..**Mengenang Sejenak Perjalanan Panjang**..

Dalam renunganku,........... 
Di tengah-tengah geliat dan dinamika perjuangan yang semakin kompleks saja,..........
Terngiang-ngiang bayangan derap langkah kakiku dari saat2 awalnya kupilih jalan ini hingga saat-saat kutermenung sekarang ini,............


sejenak akan sebuah perjalanan
Terkenang  panjang,............ 


Ehm, mulanya kuanggap mudah perjalanan ini dan kulalui dengan mengalir begitu saja, bagaikan aliran air dari hulu ke hilir atau bagaikan bulu ayam yang diterbangkan angin kesana-kemari.............., Dengan idealisme khas seorang remaja kusambut hangat uluran tangan mereka yang ramah mengajaku tanpa rasa curiga sedikitpun.
Pada awalnya, aku belum memahami sepenuhnya arti perjalanan panjang ini. Begitupun arti keridloan dan perjumpaan dengan Yang Maha Agung, yang konon merupakan puncak kebahagiaan manusia.

Agaknya, kekurangpahaman akan hal ini menyebabkan banyaknya rekan seperjuanganku yang mengurungkan niat, menghentikan derap langkah mereka. Atau mereka segera merasa letih, atau memilih jalan lain yang tampaknya lebih menjanjikan kemudahan. Namun aku tiada terganggu sedikitpun. Sementara jalan dihadapanku semakin menanjak dan menyempit. Dan waktu pun terus berlalu..... aku dan yang lainnya terus melangkah, terseret-seret, tertatih-tatih, teerseok-seok, dan jatuh bangun. Semakin hari semakin bertambahlah usia yang kuhabiskan di jalan ini. Dan semakin hari pula kupahami tabi'at jalan yang telah kupilih ini.


Entah sudah untuk yang keberapa kalinya lutut ini bergetar. Nafas pun mulai tersengal. Kadang kujumpai seseorg berdiri di tengah jalan. Ia tampaknya tak menyukai kehadiranku. Menatapku dengan penuh curiga, menolak ajakan yang kusampaikan, bahkan menggelariku dengan gelar-gelar yang sangat buruk. Tapi, aku harus melewati jalan ini. Dengan segenap kemampuan yang kumiliki, kuhadapi ia. Terkadang saudara-saudaraku tidak tinggal diam membiarkanku berkelahi sendirian. Mereka membantuku semampunya, meskipun aku menginginkan bantuan lebih. Aku mengerti kalau saudara-saudaraku pun memiliki urusan-urusan lain yang harus mereka selesaikan.

Entah beberapa kali sudah aku tersungkur. Orang bilang aku terlalu ringkih untuk menuntaskan seluruh perjalanan panjang ini. Tapi aku tak mau peduli sedikitpun. Masih pekat keyakinanku, DIA yang akan kujumpai disana snantiasa akan mmberikan kekuatan ghaibNYA kepadaku.
Kini dhadapanku berdiri angkuh tebing terjal. Tanahnya coklat basah. Ada jalan setapak. Di pinggirnya ada semak-semak liar, yang menatapku dengan masam. Sementara dari sudut mataku, dapat kutangkap adanya jalan lain yang jauh lebih mudah. Tak ada tanah licin yang menantiku tergelincir. Tak ada semak yang mengejek. Tak ada duri yang akan melukaiku. Tak ada lubang yang menungguku terjerembab. Jalannya pun lapang dan teduh. Tapi aku tak mau menatap jalan itu. Kupertajam tatapanku ke arah tebing angkuh tadi. Samar dapat kulihat jejak-jejak kaki orang-orang sebelumku. Namun terkadang tak kulihat jejak sama sekali.

Dan babak baru perjalanan pun kumulai. Setiap langkah harus diperhitungkan dengan cermat. Salah pijak, hampir pasti akan tergelincir. Terpaksa kuakui kalau nyali ini agak menciut. Namun kututupi sedapatnya.

Akupun terus naik,...naik,...dan naik.

Ah,...seorang saudaraku tergelincir, tepat disebelahku! Kuulurkan tangan menahan laju jatuhnya. Tapi terlalu berat. Dengan pasti aku akan turut terseret. Namun ia tak berusaha untuk turut naik. Sementara pijakanku pun smakin tak pasti. Dengan berat kuputuskan untuk melepaskan peganganku. Ia mngerti. Ia mngerti kalau aku paham bahwa keberaniannya telah luruh. Ia ingin segera menuju jembatan yang memisahkan jalan kami dengan jalan lain yang lebih mudah, lebih ramah, walau entah menuju kemana..

Bahkan sempat ku dengar kabar, terhentinya perjalanan salah seorang saudriku, yang dulu turut membimbingku melewati masa-masa awal perjalanan ini. Dan semakin banyak saja yang mengikuti jejak mereka!

