“Isu ‘Terorisme’ Akan Terus Dipelihara untuk Membungkam Kekuatan Islam”


syahidah.web.id - JAKARTA: Pihak Densus 88 membebaskan Davit Ashary, Sunarto Sofyan (Nanto) dan Herman Setyono yang awalnya diduga “teroris”
Menurut Harits Abu Ulya, itu menunjukkan pasukan antiteror milik korps berbaju cokelat tersebut berkeinginanan menghabisi aktivis Islam.
“Pihak Densus 88 terkesan membuat citra baik dan tidak brutal dengan melepas Davit, Nanto dan Herman,” kata Direktur The Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA) ini sepertii dilansir itoday, Sabtu (3/11/2012).
Menurut Harits, melalui tiga orang yang dilepaskan itu, umat Islam dapat mengetahui kelakuan Densus 88 selama penyidikan.
Kata Harits, pada hakikatnya langkah main tangkap yang dilakukan Densus 88 adalah pelanggaran serius atas hak pribadi seseorang yang bebas dari segala praduga (asas praduga tak bersalah).
“Dan apa yang sudah dilakukan Densus sebagai bentuk niat jahat mengkriminalisasi aktivis masjid atau aktivis Muslim dalam beragam wajah dan organisasi,” jelasnya.
Ia juga mengatakan, lebih parah lagi, Densus 88 tidak pernah minta maaf di hadapan publik atas kecerobohan ini.
“Kompolnas tidak ada suara, justru pihak Amerika Serikat melalui anggota parlemen yang mengunjungi Indonesia memberikan apresiasi atas kerja Densus 88,” ungkap Harits.
Menurut Harits, kontra-terorisme betul-betul dikelola Densus 88 dan BNPT dengan logika proyek dan desain intelijen gelap untuk memelihara isu terorisme hal yang niscaya terus akan dilakukan.
“Ini adalah proyek panjang untuk menghadapi dan membungkam geliatnya kekuatanpolitik umat Islam di Indonesia yang saat ini diasumsikan sebagai ancaman potensial ke depan,” papar Harits
Kata Harits, kezaliman sistemik terorganisir tidak bisa dihadapi dengan cara sporadis dan pragmatis, tetapi harus dengan visi dan misi utama perjuangan penegakan syariat sacara kaffah (salam-online/www.syahidah.web.id)-sumber: itoday