Iblis Obama Terus Memburu dan Membunuhi Tokoh Pejuang Islam

timthumb.php (320×212)
khoirunnisa-syahidah.blogspot.com -  "Iblis" yang menjelma Presiden Amerika Serikat, Barack Obama, seperti tidak pernah puas dan berhenti membunuhi para pemimpin dan pejuang Islam.
Dengan menggunakan pesawat tanpa awak (drone), Obama yang berasal dari Partai Demokrat, yang disebut berideologi liberal itu, menyimpan daftar begitu banyak, siapa yang harus dimusnahkan.
Obama menyimpan daftar nama tokoh-tokoh pejuang Islam yang harus"dibunuh", di Pakistan, Afghanistan, Yaman, Somalia, dan Irak serta di negeri lainnya.
Kalangan dalam negeri Amerika Serikat, sekarang melihat Obama yang mendapatkan julukan sebagai penganut faham liberal, sosialis, dan humanis, tak kalah bengisnya dibandingkan dengan Presiden George Walker Bush, yang sudah menghabiskan anggaran puluhan triliun dolar, guna memerangi apa yang disebut oleh George Bush, sebagai musuh Amerika Serikat, yaitu : kaum"Fundamentalis, ekstrimis, militan dan kaum fanatik".
Presiden Barack Obama akan terus berperang dengan menggunakan segala kemampuan yang dimilikinya, menghabisi para pejuang Islam, yang selalu disebut-sebut menjadi ancaman keamanan global.
Secara eksplisit Obama menyebut mereka itu, adalah para pemimpin Taliban, al-Qaidah, Jamiah Islamiyah, yang sekarang menyebar diberbagai negara.
Obama terus memburu mereka dengan menggunakan jaringan intelijen CIA, dan bekerjasama dengan berbagai pemimpin negara di seluruh dunia, guna mencapai target sasaran yang dijalankannya.
Sudah begitu banyak tokoh dan pejuang Islam di berbagai negara yang tewas oleh serangan militer Amerika Serikat, yang sekarang menggunakan pesawat tanpa awak. Amerika melalui badan intelijen CIA, mengendalikan pesawat tanpa awak (drone), terus mengendus sasaran yang menjadi target operasi militernya.
Sejumlah tokoh penting Taliban dan Al-Qaidah telah syahid, akibat serangan pesawat tanpa awak (drone).
Diantara tokoh yang telah syahid itu, ulama dan mujahid, yang kelahiran Amerika Serikat Anwar al Aulaqi, syahid akibat serangan pesawat tanpa awak di Yaman. Usamah bin Ladin, syahid akibat serangan yang dilancarkan oleh pasukan elite Amerika Serikat Navy Seal, di Abottabbad, Pakistan. Beberapa hari yang lalu, seorang tokoh al-Qaidah, yaitu Yahya al-Libi, juga syahid akibat serangan pesawat tanpa awak, di wilayah Pakistan.
Obama masih memegang daftar nama-nama tokoh pejuang dan pemimpin Islam, yang menjadi target serangan Amerika Serikat. Semua daftar nama-nama tokoh itu, terus bertambah.
Mullah Omar dan Ayman al-Zawahiri, sampai sekarang terus menjadi target utama Amerika Serikat. Amerika Serikat bekerjasama dengan intelijen sejumlah negara terus melacak dan mencaritahu posisi-posisi para pemimpin pejuang Islam, di seluruh dunia.
Keberhasilan Barack Obama membunuh para tokoh  puncak gerakan perlawanan seperti Usamah bin Ladin, Libi, dan Anwar Aulaqi, dinilai kalangan sebagai keberhasilan yang gemilang dalam  operasi militer di sejumlah negara Islam.
Presiden Obama terus mengkampanyekan perang melawan terorisme, lebih hebat dibandingkan dengan Presiden George Bush, yang sangat konservatif, yang berasal dari Partai Republik.
Bush menghabiskan dana triliunan dolar menyerang Irak dan Afghanistan. Menjatuhkan pemerintahan Taliban, dan berusaha membunuh Mullah Omar, dan menggusur Saddam Husien, yang akhirnya dihukum gantung.
Menurut The New York Times dan Newsweek, bagaimana Obama, yang datang ke Gedung Putih, tanpa latar belakang militer, dan diabaikan kemampuannya menangani  keamanan nasional, dan sekarang  mengawasi pertemuan kontraterorisme dari lebih dua lusin petugas keamanan, di mana target serangan pesawat tak berawak diputuskan setiap Selasa.
Obama dibantu seorang ahli dibidang keamanan dan kotranterorisme John Brennan, terus menjalankan operasi secara sistematis, mengeleminasi tokoh-tokoh pejuang Islam di seluruh dunia. Seperti di Afghanistan, Irak, Yaman, Somalia, Libya, dan sejumlah negara lainnya.
Editor Newsweek, Daniel Klaidman, yang mengutip laporan dari buku "Membunuh atau Menangkap: Perang Melawan Teror dan Jiwa Kepresidenan Obama".
Buku itu ditulis berdasarkan sejumlah nara sumber yang anonim dalam pemerintahan Obama. Bagaima Obama begitu obsesifnya ingin mengelimir seluruh tokoh gerakan dan pemimpin pejuang Islam di berbagai negara, yang dianggap menjadi ancaman keamanan.


