Obama-Bush Satu Doktrin!

khoirunnisa-syahidah.blogspot.com - Antara Presiden AS ke-44 sekarang, Barack Obama dengan mantan Presiden AS ke-43 George W. Bush tidak ditemukan perbedaan terkait kebijakan keduanya dalam memerangi terorisme, sungguh dalam hal ini benar-benar tidak dapat dibedakan, kecuali reaksi dari kekuatan kaum liberal atas kebijakan tersebut.
Sebagai contoh, New York Times dalam minggu ini mempublikasikan laporan tentang perang Obama dengan menggunakan pesawat tanpa awak (drone). Dan Anda bisa membayangkan keributan yang akan dibuat oleh kelompok kiri Amerika jika dipublikasikan laporan serupa pada masa Bush. Dikatakan bahwa Bush memilih secara pribadi untuk setiap nama dalam daftar pembunuhan bagi para teroris baru? Bayangkan, “Times” mengatakan bahwa para pejabat Gedung Putih pada era Presiden Bush membanggakan bagaimana “Presiden menyetujui proses pembidikan tanpa ijin tertulis”, atau bagaimana Bush mengatakan kepada para pembantunya bahwa keputusan untuk menargetkan warga negara Amerika dan membunuhnya (seperti Anwar al-Awlaki) adalah “keputusan yang mudah”.
Tidak ada keraguan bahwa api kemarahan pasti akan meletus di Lafayette Park, dimana di tempat itu kelompok kiri Amerika melakukan aksi demonstrasi (jika itu terjadi), tetapi mengapa kemarahan ini tidak terjadi ketika Times mengungkapkan semisal rincian tentang serangan drone Obama terhadap al-Qaeda?
Mari kita perhatikan beberapa laporan yang diungkapkan oleh surat kabar New York Times:
* Ketika Obama memerintahkan penutupan pusat-pusat penyelidikan CIA dan Teluk Guantanamo, maka ia melakukan hal itu dengan cerdas melalui beberapa kata yang plin-plan untuk membuat sejumlah celah tersembunyi agar di sisi lain bisa terus dalam melancarkan perang melawan terorisme dengan cara yang diyakininya.
* Selain menargetkan individu-individu tertentu dan para teroris berbahaya, Obama mengizinkan untuk menyerang lokasi-lokasi yang mencurigakan dan menargetkan beberapa orang yang kami tidak tahu nama mereka.
* Sementara pada saat Obama mengklaim bahwa ia menekankan aturan untuk melindungi nyawa-nyawa yang tak berdosa, justru ia mengadopsi metode yang mencurigakan untuk menghitung korban sipil, yaitu cara yang mengandalkan pada bahwa semua laki-laki yang mampu mengangkat senjata di zona operasi pejuang, dengan dalih bahwa orang-orang yang tinggal di daerah yang dikenal dengan kegiatan teroris atau menyembunyikan para aktivis al-Qaeda, maka Anda tidak bisa mengharapkan kebaikan dari mereka.
* Ketika masalahnya terkait pembunuhan ulama kelahiran Amerika, Anwar al-Awlaki, maka Obama benar-benar telah memutuskan bahwa ia bisa melakukannya secara rahasia dan tanpa pengadilan, dengan mengandalkan pada undang-undang rahasia di Departemen Kehakiman yang mengatakan bahwa amandemen undang-undang kewarganegaraan yang melindungi warga negara Amerika dilakukan melalui musyawarah internal di kekuasaan eksekutif.
Dimana itu dengar pendapat Kongres, yang menuduh Obama menjalankan negara dengan cara imperialisme? Dimana itu editorial New York Times, yang mengumumkan bahwa Obama mengawasi operasi yang lebih besar “perluasa kekuasaan presiden yang menggigilkan badan” yang menyebabkan rusaknya sistem konstitusional check and balance antara otoritas? Dimana itu penyelidikan yang dilakukan oleh Komite Intelijen di Senat, yang dilakukan selama selama tiga tahun, dan menyampaikan laporan setebal 5 ribu halaman terkait “serangan drone Obama?”.
Tahun lalu, Amnesty Internasional menyerukan penangkapan Bush karena memerintahkan penangkapan para pemimpin teroris, menginterogasinya dan mengirimnya (hidup-hidup) ke Guantanamo untuk diadilinya. Bagaimanapun, bahwa Obama memenangkan “Nobel Perdamaian”, padahal seperti yang dilaporkan “New York Times” bahwa Obama memerintahkan serangan pesawat tanpa awak (drone) dengan menggunakan bom cluster, yang tidak hanya membunuh target saja, tetapi juga membunuh keluarga tetangga. Jadi, mengapa Amnesty International tidak menyerukan penangkapan Obama dengan dalih melakukan kejahatan perang?
Ini menunjukkan kepada kita, bahwa sebenarnya, presiden AS saat ini masih mengadopsi kebijakan yang sama dengan kebijakan Bush terkait kontra-terorisme. Dengan demikian, masih berlangsung terus penggulingan secara rahasia, penahanan untuk jangka waktu yang tidak ditentukan, dan pengadilan teroris warga sipil di depan komisi militer, juga Badan Keamanan Nasional, National Security Agency masih memata-matai panggilan telepon tanpa ada penjelasan atas hal itu. Sementara Obama mengumumkan penutupan pusat-pusat interogasi CIA yang telah digunakan intelijen dengan suka cita untuk menemukan Osama bin Laden dan membunuhnya.
Bahkan metode saat ini terkait serangan pesawat tanpa awak (drone) hampir tidak berubah dari serangan pesawat tanpa awak (drone) serupa selama enam bulan terakhir pemerintahan Bush. Dengan demikian, Obama belum menggandakan serangan ini sebagaimana yang disarankan oleh beberapa pihak, namun terlihat jelas bahwa ia terus meningkatkan kebijakan yang ditetapkan oleh Bush sebelum meningalkan jabatannya.
Tampaknya, bahwa mayoritas kaum konservatif mendukung strategi Obama terkait serangan pesawat tanpa awak (drone), dan tampaknya kaum liberal juga demikian, dimana jajak pendapat yang dilakukan awal tahun ini menunjukkan bahwa 77% dari mereka yang menyebut dirinya sebagai kaum liberal mendukung serangan ini, dan 55% menyetujuinya, bahkan sekalipun targetnya adalah warga AS sendiri. Mungkin ini menjadi pencapaian terbesar dari dua partai, yaitu Republik dan Demokrat selama kepemimpinan Obama, di mana ia mampu mendapatkan dukungan luas dari kaum liberal untuk kebijakan Bush sebelumnya, dan inilah yang tidak terjadi pada saat kepemimpinan Bush (islamtoday.net, 6/6/2012/
khoirunnisa-syahidah.blogspot.com]