Bekali dengan Iman, Bukan dengan Kondom!


Bekali dengan Iman, Bukan dengan Kondom!khoirunnisa-syahidah.blogspot.com - Akhir-akhir ini kita difokuskan dengan pernyataan Ibu Menkes Nafsiah Mboi tentang kampanye kondom. Para pembaca jangan ngeres dulu ya kita bicara tentang kondom, gara-gara kondom inilah menjadi sebuah polemik yang berkepenjangan yang harus diselesaikan. Karena efek dari cerita kondom ini menjadikan semakin bertumpuk masalah yang menimpa anak-anak negeri ini. Bangsa ini sudah sarat dengan berbagai masalah yang tak kunjung usai.
Menkes dengan gebrakannya
Gebrakan Menkes baru ini tidak lain adalah dalih tentang program kerja, salah satunya adalah menggencarkan kampanye “seks aman” (maksudnya zina),  dengan program kondomisasi yang objeknya kalangan remaja. Para ulama dan guru di beberapa daerah mengecam kebijakan tersebut, karena dianggap menyebarkan seks bebas.
Meski Bu Menkes Nafsiah Mboi kemudian mengklarifikasi via Youtube pernyatannya dalam durasi 5 menit 13 detik, tetapi inti persoalannya Bu Menkes tetap setuju kampanye penggunaan kondom kepada kelompok “seks berisiko” –kata mereka-. Jadi, klarifikasi yang dilakukannya di Youtube hanya membantah tentang kabar dirinya akan membagi kondom gratis di SMA adalah tidak benar. Ya, artinya, klarifikasi yang dilakukannya hanya terkait dengan isu bahwa dirinya akan membagikan kondom gratis ke SMA dan kemudian dibantahnya. Judul dokumentasi video pernyataan yang diunggah resmi oleh Pusat Komunikasi Publik Kementerian Kesehatan RI pada tanggal 19 Juni 2012 adalah “Klarifikasi Ibu Menkes Tentang Kondom Gratis”. Di ujung tayangan video berisi pernyataannya itu, Nafsiah Mboi mengatakan bahwa penggunaan kondom itu, menurutnya adalah cara terakhir bagi kelompok seks berisiko yang masih membandel supaya tidak terjadi penularan penyakit seksual dan kehamilan yang tidak direncanakan.
Program kerja Depkes tak lain adalah pemaksaan dari agenda-agenda MDGS (Millennium Development Goals). Menkes lama (yang telah meninggal dunia) maupun Menkes baru tak ada bedanya, alias sama saja, selama ini selalu berpedoman pada parameter MDGS. Padahal Program MDGS ini adalah racun berbalut madu, di luar terlihat bagus padahal di dalamnya rusak dan menyesatkan. Apapun desain MDGS dengan membabi-buta, diaplikasikan dengan berbagai upaya demi tercapainya target-target MDGS. Tanpa memandang apakah program-program tersebut sesuai dengan agama, adat budaya, bahkan kebutuhan masyarakat itu sendiri. Remaja sebagai sasaran kondomisasi, dengan dalih “seks aman” karena mereka tergolong pelaku seks berisiko, sejatinya di luar akal sehat. Bukankah seharusnya yang lebih aktif secara seksual adalah kalangan dewasa yang menikah? Jika remaja dipandang pelaku seks aktif, itu sama saja dengan membenarkan tindakan zina di kalangan remaja yang memang marak di lakukan. Seharusnya zina di berantas tapi di fasilitasi dengan berbagai cara.
Itu artinya, Bu Menkes memilih tetap membiarkan adanya seks bebas di kalangan masyarakat, termasuk remaja, hanya saja dicegah lajunya bagi penularan penyakit seksual dan kehamilan tak direncanakan melalui penggunaan kondom. Pola pikiran seperti ini adalah gaya kapitalis-sekuler. Ibarat mau memadamkan api tetapi sambil bikinkebakaran baru. Ya, nggak akan selesai-selesai. Kalo mau memadamkan api ya sumber kebakarannya yang harus dimatikan, bukan malah memadamkan (setengah hati pula melakukannya) lalu membuat kebakaran baru. Dalam kasus ini, tentunya perilaku seks bebasnya yang diberantas dan dihilangkan lalu di hukum pelakunya. Jangan malah difasilitasi dan membiarkan pelaku seks bebas berkeliaran memakan korban baru, apalagi mereka menjadi merasa dilegalkan karena boleh pake kondom.
Katakan TIDAK pada seks bebas!
Seks yang aman adalah tidak melakukan seks bebas. Sebab, seks bebas itu justru membuat tidak aman. Seperti kata pepatah, jika tidak mau terbakar jangan bermain api.
Tanpa perlu survei, kita sudah bisa mengukur betapa banyaknya perilaku seks bebas, khususnya di kalangan remaja. Berita seputar seks setiap harinya selalu ada. Di internet apalagi, situs-situs berisi cerita porno atau penayangan pornografi nyaris tak terbendung.
