CIIA: 'Asumsi Karet' BNPT-Densus 88 Tangkap Teroris Sudah Akut

khoirunnisa-syahidah.blogspot.com - Cara Densus 88 dalam menangani terorisme banyak yang tidak sehat dan kondisinya akut sekali. Sekarang teroris menjadi bahasa karet yang maknanya terserah Densus 88 dan BNPT. 

Demikian dikatakan Direktur The Community Of Ideological Islamic Analyst (CIIA) Harits Abu Ulya kepada itoday, Selasa (9/10).

"Orang baru terduga ditangkap begitu saja urusan terbukti atau tidak urusan belakangan," ungkap Harits.

Kata Harits, kasus salah tangkap yang dilakukan Densus 88 sering terjadi, misal TM adik dari Ahmad Yosepa (kasus Bom Kepunton Solo), Anggri Pamungkas yang ditangkap di Kalimantan Barat dan dibawa ke Jakarta akhirnya dilepas karena tidak terbukti.

"Dan kasus ini berulang kali terjadi, dan asas praduga tidak bersalah tidak berlaku bahkan prosedur penangkapan dan penahanan mengabaikan banyak prosedur hukum. Sekali lagi, bukan karena anggapan extra ordinary crime yang dihadapi bukan berarti Densus 88 boleh menghalalkan segala cara," ungkapnya.

Kata Harits, orang-orang yang hanya diduga teroris kemudian  ditangkap, ditahan, digeledah, diperiksa dan direkonstruksi. "Saya rasa si Sofyan yang diambil Densus 88 tadi malam di Depok Limo juga belum tentu terlibat. Kalau dikait-kaitkan maka ini asumsi karet yang bisa dikenakan siapapun asal alasanya bagi Densus 88 ia terkait," jelas

Harits mempertanyakan sikap Densus 88 yang tidak mempunyai sikap tegas dan pre-emtif terhadap OPM dan RMS.

"Maka jangan salah kalau tindakan-tindakan seperti ini mengakumulasi persepsi umat Islam bahwa perang melawan teroris adalah bentuk kezaliman terhadap umat Islam. Nyawa seolah tidak ada harganya jika seseorang dilabeli teroris, baik ia sudah terbukti melakukan tindakan terorisme atau baru dugaan," papar Harits.

Ia juga mengatakan 60 orang lebih orang meninggal atas dasar dugaan dan diterapkan tindakan pre emptif dengan eksekusi di luar proses pengadilan. Ini sangat mencederai dan merusak crimanal justice system.

"Saya melihat tindakan-tindakan Densus yang tidak cermat bisa menambah citra Polri makin terpuruk, padahal saat ini sudah dililit dengan berbagai kasus-kasus. Densus 88 menambah wajah Polri makin "bopeng"," pungkasnya
[khoirunnisa-syahidah.blogspot.com]