Di setiap jalur yang aku tempuh, ada tempat-tempat peristirahatan sejenak. Tempatku melepaskan segala keluh kesah dan keletihan. Biasanya, DIA akan menurunkan pembantuNYA untuk menghiburku, orang-orang yang mendambakan juga perjumpaan denganNYA. Disini aku bisa menangis sejadinya. Menghimpun keberanian, guna melanjutkan langkah..

Robb..
Telah kupenuhi panggilanMU, membawa tubuh ringkih ini mlewati jalan yang KAU kehendaki. Telah kucoba melepas segenap yang aku mampu untuk mengatasi beratnya medan yang menghalang. Telah kucoba atasi, sedapatnya panas hari-hari yang kulewati.

Telah kugenggam dengan erat bara api yang panas membakar ini. Yang tak kan pernah kulepaskn sedikitpun juga.
Telah ku emban mabda' ini mesti kumerasa terasing di tengah-tengah kehidupan ini.
Bahkan telah kutajasudkan aqidah aqliyah ini, kujadikan qo'idah dan qiyadah fikriyyah, kujadikan jalan ini sebagai poros hidup.
Meskipun aku harus hancur lebur karenanya.

Tetapkan aku dalam jalan ini sepahit apapun peristiwa yang menghadang hingga aku menemuiMU, ya Robb. . . Aamiin.

Namun ampuni aku ya Allah. . .
Betapa seringnya hamba tertegun ragu untuk melanjutkan perjalanan yang pnjang ini, semuanya memang dikarenakan kelemahan hati ini yang masih mencicipi kenikmatan duniawi.

Kinipun hati yang peragu ini masih diguncang gundah. Akan kali KAU terima buah karya tangan lemah ini..?
Akankah KAU hargai, pabila saat ini hatiku masih juga mengharapkan wajah lain selain wajahMU..? Jika masih kudamba pujian selain pujianMU..? Betapa semakin berat persangkaanku akan kesia-siaan amalanku.
Jika kuingat betapa seringnya aku melakukan kelalaian..?
Namun, ku yakin KAU Maha Pengasih, Maha Penyayang dan Maha Pengampun. Karena itu, kasihilah aku.. Sayangilah aku dan ampunilah segala dosaku ini. Aamiin.


Ada ku dengar jalan lain yang jauh lebih sulit dari yang kini ku tempuh..
Orang-orang yang melewatinya adalah orang-orang perkasa dengan nyali melebihi singa.!
Mereka mempertaruhkan segalanya, harta, nyawa sekalipun.!
Merek meyakini dan merasakan, meregangnya nyawa dari jasad justru mempercepat perjumpaan mereka dengan Sang Kekasih..

Ada terpikir olehku untuk melewati pula jalan itu. Namun aku cukup arif untuk mnyadari, betapa diri ini tak layak disejajarkan dengan mereka. Siapakah aku ini dibandingkan mereka yang senantiasa bersimbah peluh dan debu untuk membuktikan kecintaan kepadaNYA..?
Betapa lancangnya aku, mengukur diri ini dengan mereka yang menghabiskan waktunya dengan da'wah dan jihad, menghabiskan malamnya dengan sujud tersungkur, mengharapkan ampunan dan cintaNYA.

Dan akupun harus bersabar. . .


Kupandangi tanah datar dihadapanku. Di salah satu sisinya ada lembah yang terus menyatu dengan kaki gunung. Perlahan kudengar gemericik air kali. Kuseret langkah kesana. Gemerisik suara dedaunan dan kerikan serangga ilalang menemani kesunyianku. . .

Hati-hati kumasukan kaki kekebeningan air. Terus menuju ke tengah-tengah arus. Kuresapi dan kunikmati kesejukannya. Kuusap wajah,. Selanjutnya,, aku telah tertunduk disebongkah batu besar di tngah-tengah kali. . .

Sejuta pikiran dan angan bersatu dibenakku. Perjalanan panjang ini telah mengantarkanku kemari. Kuharap kesunyian tempat ini dapat meneduhkan gejolak panas dibenakku.

Tapi,, sampai berapa lama lagi aku berada dalam kesunyian seperti ini..
Gunung diam dihadapanku justru mempertebal kebosananku..!
Kicauan burung yang ramai pun tak mampu menembus kekosongan hatiku..

Kulihat sekelilingku.. SEPI. . .!!!

Aku harus segera berlari,.....
berlari,.....
Dan berlari kmbali krombonganku.
Pesona tempat ini ternyata tak mampu mengobati hatiku yang sunyi.!
Aku bergabung bersama mereka. Seraya terus menetapkan langkah dan tujuan, akan sesuatu peristirahatan abadi. . .
...Akan suatu taman yang rindang. . .
Yang kaya akan aneka buah. . .
Yang dibawahnya mengalir sungai-sungai. . . 


ISY KARIIMAN AU MUT SYAHIIDAN...

ALLOHU AKBAR. . .!!!!!!

[khoirunnisa-syahidah.blogspot.com]