Omong Kosong, Kaum Liberal Mengklaim Diri Mewakili Silent Majority


JAKARTA  –  (khoirunnisa-syahidah.blogspot.com) - Bukan sesekali, kelompok liberal dan simpatisannya mengklaim diri telah mewakili rakyat Indonesia di Tanah Air. Padahal semua klaim-klaim itu omong kosong. Beberapa kali uji lapangan. Ternyata. Demo yang dilakukan ormas Islam jauh lebih besar dari kaum liberal. Demikian dikatakan Juru Bicara Front Pembela Islam (FPI) Munarman dalam pernyataannya di sebuah televisi swasta dalam Forum ILC belum lama ini.
“Mereka (kelompok liberal) seolah mengklaim diri mewakili silent majority. Omong kosong. Fakta di lapangan, klaim-klaim itu tidak terbukti sama sekali. Bahkan di internet, masyarakat yang minta JIL dibubarkan jauh lebih besar ketimbang yang mendesak agar FPI dibubarkan. Mulai sekarang, berhentilah seolah-olah mewakili mayoritas,” ungkap Munarman tegas.

Seperti kita ketahui, kelompok liberal ingin melakukan apa saja dengan sebebas-bebasnya. Mereka tidak ingin ada yang melarang. Padahal, negara ini memiliki konstitusi yang berdasarkan Ketuhanan yang Maha Esa. Karenanya, Pasal 28 UUD 45, harus memperhatikan norma dan nilai-nilai budaya setempat.

Munarman merasa heran dengan tuduhan kaum liberal yang mengatakan, seolah negara ini tunduk dengan keompok Islam tertentu. Padahal, kaum liberal juga mencoba mengendalikan negara untuk memuluskan kepentingannya, menebar paham liberalisme di tengah masyarakat.
“Orang liberal yang bernafsu ingin membubarkan FPI, jelas upaya untuk mengendalikan negara juga. Begitu pula, saat mereka (kaum liberal) menolak RUU APP, bukankah ini juga bentuk usaha mengendalikan negara.  Disitu sisi umat Islam dilarang mengendalikan negara, sementar kelompok liberal dengan bebas mengendalikan negara. Ini nggak bener.
Menurut Munarman, kalau mengaku diri mereka liberal, bebaskan saja, kita sama-sama mengendalikan negara. Jangan giliran orang Islam diharamkan mengendalikan negara, sedangka orang liberal dihalalkan mengendalikan negara. Justru itu cara berpikir yang tidak liberal. Bahkan mereka telah mengkhianati liberal itu sendiri. Mereka juga fasis soal liberalisme.
Menanggapi tudingan seniman liberal Ratna Sarumpaet, yang menilai FPI sebaiknya tidak hanya concern dengan hal-hal yang menyangkut halal-haram dan kemaksiatan. Tapi juga peduli dengan persoalan kemiskinan dan persoalan TKI di negeri jiran. Dengan enteng Munarman menjawab, selama ini FPI sudah bekerja untuk peduli dengan masalah kemanusiaan.  
“Bukan hanya FPI, semua ormas Islam bekerja untuk peduli dengan masalah kemanusiaan. Saya sendiri pada tahun 2010, pernah mendatangi seorang TKI di RS Madinah untuk memberi bantuan berupa uang, sekaligus memberi advokasi hukum.”
Saat terjadi Tsunami di Aceh, FPI turun untuk membantu mengangkat mayat-mayat yang bergelimpangan di jalan untuk dishalatkan. Begitu juga, saat terjadi tragedy kemanusiaan, gempa bumi dan bencana alam lain di sejumlah daerah di Indonesia, seperti Merapi, Mesuji, dan sebagainya, FPI selalu terlibat. Tapi, rupanya media-media nasional tidak tertarik untuk memberitakannya.
Realitanya, media nasional lebih suka memberi stigmatisasi kepada FPI dengan tayangan-tayangan gambar dan pemberitaan yang tendensius. Boleh jadi, media sekuler itu memiliki prinsip: Bad News is Good News! Atau pemilik modalnya memang anti dengan Islam dan ormas Islam seperti FPI. “Jadi tidak benar, jika FPI dan ormas Islam lain tidak melakukan apa-apa,” sanggah Munarman. Desastian[voai/khoirunnisa-syahidah.blogspot.com]