Amos Guiora Profesor Hukum dari University of Utah, mengatakan kepada Guardian,  bahwa tindakan Presiden Barack Obama  dengan "daftar membunuh" yang disebut sebagai kebijakan Amerika Serikat tidak tegas didefinisikan, dan akan menimbulkan konsekuensi yang luas bagi Amerika Serikat.


Bahkan, laporan media, pekan lalu mengungkapkan, bahwa pemerintahan Obama mendefinisikan militan, yang berada di zona militer, sudah termasuk dalam daftar yang harus dihancurkan melalui serangan pesawat tak berawak.
Tetapi, orang-orang yang menjadi target sasaran Amerika Serikat itu, terbukti mereka tidak bersalah. Sudah begitu banyak korban sipil, yang tidak berdosa akibat serangan pesawat tak berawak. 


Presiden Barack Obama, yang memasuki Gedung Putih, dan berjanji akan meninggalkan kebijakan yang pernah dilakukan oleh Presiden Bush, ternyata justeru Obama lebih kejam dan tak peduli lagi terhadap nyawa Muslim, yang dituduh sebagai militan atau teroris.
Obama dengan informasi dari CIA atau Mossad, kemudian melakukan operasi militer menghancurkan sasaran yang sesuai dengan daftar nama yang sudah ada


Presiden Obama memimpin sebuah Badan Keamanan Nasional, ia membuat dokumen yang sudah diklasifikasikan. Obama mempertahankan penggunaan pesawat tanpa awak yang dikendalikan oleh CIA, yang melancarkan serangan terhadap sasaran yang sudah ditentukan. Obama tidak memenuhi janjinya menutup penjara Guantanamo di Teluk Bay, di Kuba, yang penuh dengan  kontroversi.


Aaron David Miller, seorang Yahudi, yang menjadi penasehat kebijakan Timur Tengah, di masa pemerintahan   Republik dan Demokrat, memvonis Obama, seperti yang ditulisnya dalam majalah Foreign Policy, edisi terbaru, bahwa "Barack Obama telah menjadi Georges W. Bush".
"Obama tidak mengubah kebijakan Presiden Bush.  Obama sama konservatifnya dengan Bush, dan bergaya seperti era perang dingin, yang menggunakan kekuatan militer, menghadapi kelompok-kelompok yang dianggap menjadi ancaman. Obama hanya membungkus dirinya sebagai seoang yang liberal. Memang, Obama tidak terlihat seperti koboi", kakta penulis James Badford di Guardian
Salah satu contohnya, Obama membangun "Utah Data Center", yang menghabiskan dana $ 2 miliar dollar, yang sekarang dijaga sangat ketat, yang terletak di pegunungan Utah. "Utah Data Center" ini, luasnya lima kali dibandingkan dengan Washington DC, dan akan menyimpan data, serta menjadi server  raksasa, terbesar di dunia, yang akan menyimpan data intelijen, dan yang akan digunakan oleh CIA, mengevaluasi kondisi global, dan terutama menghadapi ancaman masa depan Amerika, yang datang dari Islam.


Obama juga menambahkan klausul pada UU Otorisasi Pertahanan Nasional yang ambigu terhadap siapa saja yang dianggap bisa memberikan dukungan kepada terorisme, seperti aktivis dan wartawan, dan mereka bisa diseret ke pengadilan, karena dipandang sebagai ancaman nasional. Termasuk wawancara oleh wartawan terhadap tokoh-tokoh Hamas di Gazaa.


April 2012, Penasehat Senior Gedung Putih dibidang Kontraterorisme  John Brennan menyatakan: "Sayangnya, dalam perang, ada korban, termasuk amuk penduduk sipil", ucapnya.
Artinya, Amerika Serikat tidak peduli dengan begitu banyak jatuhnya korban sipil, akibat operasi militer yang menggunakan pesawat tanpa (drone), yang ingin mengejar tokoh militan di Afghanistan, Pakistan, Yaman atau Somalia. Memang, nyawa Muslim itu, dianggap remeh oleh "Iblis" Obama. (af)[khoirunnisa-syahidah.blogspot.com]