Indonesia termasuk 10 besar negara pengakses situs porno. Artinya orang Indonesia banyak mengakses situs porno . Memang jumlah pengguna internet di Indonesia berapasih? Berdasarkan data dari http://www.internetworldstats.com/top20.htm, update terakhir 31 Maret 2012, jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 55 juta orang (urutan ke-8 setelah China, Amerika Serikat, India, Jepang, Brazil, Jerman, dan Russia).
Dalam pemberitaan di Republika Online, 24 Mei 2011, menuliskan bahwa menurut Menkominfo, Tifatul Sembiring, Indonesia adalah peringkat kedua dunia dalam pengakses situs porno. Dalam laporan itu juga disebutkan bahwa hal ini mendukung data bahwa berdasarkan riset pornografi di 12 kota besar di Indonesia terhadap 4.500 siswa-siswi SMP, ditemukan sebanyak 97,2 persen dari mereka pernah membuka situs porno. Data selanjutnya juga menambahkan bahwa 91 persen dari mereka sudah pernah melakukankissingpetting atau oral sexs.
“Bahkan, data tersebut juga menyebutkan 62,1 persen siswi SMP pernah berzina dan 22 persen siswi SMU pernah melakukan abortus,” ujar Menkominfo Tifatul Sembiring yang dikutip Republika Online.
Melihat dari data-data tersebut, kondisi di negeri ini benar-benar gawat darurat. Sarana penunjang untuk seks bebas yang paling mudah dan efisien adalah akses internet, bahkan sudah merambah ke handphone. Handphone adalah barang yang hampir dimiliki oleh setiap orang, apalagi remaja. Inilah celah yang bisa mendukung penyebaran seks bebas.
Bagaimana solusinya?
Seks bebas yang sudah merambah di kalangan remaja harus diberantas, termasuk penyimpangan seks seperti homoseksual, lesbianisme, dan yang sejenisnya. Tidak mungkin di cegah dengan kondom, sulit rasanya apalagi jika nafsu sudah di ubun-ubun, yang terjadi adalAh mengabaikan larangan Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebab yang diingatnya adalah bujuk rayu setan laknatullah.
Bekali remaja dengan dengan iman, bukan kondom!
Disini adalah peran keluarga sangat penting, remaja perlu dibekali dengan iman, pengetahuan tentang pergaulan agar tidak terjerumus pada pergaulan yang salah, serta pengetahuan tentang seks bebas serta akibatnya.
Saat ini pergaulan bisa di bilang sudah bobrok, tapi kita jangan ikut-ikutan bobrok. Jangan jadi korban salah pergaulan.
Ingat pesan Rasululullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda“ Orang mukmin yang bergaul dengan orang lain dan tabah menghadapi gangguan mereka lebih baik daripada orang mukmin yang tidak bergaul dengan orang lain yang tidak tabah menghadapi gangguan mereka” ( At-Tirmidzi)
Kita bisa bayangkan apabila remaja tidak dibekali dengan iman, hidupnya akan asal saja, melakukan sesuatu tanpa pikir dulu, termasuk melakukan seks bebas, berpikir resiko belakangan. Akibatnya, yang sering terjadi adalah hamil di luar nikah, Naudzubillah min dzalik!
Negara harus mendukung dengan memberantas tayangan dan bacaan yang menyebabkan remaja ingin untuk mencicipi pergaulan bebas dan bahkan seks bebas. Negara seharusnya menjadi garda terdepan dalam melindungi rakyatnya. Kampanyekan wajibnya pendidikan agama untuk menguatkan keimanan. Bekali remaja dengan keimanan, bukan dengan kondom! Dan negara harus segera merapkan Syariat Islam, dengan bingkai Daulah dan Khilafah.
Sadarlah Bu Menkes kampanye kondom hanya akan menambah masalah pada tatanan kehidupan masyarakat terutama remaja. Ibu Menkes juga seorang Ibu yang tentunya peduli dengan kehidupan putra-putrinya agar tidak terjerumus pada kesalahan dan dosa.
Dalam riwayat Ibnu Majah dan al-Hakim dan riwayat ini shahih dengan salah satu lafadz, Rasulullah Sallallahu ‘alahi wasallam bersabda, “Tidaklah perzinahan tampak pada sebuah kaum hingga mereka melakukannya secara terang-terangan, kecuali penyakit-penyakit yang belum pernah ada pada para pendahulu mereka yang telah lalu akan mewabah pada mereka”.
Jadi, mari kampanyekan untuk mengubah pemahaman individu dengan melakukan perubahan terhadap paradigma dan pemahaman masyarakat, bahwa setiap langkah dan prilaku kita di dunia ini seluruhnya terikat dengan hukum syara’, dan Allah akan menghisab seluruh amal manusia. Mari kita kampanyekan penerapan syariat Islam oleh negara. [MuslimahZone/khoirunnisa-syahidah.blogspot.com]
Allahumma Tammim Bil-Kheiir !
Kontributor: Ummu Ghiyas Faris