Prof. Fahmi Amhar* dan Berat Badan Bunda

khoirunnisa-syahidah.blogspot.com - Awal Januari, buat Bunda adalah waktu yang baik untuk ber-muhasabah alias mengevaluasi diri. Bukan, bukan karena Bunda turut merayakan Tahun Baru. Bagi Bunda, 1 Januari atau 1 Februari tak ada bedanya. Cuma kalender di dinding diganti yang baru. Barangkali 1 Januari lebih bermakna saat Bunda masih jadi anak sekolah. Karena di tanggal tersebut biasanya sekolah libur.
Sah-sah saja kalau evaluasi dilakukan pada tanggal 31 November, misalnya (backsound: emang ada?). Atau pada hari lahir. Atau tiap 1 Muharram. Meski seharusnya, evaluasi dilakukan tiap malam sesuai sabda Rasulullah Saww bahwa bagi seorang muslim, hari ini harus lebih baik dari kemarin dan esok harus lebih baik dari hari ini. Tetapi Bunda memilih Awal Januari karena dua hal. Yang pertama, karena Bunda menikah di awal Januari. Kedua, karena sebuah email.

Email tersebut berbunyi demikian:

Assalamu’alaikum wr. wb.
Ditengah-tengah kesibukan antum semua di era tarbawi 1421 H, ana mau angkat masalah tarbiyah akhwat, khususnya yang sudah menjadi ibu-ibu (menikah). Banyak ikhwah yang dulu menikah dengan akhwat yang kebetulan juara kelas maupun aktifis kampus. Namun, setelah menikah, potensi yang ada itu tanpa disadari “ditenggelamkan” oleh para suami. Istri-istri kita disibukkan dengan masalah anak dan urusan keluarga lainnya tanpa mendapatkan “hak”-nya untuk memelihara dan mengembangkan potensinya. Potensi yang ana maksud, potensi yang meliputi semua aspek, baik ruhiyah, fikriyah, jasadiyah. Jadi masalah potensi yang terkait dengan proses tarbiyah istri yang menjadi kewajiban suami.


Afwan, terus terang saya sering melihat “akhwat: ibu-ibu” yang proses pemeliharaan dan peningkatan potensinya mandeg. Beberapa tahun setelah mereka menikah dengan ikhwah, yang meningkat secara nyata hanyalah masalah: jumlah anak dan berat badan (Pak Ardi memasang emoticon senyuman). Sedangkan, penurunannya jelas terlihat: dari jumlah halaqah yang dipegang, jumlah hafalan, kemampuan fisik, pemahaman dan penerapan atas spesialisasi ilmu yang pernah mereka dapatkan (kedokteran, biologi, dll).

Sering, kita para suami berdalih, kita sibuk. Jadi tugas utama mereka adalah mengurus anak dan kita sedikit “egois”, hanya mementingkan pemeliharaan dan pengembangan potensi kita sendiri dengan mengambil kuliah, kursus, ikut seminar, dll. Sedangkan istri, stay at home… all day long. Rumitnya lagi, ketika proses pemandegan dan penurunan ini berlangsung lama, para istri makin meningkat jumlah anak dan berat badannya. Suami mulai kerepotan untuk mencari pengimbang kegiatan dakwahnya yang makin bervariasi dan makin padat. Kondisi rumah tangga mulai tidak stabil karena level suami dan istri menjadi tidak seimbang sebagaimana mereka menikah dulu. Akhirnya sang suami malah mengajak diskusi tentang “menikah lagi” atau bahkan …cerai! (naudzubullahi mindzaalik).


