Kerusuhan Sektarian di Myanmar Meletus, Pemerintah Salahkan Kelompok Islam

khoirunnisa-syahidah.blogspot.com - YANGON,  - Kerusuhan sektarian di Myanmar belum padam. Pasukan keamanan di Myanmar barat mulai melepaskan tembakan terhadap para perusuh yang membakari ratusan rumah, Sabtu, 9 Juni 2012. Seperti dilaporkan media pemerintah, hal itu sebagai bagian tindakan keras buat mengatasi kerusuhan berbagai sektarian yang telah menewaskan sedikitnya tujuh orang.
Ribuan warga desa yang beragama Buddha terpaksa kabur dari rumah hari ini seiring kekerasan sektarian baru. Para pejabat pemerintah menyalahkan warga muslim Rohingya dari sebuah "negara tetangga" atas pergolakan itu.
Polisi dan tentara telah dikerahkan ke negara bagian Rakhine--yang berbatasan dengan Bangladesh-untuk memberangus kekerasan setelah rumah-rumah warga desa dibakar perusuh pada Sabtu pagi. Hal itu dikatakan seorang pejabat kepada AFP.
Pergolakan meletup mulai 7 Juni 2012 ketika sedikitnya empat warga Buddha terbunuh dalam kerusuhan di Rakhine, yang merupakan rumah bagi sebagian besar Rohingya, sebuah kelompok muslim yang digambarkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa sebagai salah satu minoritas paling memelas di dunia.
Orang-orang bersenjata Rohingya menyebar pada pagi buta untuk "menghancurkan dan membakar desa-desa", kata pejabat yang tak mau disebut namanya itu. "Mereka datang dari negara tetangga dengan kapal-kapal cepat."
Menurut PBB, Myanmar, yang menimbang etnik Rohingya yang tak punya negara sebagai orang asing dan bukan salah satu kelompok etnik, memperkirakan terdapat 750 ribu orang Rohingya, terutama tinggal di Rakhine. "Kami dapat mengkonfirmasi sejauh ini bahwa sekitar 386 rumah hangus terbakar dan banyak gedung yang dirusak oleh Rohingya," kata pejabat itu.
Rusuh merefleksikan ketegangan antara penghuni Buddha dan muslim. Banyak dari mereka yang telah ditetapkan sebagai pemukim ilegal dari negara tetangga Bangladesh.
Televisi pada Sabtu, 9 Juni, ini melaporkan pengumuman bahwa tentara bersama polisi yang dipersenjatai di Maugdaw dan Kota Buthidaung di Rakhine telah mengatasi kerusuhan. Harian pemerintah, Myanma Ahlin menyebutkan pasukan keamanan terpaksa mulai menembakkan senjatanya untuk memulihkan keadaan. Sebuah kebijakan jam malam dan larangan kumpul-kumpul lebih dari lima orang telah digulirkan.
Menurut laporan televisi, hingga Sabtu, 9 Juni 2012, sedikitnya tujuh orang tewas dan 17 orang lainnya terluka dalam kekerasan Jumat pekan lalu. Dikatakan, 494 rumah dibakar, 19 toko dan wisma tamu juga terbakar habis. [mam/tmp/khoirunnisa-syahidah.blogspot.com]