Mufti Arab Saudi: Mengutuk Amerika Hukumnya Haram!


syahidah.web.id - Saudi Arabia –  Mufti Agung Arab Saudi Syeikh Abdul Aziz bin Abdullah Al Syeikh mengatakan bahwa mengutuk Amerika Serikat hukumnya haram. Ia juga tidak menyetujui sikap orang Arab yang ‘bersuka cita’ atas bencana badai Sandy, yang menewaskan lebih dari 100 orang tewas di Pantai Timur AS.
Syeikh Abdul Aziz saat mereaksi berbagai komentar Anti-Washington di jaringan sosial Saudi terkait badai Sandy yang melanda Amerika Serikat, mengatakan, umat Islam harus mengambil pelajaran dari bencana alam ini dan tidak boleh mendoakan buruk bagi mereka, sebab di antara mereka terdapat banyak umat Islam, dan doa tersebut juga tidak menguntungkan bagi umat Islam. Demikian dilaporkan televisi Al-Alam, Kamis (1/11).
Syeikh Abdul Aziz juga mengatakan kepada koran Al-Hayat bahwa sikap ‘suka cita’ orang-orang muslim terhadap rakyat Amerika yang dilanda badai Sandy adalah tidak pantas, dan menambahkan bahwa perilaku seperti itu tidak benar dan harus ditinggalkan , katanya.
Sementara ulama Arab Saudi lain, Salman Al-Oudah, juga mendesak pengguna Twitter untuk menahan diri dari sikap sombong atas korban Sandy, mengingat pesan Nabi Muhammad mengenai perdamaian bagi umat manusia.
Dalam tweet dari seorang tokoh terkenal yang tidak disebutkan namanya dalam berita itu, mengatakan: “Kami meminta Tuhan untuk menghancurkan mereka semua, dan tidak menyisakan salah satu dari mereka,” karena Amerika Serikat mendukung perang dan kekerasan terhadap Muslim.”
Pengguna Twitter lainnya membandingkan Sandy dengan badai pasir pada masa kaum Aad. Allah menghukum mereka karena menolak untuk percaya kepada-Nya. Di Mesir, Da’i terkemuka yakni Syeikh Wagdy Ghoneim menggambarkan badai Sandy sebagai salah satu dari “tentara Allah” yang dikirim untuk menghukum Amerika Serikat atas tindakannya terhadap umat Islam.
Selain itu, sebelumunya Mufti Agung Saudi, Syeikh Abdul Aziz ini mengeluarkan fatwa bahwa demonstrasi di negara-negara Arab dan Islam untuk menyatakan solidaritas kepada bangsa Palestina di Jalur Gaza merupakan tindakan kontroversial dan tidak berguna. [KbrNet/Slm/www.syahidah.web.id]