Sengaja fenomena ini ana ungkap, sebagai renungan para ikhwah ditengah-tengah kesibukan berdakwah. Apa yang telah kita lakukan untuk minimal memelihara potensi istri-istri kita, kalau bisa bahkan bisa ditingkatkan. Jangan tunggu nanti-nanti. Kita sadar tarbiyah tidak bisa dilakukan dalam sekejap. Perlu proses. Caranya mungkin istri kita bisa dengan disekolahkan lagi, diikutkan kursus keterampilan/keahlian, diajari setir mobil, komputer, olah raga, check hafalan, disiapkan perpustakaan di rumah atau bahkan diberi lapangan kerja yang cocok untuk keahliah dia. Istri kita harus diberi waktu khusus untuk itu atau bahkan sedikit “dipaksa” agar mereka mau menjaga dan mengembangkan potensinya. Tentunya pada saat-saat tertentu itu, suami mengalah menjaga anak…atau titipin lah ke mertua
Wallahu’alam bishowab.
Wassalam

Email di atas, ditulis oleh seorang bapak. Sebut saja namanya Pak Ardi. Sepuluh tahun lalu, Bunda membaca email di atas di sebuah warung internet tak jauh dari kampus. Beramai-ramai, bersama teman-temannya

“Dalam kehidupan sehari-hari, saya menemui banyak kasus seperti yang diungkapan Pak Ardi,” tulis seorang ibu.
Pak Ardi kemudian membalas, “Ini memang menjadi salah satu alasan saya untuk mengangkat topik ini. Karena jangan sampai idealisme kita ternyata gagal diterapkan dalam lingkup yang sangat mikro, yaitu keluarga. Jika level keluarga saja tidak selesai, bagaimana mungkin kita menyelesaikan masalah di tingkat yang lebih luas (negara, khilafah, dst). Nanti ketika kita masih terus berbicara dalam tataran konsep, orang yang anti Islam, akan bilang seperti iklan:…ah teori,” tulis Pak Ardi sambil mengakhiri kalimatnya dengan emoticon senyuman.

Beliau lantas melanjutkan, “Contoh sederhana saja, masalah pendidikan anak. Idealnya kita tahu menghafal al qur’an adalah masalah yang mendasar. Tapi bagaimana mungkin kita bisa menerapkan konsep itu, kalau hafalan istri-istri kita hanya juz 30 dari sejak menikah sampai sekarang? Belum lagi masalah pendidikan yang lain, seperti kemampuan bahasa, kemampuan riset, ekonomi, dll. Wah, pusing dan susah juga. Bisa juga dibantu dengan TKIT dan SDIT yang sekarang ada. Tapi masalah lain muncul: biayanya mahal! Uang masuk awal tahunnya saja sudah lebih dari Rp 2 juta (yang termurah di Jabotabek).”

“Nah, kalau kita bisa menjaga dan mengembangkan potensi istri-istri kita, seandainya kita tidak punya cukup uang untuk memasukkan anak kita ke sdit, kita bisa membuat “home schooling” seperti yang banyak dilakukan di US. Mudah-mudahan, anak-anak kita bisa lebih baik ahlak dan keahliannya dibanding dengan anak-anak yang dididik bukan dengan konsep yang Islami. Amin. Wallahu’alam,” tulis beliau.

Seorang bapak, sebut saja namanya Pak Joko, memberi tanggapan, “Assalamu’alaikum wr.wb. Fenomena penurunan kualitas dan kerja da’wah para istri ini memang sangat kentara sekali, yang kemudian akhirnya berefek kepada lingkungan keluarganya. Setahu ana DPW di Jakarta melihat hal ini kemudian menggulirkan suatu program yaitu Usbu’ Ruhi atau pekan-pekan ruh. Dimana adanya kerja sama antara suami dan istri untuk saling mendukung di dalam peningkatan ruh masing-masingnya. Sehingga diharapkan tidak ada lagi perbedaan yang mencolok antara kualitas suami dan istri. Tentunya disini dibutuhkan pengertian dari sang suami akan kemampuan sang istri dan membantunya.”

“Masalah da’wah diluar rumah, hal ini ada sedikit kesulitan jika anak-anak masih kecil-kecil atau tidak ada tempat untuk menitipkan anak. Juga mungkin dipertimbangkan juga untuk mengurangi aktivitas ibu-ibu. Karena ada tanggung jawab baru yaitu pembinaan anak-anak dirumah itu. Disinilah fungsi dari kerja sama di dalam keluarga untuk saling meningkatkan kemampuan, agar dapat menghadapi medan da’wah baru tsb. Yaitu pembinaan di lingkungan rumah.”

