Belajar Tentang Jahilnya Liberalisme dan “Lelucon” Para Aktivis Gay-Lesbian


Belajar Tentang Jahilnya Liberalisme dan “Lelucon” Para Aktivis Gay-Lesbiankhoirunnisa-syahidah.blogspot.com - Muslimah, mungkin sudah tidak asing lagi dengan orang-orang Liberal dan para aktivis Gay-Lesbian. Orang-orang yang sering berkelit dari aturan Islam dan bahkan berani mengolok-olok ayat Al-Qur’an, baik mereka sebut olok-olokan maupun mereka sebut sebagai “pemikiran intelektual yang logis”.
Kita, juga perlu tahu tentang mereka. Mengapa? karena jika kita tidak mengetahui wajah dan makar mereka, kita akan mudah terjebak dalam tipu muslihat pemikiran mereka, naudzubillah.
Ada sebuah artikel menarik untuk dipelajari dari situs Undergroundtauhid.com yang berjudul “Liberalisme dan Lelucon Para Aktifis Gay-Lesbian”. Bukan belajar tentang Liberalisme dan dalih para aktivis Gay membenarkan pemahaman mereka, tapi belajar untuk mengetahui bagaimana sebenarnya kejahilan orang-orang tersebut.
***
Umat Islam memang bukan hanya menghadapi problematika yang besar dari eksternal saja. Namun, problem eksternal tersebut berusaha mengobrak-abrik internal umat Islam dengan menyuntikkan faham-faham liberal yang cenderung menyesatkan dan mendekonstruksi agama Islam ketimbang membuatnya terkesan moderen dan mengikuti perkembangan jaman. Para orientalis memang tidak sehabisan akal untuk menyerang Islam dari segala penjuru. Hukum Islam yang sudah final, tidak berubah, disepakati oleh para fuqaha sepanjang sejarah, masih saja diobrak-abrik lagi dengan pemahaman-pemahaman instan, sempit, dan tidak pernah dikenal oleh shalafush shalih.
Orang liberal memang ‘unik’. Sukanya cari bahan tertawaan. Mungkin biar lebih kelihatan pelawak ketimbang Tukul Arwana, kali ya?
Akhir-akhir ini, saya memang konsen memperhatikan bagaimana orang-orang yang sok-sok’an bicara tentang hak-hak kaum gay dan lesbian di berbagai media. Dulu saya sudah cukup mual-mual membaca buku karangan Irshad Manji, seorang bule lesbian yang menyatakan dirinya ‘muslimah’ berjudul “Beriman Tanpa Rasa Takut”. Kini, yang lebih ‘kroco-kroco’, berusaha mendeklarasikan eksistensinya di Indonesia dengan majalah berjudul Bhinneka. Yah awalnya menyebalkan sih, karena mereka mencoba pakai dalil-dalil agama untuk melegitimasi ke-homo-lesbian mereka. Tapi karena logika mereka pakai seperti logika anak kecil yang masih suka “umbelan”, jadinya saya berubah jadi agak senyam-senyum ketika membacanya. Eh, lama-kelamaan ‘ngakak’ (terbahak-bahak)…
Contoh aja, judul buku Irshad Manji tadi, “Beriman Tanpa Rasa Takut”. Lucu nggak sih? Coba kita bayangkan orang Islam beriman kepada Allah tapi tidak dengan rasa takut kepada Allah sebagai Rabb pencipta alam semesta. Seenaknya berbuat dosa, berbuat maksiat, tanpa takut Allah murka. Kan aneh? Manji seolah seperti mendefinisikan sifat Allah yang baru yang tidak pernah dikenal sepanjang sejarah, dan bahkan Allah sendiri tidak pernah menyatakan diriNya seperti itu, yaitu: Toleran. Termasuk sikap Allah terhadap para gay dan lesbian. Kurang ‘hebat’ apa coba?? Ada manusia bodoh yang berusaha mensifati Tuhannya sendiri!!! Tuh orang kalo sampe ketemu udah saya jendul kepalanya berkali-kali sambil saya katakan keras-keras di telinganya,”Ooo…bego lu! Emang Allah itu kucing peliharaanmu, sampe kamu sifati se’enak udelmu sendiri??!”
