Guru, Engkau Mulia Dengan Islam

muslimah[1].JPG (214×300)www.syahidah.web.id -“Guru, engkau adalah pahlawan tanpa tanda saja” itulah kalimat yang sering kita dengar sejak di sekolah dasar hingga tingkat menengah atas. Guru sangat berperan penting dalam melahirkan generasi bangsa, karena di tangannyalah akan lahir orang-orang jenius bermartabat tinggi, hebat, para ilmuwan dan teknokrat yang tentu  menjadi penentu peradaban manusia. Meskipun demikian, nama guru tidaklah seharum nama pahlawan nasional yang sering disebut dalam buku sejarah sekolah misalnya Soekarno, Moh.Hatta ataupun Soedirman. Maka sangatlah wajar jika guru dijuluki sebagai pahlawan tanpa tanda saja.
Saking pentingnya posisi guru, Islam  memberikan derajat yang sangat tinggi untuk para guru ini. Bahkan pada zaman dulu Khalifah Umar bin Khattab memberikan gaji kepada tiga orang guru yang mengajar anak-anak di kota Madinah masing-masing sebesar 15 dinar setiap bulan atau setara dengan 20 juta-an -1 dinar: 4,25 gr emas-. (Yusanto et.al, 2011:87)
Islam sangat menghargai Ilmu pengetahuan. Sehingga sangatlah wajar jika guru memiliki kedudukan mulia dalam Islam. Allah swt, berfirman:

“…Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. Al-Mujadilah: 11)
                Saat ini pahlawan tanpa tanda jasa ini semakin jauh dari penuntasan masalah generasi. Mari kita tengok tenaga pendidik sudah tidak mampu lagi menyelesaikan kasus tawuran, geng motor, narkoba, seks bebas hingga aborsi yang menjangkit peserta didiknya. Guru saat ini hanya sebatas memberikan ilmu pengetahuan saja tanpa mengajarkan nilai-nilai keteladanan, kepribadian Islam, dan wawasan Islam pada peserta didiknya, sehingga sangatlah wajar jika generasi yang tercetak meskipun unggul dalam teknologi namun rendah dari sisi moralnya.
                Jika kita tarik akar masalahnya adalah asas sekulerisme yang menjadi paradigma pendidikan saat inilah yang menjadi biang kerok atas kerusakan-kerusakan  ini. Pendidikan malah justru mencetak tenaga-tenaga pendidik yang hanya berorientasi pada nilai materialistik saja (baca: jabatan dan gaji) seperti halnya “robot-robot” yang siap dipasarkan kapan saja. Kurikulum pendidikan yang sama sekali tidak mengintegrasikan ilmu pengetahuan dengan tsaqofah Islam dan kepribadian Islam menjadi penyebab terbesar mengapa tenaga pendidik tidak lagi memperhatikan perannya sebagai pencetak generasi-generasi cemerlang.
                Maka untuk menuntaskan persoalan ini hanya ada satu solusi yaitu membuang paradigma sekulerisme (memisahkan agama dari kehidupan)dalam pendidikan dan mengantinya hanya berdasarkan akidah Islam. Karena Islam memberikan ruang kepada tenaga pendidiknya untuk mengajarkan ilmu pengetahuan, tsaqofah Islam, kepribadian Islam yang tentu saja akan mampu melahirkan guru-guru yang mukhlis mengajarkan peserta didiknya, guru-guru yang mampu mencetak generasi yang cemerlang dan beradab layaknya Syeikh Aaq Syamsudin yang mampu mencetak generasi unggul seperti Muhammad Al-fatih. Serta guru-guru lainnya yang mampu melahirkan ilmuwan-ilmuwan Islam yang terkenal seperti Ibn Sina, Al-Khawarizmi, dan Imam Syafi’i



Iis nawati
pendidikan Fisika
Universitas Pendidikan Indonesia