“Kerja sama itu tidak melulu harus dalam bentuk kemampuan menghapal, Qiyammulail atau sejenisnya,” Pak Joko melanjutkan. “Tapi bisa juga ditambah dengan bentuk kerja-kerja harian; seperti memandikan anak, mengenakan pakaian, menceboki anak, memberi makan anak, dll (yang semua ini bisa dipelajari oleh sang abi). Juga program memperkuat kasih sayang antar suami dan istri, semisal berjalan-jalan berduaan, makan diluar, kepasar bersama, atau olah raga bersama ditambah saling memberi hadiah yang akan menyenangkan hati masing-masing.”

“Sehingga bisa diambil kesimpulan, untuk para ibu semua itu bisa saja dilakukan di dalam rumah kalau memang tidak dapat dilakukan diluar rumah. Wassalamu’alaikum wr.wb.”

“Iku ngono yo bener,” komentar Ayah saat membaca tulisan Pak Joko. “Itu betul. But, what is your contribution for the society, your country, and the world?” sambung Ayah mengutip favourite quotes Pak Fahmi Amhar.

Bunda jadi berkecil hati. Terlebih saat ia membaca status yang Pak Fahmi tulis di dinding facebook-nya, “Menengok tahun 2010, berapa persen ya capaian target output kita? Menerbitkan buku cuma jadi 1; tulisan populer kurang dari 40; tulisan ilmiah kurang dari 5; menjadi pembicara seminar kurang dari 25; gelar professor cuma 1. (Pak Fahmi memasang emoticon senyuman). Kalau cuma target input, semua bisa menghabiskan 100%. Waktu 365 hari yang diberikan tahun 2010 akhirnya akan habis-bis 100%.”

Target output? Bunda tidak punya target output. Hari demi hari menggelinding begitu saja tanpa target.

“Ayo, segera menulis target tahun depan. Umumkan di FB, biar orang lain bisa mengingatkan,” tulis Pak Fahmi lagi. “Target pribadi, target keluarga, target pendidikan, target karier, target finansial, target amal, target karya, target politik, target hobi, target pengalaman … ternyata kita semua manusia multi target.”

Beliau menambahkan, “Sekedar contoh target pribadi: hafalan Qur’an tambah 2 juz (Hafidz in 15 years!). Target keluarga: si sulung masuk universitas top dengan beasiswa. Target pendidikan: lancar Arab gundul, jangan gondrong melulu. Target karier: melaksanakan 10 training komersial dan 10 training sosial. Target finansial: menembus 1 M, tapi M bukan Megabyte . Target amal: memberdayakan 10 dhuafa. Target karya: menghasilkan 4 buku baru, 3 jurnal, dan 1 paten. Target politik: berhasil mengakses 10 tokoh politik berpengaruh. Target hobi: pameran karya fotografi dan koleksi numismatik. Target pengalaman: tercapai 33 provinsi dan 33 negara … (tapi DIY belum dihitung negara sendiri lho “

Bagaimana dengan Bunda?
Sejak menikah, hafalan Al Qur’an tidak bertambah. Membaca kitab, tetap yang berbahasa Arab gondrong. Karier? Hanya ibu rumah tangga. Finansial? Membayar arisan bulanan saja megap-megap. Belum pernah memberdayakan dhuafa sama sekali. Belum pernah menulis buku sama sekali. Belum pernah mengontak tokoh perempuan di Nottingham sama sekali. Pengalaman jalan-jalan paling jauh ke Amerika satu tahun. Lha itu juga karena mengikuti Ayah yang pasca doktoralnya di Amherst, Massachusetts.

Kesimpulannya, setelah empat tahun menikah, Bunda hanya menambah jumlah anak dan berat badan. Melahirkan dan mengasuh anak-anak tentu saja adalah pekerjaan berat dan mulia. Tetapi, di luar itu, apa kontribusi Bunda kepada masyarakat, kepada negara, kepada umat Islam, dan kepada dunia? Tidak ada sama sekali.

Apakah Bunda akan berakhir menjadi ibu rumahtangga yang kuper, minder, bodoh, miskin, dan menyedihkan, sebagaimana judul buku Wulan Darmanto? Oh, Tidaaakkkkk!!!!