Kalau baca Jurnal Justisia Edisi 2004 lebih lucu lagi. Seorang lulusan IAIN Semarang, Sumanto Al-Qurtubi, menulis opini tentang gay, lesbian dan bencong. Dalam tulisannya itu dia menyatakan,
”Kisah Luth hanya sekedar story atau mitos. Gay, lesbian dan waria juga bagian dari fitrah atau kodrah manusia, hal itu tidak menyalahi kodrat, melainkan sesuatu yang wajar, natural dan given adanya. Kita memandang homoseks itu dianggap “menyimpang” karena kita kaum hetero, jangan-jangan kaum hetero ini juga dianggap “menyimpang “oleh saudara kita yang kebetulan homo”.
Mungkin gampang ngomong seperti ini, kemudian mendapatkan pujian dari para aktifis gay, lesbian dan para bencong dikampusnya/komunitasnya. Dia akan tau rasa nanti ketika Allah murka dan suatu hari ketika Si Sumanto ini berjalan di tempat sepi lalu ‘kehormatannya’ direnggut oleh para bencong jalanan yang badannya kekar-kekar penuh tato. Saya yakin seketika dia akan meralat seluruh statemen konyol yang dia tulis di jurnal itu! Mmm…Jangan-jangan memang harus dibeginikan lebih dulu supaya mau insyaf?
Profesor Dr. Musdah Mulia juga begitu. Selalu saja punya bahan bercandaan untuk umat Islam. Entah karena dulunya waktu kecil dia tidak pernah ada yang certain tentang kisah Nabi Luth as dan kaumnya atau buku cerita Nabi yang dia miliki salah cetak, kok bisa-bisanya mengatakan,
“Sepanjang bacaan saya terhadap kisah Nabi Luth yang dikisahkan dalam Al-Quran (al-A’raf 80-84 dan Hud 77-82) ini, tidak ada larangan secara eksplisit baik untuk homo maupun lesbian,”.
Apa yang dilakukan oleh Musdah itu sangat dipaksakan. Gelar profesor yang dia dapatkan ternyata tidak membuat dirinya tergerak untuk membuka buku-buku tafsir Al-Qur’an yang sudah ratusan tahun dituliskan oleh para ulama dan para fuqaha. Sepertinya Musdah memang belum tahu ada ulama bernama Ibnu Katsir yang ilmu tafsirnya dijadikan rujukan umat Islam di seluruh dunia selama ratusan tahun. Dia lebih memilih teknik penafsiran sendiri yang cenderung membuahkan argumentasi-argumentasi konyol dan lucu.
Seperti yang sudah sering dibahas, mengapa mereka bisa memiliki pola berpikir yang demikian menyimpang itu adalah karena mereka menganut faham liberal yang mereka susu dari Barat. Mereka mendapat dana yang sangat besar untuk bersekolah dan melakukan riset-riset di Barat tentang isu-isu keIslaman namun yang dipakai bukan worldview Islam, tapi liberal. Untuk menghancurkan dalil-dalil Islam yang ‘final’, mereka menggunakan metode tafsir injil yang disebut Hermeneutika, yang jelas sangat berbeda dengan metode tafsir Al-Quran. Karena hermeneutika menuntut setiap teks yang ditafsiri harus turun derajat lebih dahulu, yaitu yang tadinya berstatus firman, menjadi sebuah teks biasa yang dimaknai berdasarkan faktor kultural atau konteks dimana teks tersebut diturunkan dan dipakai.
Padahal al-Qur’an adalah teks yang sakral. Ketika kesakralannya dihilangkan maka yang terjadi wahyu Allah yang begitu mulia itu tidak ada bedanya dengan tulisan-tulisan buatan manusia lainnya. Itu sungguh menghinakan. Lelucon mereka yang terakhir ini sudah tidak begitu lucu lagi. Saya sudah tidak berminat untuk tertawa. Saya malah berpikir seandainya Umar bin Khattab masih hidup di jaman ini. Pasti beliaulah yang memisahkan kepala-kepala dari leher mereka tanpa banyak bicara. Wallahua’lam.

Ref: Undergroundtauhid.com

[khoirunnisa-syahidah.blogspot.com]