasangannya. Perjanjian pemisahan harta di depan notaris merupakan salah satu upaya untuk melegalkannya secara hukum negara.
*Dosen Pascasarjana Universitas Ibn Khaldun, Bogor
(muslimahzone.com/www.syahidah.web.id)
Title: Prenup Pemisahan Harta Suami-Istri
Posted by:Hisyam Ad dien
Published :2015-09-04T06:32:00+07:00
Rating: 5
Reviewer: 564953 Reviews
Prenup Pemisahan Harta Suami-Istri
Tags: Pernikahan

Artikel Terkait

0 komentar

Leave a Reply

Hak Cipta Hanya Milik Allah SWT, Menyadur dan Menyebarkan isi Website ini Sangat di anjurkan - Web Desain by jawara web | seacrh engine | butik muslim | situs islam | islamic wallpaper | situs berita global