Ah, bukankah istri yang baik sudah seharusnya selalu berada di rumah, all day long? batin Bunda dalam hati. Bukankah beraktivitas di luar rumah memerlukan ijin dari suaminya?
“Lho, kita sudah membahas ini sebelum menikah,” ujar Ayah. “Kamu boleh saja bekerja atau beraktivitas apa pun di luar rumah. Asalkan waktu yang dihabiskan di luar rumah tidak lebih panjang dari jam kantorku.”
“Aku juga tak masalah kalau mobilnya kamu bawa,” kata Ayah lagi. “Bukannya kamu yang belum mau ujian mengambil SIM? Jangan menjadikan suami dan anak-anak sebagai alasan kemunduranmu, Bu. Akui saja, kamu malas. Aku juga tidak akan memaksa-maksamu untuk kursus atau belajar apa pun. Toh, kamu sudah besar bukan anak kecil lagi,” seloroh Ayah.

Lantas Ayah mengutip kalimat dalam sebuah papan iklan di dekat rumah, “You are not stuck in traffic. You are traffic.”
Maksudnya, kalau selama ini pengemban dakwah berbicara tentang kemunduran taraf berpikir umat Islam, sebenarnya orang-orang pemalas yang tidak mau memajukan diri seperti Bunda inilah, bagian dari kemunduran taraf berpikir umat.
Lagipula, yang namanya belajar dan mempertahankan potensi diri, tak melulu harus meninggalkan anak-anak atau menjauh dari suami.

Pak Iwan menanggapi email Pak Ardi menyatakan, “Menurut ana memang istri wajib taat kepada suami, karena memang demikianlah Syara mengaturnya. Namun Allah SWT juga memberikan tugas dakwah kepada laki-laki dan wanita secara bersama-sama, tidak ada perbedaan sama sekali. Oleh karena itu para “ibu” juga wajib berdakwah baik di sekitar rumah maupun di tempat lain. Memang harus pandai mengatur waktu, karena yang utama tetaplah sebagai “Robbatul Bait” atau pengurus rumah tangga, yaitu mendidik anak-anak dan melayani suami. Jika waktunya bentrok, maka harus ada aulawiyat/prioritas berdasarkan syara. Jika saat itu harus pergi ke luar rumah yang merupakan hak suami, sementara isteri punya agenda acara dakwah, maka isteri harus berupaya agar suaminya ridho terhadap aktivitas dakwah”rutin” tersebut. Namun jika suami tidak meridhoinya, karena tidak ada waktu lain, maka istri wajib taat kepada suami, karena waktu dakwah tidak hanya saat itu, tetapi bisa di lain waktu. Namun tentu saja, tidak boleh sering”bentrok” waktunya, karena para suami juga harus faham, bahwa isterinya juga mempunyai kewajiban yang sama dalam dakwah.”

Tentang potensi ibu-ibu, Pak Iwan menjelaskan, “Para isteri dan akhwat lainnya biasanya mempunyai semacam qiyadah (koordinator) untuk mengatur organisasi dakwah. Karena dakwah mereka sebagaimana para suami dan ikhwan lainnya memerlukan penanganan serius dari sesama akhwat. Dari pengaturan tersebut, maka potensi para istri bisa diukur dan diarahkan ke lahan dakwah sesuai dengan kemampuannya yang secara rutin dibina dalam pengajian dan mempunyai target sasaran. Sehingga ketika berada di rumah bisa”mengimbangi” suaminya dalam berdiskusi dan membahas masalah dakwah secara bersama-sama.”

“Tentu konsep terbaik untuk akhwat adalah berada di rumah. Namun Islam juga menjamin, bahwa mereka mempunyai hak untuk bekerja di luar rumah sepanjang tidak mengganggu menjalankan kewajibannya di rumah. Yang cocok tentu tidak menghabiskan banyak waktu, sehingga pembinaan terhadap anak tidak terabaikan. Maka profesi yang mudah biasanya adalah mengajar.”

“Sebenarnya potensi akhwat/ibu-ibu tetap dapat dioptimalkan dalam dakwah dengan kajian-kajian rutin dan tugas-tugas dakwah yang pasti akan memerlukanketrampilan komputer, manajemen waktu, manajemen target, kontak personal, menulis, berdiskusi berbagai hal : ijtimaiy (hukum pergaulan), syakhshiyyah(kepribadian), iqtishodi (ekonomi), uqubat (sistem sanksi), siyasah(politik), hukmi (pemerintahan) dll yang mempunyai bobot sama dengan para suami/ikhwan.”

