Disambut Berlebihan, Ariel bukan Ikon yang Pantas Ditiru


Sejak Minggu (22/7) pukul 22.00 WIB, fans Nazriel Irham alias Ariel sudah berkumpul di depan Rumah Tahanan (Rutan) Kebon Waru, Bandung, Jawa Barat. Mereka tak hentinya menyanyikan lagu-lagu Peterpan di depan pintu utama rutan hingga tengah malam.


Mereka datang dari Bandung, Cianjur (Jawa Barat), Purbalingga, Brebes (Jawa Tengah), dan daerah lainnya dengan memakai atribut khas grup musik itu, seperti kaus dan topi dengan logo band Peterpan. Mereka meneriakkan yel-yel, "Kami datang buat Ariel, hidup Ariel."


Bahkan, ada penggemar dari Brebes, Rosyikun, yang sampai menggadaikan BPKB motornya demi mendapatkan ongkos ke Bandung. Ulah Rosyikun itu pula yang menginspirasi Roji, warga Bekasi. Ia pun mengajukan cuti dengan alasan ingin bertemu kakaknya di Bandung.


"Aku cuti dua hari. Pamitan ama bos ketemu kakak. Kalau mau ketemu Ariel, enggak mungkin dikasih," kata Roji, di Rutan Kebon Waru, Senin dini hari.


Para fan mengaku mengetahui bakal bebasnya vokalis yang tersandung kasus asusila itu dari akun fansclub Peterpan di Facebook


yang menuliskan agenda Ariel saat kebebasannya.


Penyambutan Ariel yang dinilai sudah berlebihan itu tidak cuma dilakukan para penggemar, tetapi juga media massa, terutama televisi.


"Seharusnya pembebasan Ariel enggak perlu dipublikasikan berlebihan. Ia bukan ikon yang pantas ditiru. Ariel bukan seorang pahlawan dan tidak layak diperlakukan sedemikian rupa. Saya lihat rata-rata fans Ariel remaja yang rela menjemputnya di Rutan Kebon Waru," ujar Ketua Umum Komisi Nasional (Komnas) Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait.


Menurutnya, penyambutan bebasnya Ariel terlalu berlebihan. "Saya pikir itu sudah ada yang mengoordinasi. Mungkin demi Ariel mereka rela bolos," sambungnya.


Arist khawatir bahwa antusiasme para remaja atas bebasnya sang idola mereka bisa mengubah perilaku para remaja. "Ariel itu pria penyimpang seks. Bisa saja gara-gara itu mereka menafsirkan perbuatan Ariel itu sah-sah saja dan ditiru. Itulah dampak negatifnya," tambahnya.


Pendapat senada diungkapkan Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Asrorun Niam Sholeh. Dalam rilisnya, ia mengimbau masyarakat agar mewaspadai adanya gerakan sistemik, terdesain dari pengusaha hitam yang mengambil untung dari industri pornografi dengan membangun citra, seolah-olah pelaku kejahatan pornografi sebagai idola. Itu mengancam prinsip perlindungan anak.


"Jelas sekali ini direkayasa. Padahal, semua orang tahu, dia dihukum karena perbuatan yang menyebabkan terdegradasinya moral anak Indonesia," tambah Asrorun. (*/Bay/GG/X-8)




Sumber: http://www.mediaindonesia.com/read/2012/07/24/335219/265/114/Disambut-Berlebihan-Ariel-bukan-Ikon-yang-Pantas-Ditiru#.UA4GrXENjoI.facebook


------------


KOMENTAR:


Sungguh sangat ironis. Pezina dipuja-puja.Yang batil menjadi haq dan yang haq menjadi batil demi maraup keuntungan materi.


Inilah potret kegagalan negara Sekuler Demokrasi Kapitalis. Negara tidak memiliki kepastian hukum untuk menindak tegas segala kejahatan, termasuk kejahatan Asusila. Bahkan negara juga tidak memiliki jaminan hukum untuk menghapus sarana dan prasarana yang menunjung maraknya perilaku sek bebas. Bahkan kini kian banyak cara untuk menjual materi pornografi dan pornoaksi.


Berbeda dengan Islam. Sistem Islam yang diterapkan dalam negara Khilafah memiliki tatanan kehidupan yang khas yang mampu menghentikan perilaku sek bebas secara tuntas dan mencegah munculnya peluang-peluang penyimpangan perilaku termasuk pornografi dan pornoaksi [khoirunnisa-syahidah.blogspot.com]