Teroris NATO Tetap Bercokol di Afghanistan Pasca 2014


khoirunnisa-syahidah.blogspot.com - Setelah penarikan pasukan dari Afghanistan 2014, NATO akan tetap terlibat dalam upaya menstabilkan negara itu. Hal itu kembali ditekankan dalam pertemuan Menteri Luar Negeri negara anggota NATO, lansirDeustche Welle (07/12/2011).


Menjelang 2014 saat berakhirnya misi NATO di Afghanistan, pembicaraan pada pertemuan NATO di Brüssel membahas langkah-lanjut aliansi pertahanan itu. Sekretaris Jenderal NATO, Anders Fogh Rasmussen hari Selasa (07/12/2011) menunjuk pada pernyataan akhir Konferensi Afghanistan di Bonn, Senin lalu "Pada Konferensi di Bonn masyarakat internasional menggambarkan keterlibatannya di Afghanistan, pasca 2014.  NATO akan turut serta. Kami akan memikirkan dukungan apa yang akan kami berikan sebagai bagian dari kemitraan jangka panjang dengan Afghanistan.“

Selain itu, masalah perisai anti rudal NATO yang akan dibangun di Eropa menimbulkan kekisruhan dengan Rusia, yang merasa terancam. Karenanya, Rusia menyatakan akan menempatkan rudalnya di Kaliningrad di Laut Timur.

Rasmussen menyebut langkah itu sebagai  "buang-buang uang“. Sistem pertahanan NATO tidak ditujukan pada Rusia, tapi NATO juga tak bersedia diatur oleh Rusia, tegasnya.

Di pihak lain NATO juga membutuhkan Rusia, sebagai rute pemasokan logistik untuk misinya di Afghanistan.

Menteri Luar Negeri Norwegia, Jonas Gahr Störe menepis kemungkinan adanya jalan tengah untuk masalah itu "Saya kira tidak seharusnya kita mengaitkan hal-hal yang tidak berhubungan satu sama lainnya.“

Masa depan pasukan KFOR di Kosovo juga akan dibicarakan. Menteri Luar Negeri Jerman, Guido Westerwelle kembali mengecam serangan Serbia terhadap pasukan KFOR akhir November di Kosovo Utara. Sejumlah tentara cedera, termasuk tentara Jerman "Kami menolak semua bentuk dukungan politik untuk serangan semacam itu. Dan karenanya kami pun berharap, bahwa serangan serupa tidak terulang lagi. Bila tentara kami diserang, maka kami pun diserang, dan itu tidak bisa ditoleransi.“

Tentara KFOR diserang ketika tengah membongkar blokade jalanan. Kini NATO menuntut agar Serbia membuka semua blokade di perbatasan utara dengan Kosovo. Sebagian darinya kini sudah dibuka, dan  Rasmussen menyampaikan pujian atas kesepakatan Serbia dan Kosovo untuk mengatur perbatasan bersama-sama. Terkait kekerasan yang masih terjadi, NATO tampaknya akan membatalkan rencana pengurangan pasukannya.*
[khoirunnisa-syahidah.blogspot.com]