“Tetapi ingat sekali lagi bahwa kewajiban taat kepada suami menempati urutan teratas, karena Allah SWT telah mewajibkan demikian. Kemudian barulah para isteri menjalankan tugas dakwah dan berusaha meraih keridhoan suami agarmendukungnya, bukan malah menghalang-halangi. Kita sebagai suami juga tidak boleh sewenang-wenang menggunakan “kekuasaan” atas istri, karena Allah SWTmemberikan kewajiban yang sama antara ikhwan dan akhwat.”

“Mari kita lihat dalil syaranya bersama-sama: Tidaklah bagi seorang mukmin maupun mukminat jika Allah dan Rasul-Nya telahmenetapkan suatu ketetapan ada pilihan dalam urusan mereka.” (QS al-Ahzab33:36).

Siapa saja yang mengerjakan amal salih, baik laki-laki ataupun perempuan ,sementara ia seorang mukmin, sesungguhnya kami akan memberikan kepada merekakehidupan yang baik, dan kami akan memberikan balasan kepada mereka denganpahala yang lebih baik daripada amal yang telah mereka kerjakan, ” (QSan-Nahl 16:21).

Siapa saja yang mengerjakan amal salih, baik laki-laki ataupun perempuan, sementara ia seorang mukmin, mereka pasti akan masuk ke dalam surga, danmereka tidak akan dianiaya sedikitpun.” (QS an-Nisa 4:124).

Sesungguhnya kaum muslimin dan muslimah, kaum mukmin dan mukminat, pria dan wanita yang senantiasa berlaku taat, pria dan wanita yang selalu berlakubenar, pria dan wanita yang biasa berlaku sabar, pria dan wanita yang senantiasa takut (kepada Allah), pria dan wanita yang gemar bersedekah, pria dan wanita yang suka berpuasa, pria dan wanita yang selalu memelihara kemaluan (kehormatan)-nya, serta pria dan wanita yang banyak menyebut asma Allah, telah Allah sediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QSal-Ahzab 33;35).

Tuhan mereka kemudian memperkenankan permohonan mereka seraya berfirman,”Sesungguhnya aku tidak akan menyia-nyiakan amal salah seorang di antara kalian, baik laki-laki ataupun perempuan, satu sama lain. “(QS Ali imran3:195).

Bagi kaum pria ada bagian dari harta yang ditinggalkan oleh kedua orangtuadan karib-kerabatnya ; bagi kaum wanitapun ada bagian dari harta yangditinggalkan oleh kedua orangtua dan karib-kerabatnya, baik sedikit ataupunbanyak, sesuai dengan bagian yang telah ditetapkan . (QS an-Nisa 4:7).

Bagi kaum pria ada bagian dari apa yang diusahakannya. Bagi kaum wanita punada bagian dari apa yang diuahakannya (QS an-Nisa 4: 32).”

Glen Fredly, dalam sebuah lagu yang ditulis dan dinyanyikannya mengatakan, “Kisah kita berakhir di Januari.”
Untuk Bunda, insya Allah masih ada hari esok. Mudah-mudahan dengan perencanaan yang lebih matang, akan menghasilkan target output lebih baik pula. Bismillah, semoga.

Nottingham, 12-1-2011

Catatan:
*Prof. Dr-Ing. Fahmi Amhar, http://famhar.multiply.com/journal/item/205

sumber : tulisan mba
Nurisma Fira 

NB : Menemukan tulisan ini di blog teh ann,
http://keepfight.wordpress.com/2011/01/15/prof-fahmi-amhar-dan-berat-badan-bunda/
semoga bisa jadi bahan renungan buat muslimah...
hidup adalah sebuah pergerakan & ada tugas yang harus segera dituntaskan.. agar saat kematian datang, kita bisa tersenyum dengan apa yg telah kita lakukan.
BERGERAK DAN MELAWAN!! [khoirunnisa-syahidah.blogspot.com]