IIDS: Harga BBM Indonesia termasuk termurah se-Asiain

khoirunnisa-syahidah.blogspot.com - Peneliti dari International Institute for Sustainable Development (IIDS) Lucky Lontoh menyatakan bahwa harga bahan bakar minyak di Indonesia termasuk yang paling murah di Asia.
“Indonesia itu merupakan negara Asia dengan harga bensin premium paling murah. Harga permen karet saja meningkat, tapi bbm kok tidak meningkat. Ini menandakan subsidi yang diberikan pemerintah masih terlalu besar,” kata dia saat diskusi “Subsidi Energi di Indonesia” di Jakarta, Senin.
Dari data yang diambil IIDS melalui Bloomberg tahun 2012, harga BBM untuk premium di Indonesia tercatat 1,89 dolar AS per galon, sementara Malaysia (3,23 dolar AS per galon) Filipina (4,42 dolar AS per galon), Singapura (6,08 dolar AS per galon), Jepang (7,15 dolar AS per galon) dan India (5,44 dolar AS per galon).
“Bahkan harga BBM di negara dengan perekonomian rendah seperti Kamboja saja lebih mahal dari Indonesia,” ujar dia.
Tercatat, dari data Kementerian ESDM, konsumsi BBM Indonesia tahun lalu 40 juta kilo liter dengan memakan subsidi Rp202,4 triliun. Sementara tambahan kuota BBM tahun ini 4 juta kilo liter menjadi sebanyak 44 juta kilo liter dan memakan anggaran subsidi energi Rp219 triliun.
“Rata-rata subsidi BBM per kapita di Indonesia lebih besar daripada subsidi BBM per kapita di India dan Cina,” ujar dia
Oleh karena itu, ia mengimbau pemerintah untuk segera mengurangi subsidi BBM. “Dana subsidi yang begitu besar tersebut bisa digunakan untuk hal yang lebih penting seperti mengembangkan energi terbarukan lainnya seperti biofuel, energy matahari, dan geothermal,” kata dia.  (ANTARA, 15/10/2012)
Komentar :
  1. Penelitian yang seperti ini biasanya  oleh para intelektual kapitalis dan dibiayai oleh para kapitalis, mereka selalu menyalahkan subsidi BBM dan rekomendasinya selalu mengurangi subsidi dan menaikkan harga BBM padahal dana subsidi tersebut walaupun jumlahnya besar tapi yang menikmati baik langsung maupun tidak langsung adalah seluruh rakyat indonesia.
  2. Mereka jarang mengkritik bantuan pemerintah yang jumlahnya trilyunan rupiah dalam bentuk dana rekapitulasi perbankan , padahal yang menerima dana rekapitulasi itu hanya segelintir orang mungkin karena mereka adalah para kapitalis yang membayar para intelektual kapitalis tersebut.
  3.  Mereka “para intelektual kapitalis “ tidak pernah menggugat liberalisasi migas yang menyebabkan hamper 90 % eksplorasi migas dikuasai oleh swsata baik lokal