Skenario Besar Di Balik Freeport

http://4.bp.blogspot.com/-ZX8HXja0uPc/UBd0PMqhYiI/AAAAAAAAEGA/Omk-wswOmJE/s1600/n00031040-r-b-015.jpgOleh : Mujiyanto

khoirunnisa-syahidah.blogspot.com -  Andai Freeport tidak bercokol di Papua, mungkin perusaha¬an itu tinggal nama. Soalnya, perusahaan itu nyaris bangkrut pada 1959 gara-gara krisis di Kuba. Namun dukungan politik pemerintah Amerika menjadikan Freeport bisa seperti sekarang.


Akhir tahun 1996, Lisa Pease menulis di majalah Probe, dengan judul "JFK, Indonesia, CIA and Freeport." Tulisan ini menceritakan konspirasi di balik masuknya Freeport ke Indonesia dan peran CIA di dalamnya.

Adanya potensi emas, tembaga, dan perak di lokasi tambang yang sekarang bukanlah hasil temuan Freeport. Menurut penulis itu, potensi tambang yang luar biasa itu ditemukan berdasarkan sebuah laporan penelitian atas Gunung Ersberg (Gunung Tembaga) di Irian Barat yang ditulis Jean Jaques Dozy di tahun 1936 saat Belanda masih bercokol di Indonesia. Laporan itu sebenarnya sudah dianggap tidak berguna dan tersimpan selama bertahun-tahun begitu saja di perpustakaan Belanda.

Agustus 1959, Direktur Freeport Sulphur Forbes Wilson bertemu dengan Direktur Pelaksana East Borneo Company, Jan van Gruisen. Saat itulah van Gruisen menceritakan perihal tulisan itu. Singkat cerita Wilson pun tertarik dan mengadakan perjalanan ke Irian Barat dalam beberapa bulan.

Penelitiannya ini kelak ditulisnya dalam sebuah buku berjudul The Conquest of Cooper Mountain. Wilson menyebut gunung tersebut sebagai harta karun terbesar yang untuk memperolehnya tidak perlu menyelam lagi karena semua harta karun itu telah terhampar di permukaan tanah. Dari udara, tanah di sekujur gunung tersebut berkilauan ditimpa sinar matahari.

Wilson juga mendapatkan temuan yang nyaris membuatnya gila. Karena selain dipenuhi bijih tembaga, gunung tersebut ternyata juga dipenuhi bijih emas dan perak!! Menurut Wilson, seharusnya gunung tersebut diberi nama Gold Mountain, bukan Gunung Tembaga. sebagai seorang pakar pertambangan, Wilson memperkirakan jika Freeport akan untung besar dalam waktu tiga tahun sudah kembali modal. Pimpinan Freeport Sulphur ini pun bergerak dengan cepat. Pada 1 Februari 1960, Freeport Sulphur meneken kerjasama dengan East Borneo Company untuk meng¬eksplorasi gunung tersebut.

Namun rencana itu terkendala. Irian Barat yang masih diduduki Belanda ini situasi memanas. Presiden Soekarno mengirimkan pasukan ke sana. Freeport ingin meminta bantuan Presiden John F Kennedy untuk mendinginkan suasana. Namun JFK justru pro Soekarno. Saat itu, Amerika mengancam bantuan Marshall Plan jika Belanda tetap bercokol di Irian. Belanda pun hengkang dari sana. JFK pun malah mau memberi bantuan ke Indonesia.

Namun situasi berubah beberapa saat kemudian ketika JFK dibunuh. Presiden AS berganti ke Johnson. Salah seorang tokoh di belakang keberhasilan Johnson, Augustus C Long, anggota dewan direksi Freeport.

Tokoh yang satu ini memang punya kepentingan besar atas Indonesia. Selain kaitannya dengan Freeport, Long juga memimpin Texaco, yang membawahi Caltex (patungan dengan Standard Oil of California). Soekarno pada tahun 1961 memutuskan kebijakan baru kontrak perminyakan yang mengharuskan 60 persen labanya diserahkan kepada pemerintah Indonesia. Caltex sebagai salah satu dari tiga operator perminyakan di Indonesia jelas sangat terpukul oleh kebijakan Soekarno ini.

Augustus C Long amat marah terhadap Soekarno dan amat berkepentingan agar orang ini disingkirkan secepatnya. Mungkin suatu kebetulan yang ajaib. Augustus C. Long juga aktif di Presbysterian Hospital di NY dimana dia pernah dua kali menjadi presidennya (1961-1962). Tempat ini merupakan salah satu simpul pertemuan tokoh CIA.

Augustus 1965, Long diangkat menjadi anggota dewan penasehat intelijen kepresidenan AS untuk masalah luar negeri. Badan ini memiliki pengaruh sangat besar untuk menentukan operasi rahasia AS di negara-negara tertentu. Long diyakini salah satu tokoh yang merancang kudeta terhadap Soekarno.

Kendati Soekarno belum jatuh, ternyata para petinggi Freeport sudah mempunyai kontak dengan tokoh penting di dalam lingkaran elite Indonesia. Mereka adalah Menteri Pertambangan dan Perminyakan Ibnu Soetowo dan Julius Tahija. Menurut Lisa, orang yang terakhir ini berperan sebagai penghubung antara Ibnu Soetowo dengan Freeport. Ibnu Soetowo sendiri sangat berpengaruh di dalam Angkatan Darat karena dialah yang menutup seluruh anggaran operasional mereka.

Maka setelah Soekarno jatuh, Freeport mendapati jalan mulus. Soeharto mengeluarkan UU No 1/1967 tentang Penanaman Modal Asing (PMA) yang draftnya dirancang di Jenewa -Swiss yang didiktekan Rockefeller —tokoh Freemansonry dan kapitalis global. Maka perusahaan asing pertama yang kontraknya ditandatangani Soeharto adalah Freeport!

Untuk membangun konstruksi pertambangan emasnya itu, Freeport mengandeng Bechtel, perusahaan AS yang banyak mempekerjakan pentolan CIA. Direktur CIA John McCone memiliki saham di Bechtel, sedangkan mantan Direktur CIA Richards Helms bekerja sebagai konsultan internasional di tahun 1978. Wajar bila kemudian Freeport bisa bertahan di Indonesia selama lebih dari 40 tahun tanpa diganggu sedikitpun oleh pemerintah Indonesia.

Isu OPM

Berbagai cara dilakukan oleh Freeport untuk bisa bertahan. Salah satu cara yang dipakai adalah menggunakan isu Organisasi Papua Merdeka (OPM). Meski ini belum bisa dikonfirmasi, banyak pihak menduga Amerika ikut mengambil peran dalam memainkan isu ini.

Secara politik, cara ini sangat manjur dan bisa memukul KO pemerintah Indonesia. Ancaman Amerika memerdekakan Papua, menjadi senjata ampuh. Apalagi beberapa anggota Kongres AS sudah ada yang berperan sebagai pendukung kemerdekaan Papua.

Tak heran, Freeport pun kini memiliki pasukan pengaman sendiri. Mereka adalah anggota pasukan Amerika yang diakui oleh Freeport sebagai sipil. Mereka inilah yang mengendalikan keamanan perusahaan tersebut, sementara pihak keamanan Indonesia tak bisa berbuat apa-apa. 
[khoirunnisa-syahidah.blogspot.com]