Adab sebelum Ilmu pada Kisah Musa dan Khidir

syahidah.web.id - Dalam kajian pendidikan, kisah Musa berguru kepada Khidir sering diceritakan, tapi biasanya hanya berhenti pada tasawuf saja.
Kita dapat melihat dari kisah tersebut, bagaimana Nabi Musa yang notabene tokoh alim cendikiawan harus ‘dihukum’ dan dipaksa mencari guru di pertemuan dua lautan.
Nabi Musa merasa paling pintar dan memang paling intelek pada zamannya. Tetapi  Allah tunjukkan pemilik ilmu hikmah yang tawadlu dan mengajari adab kepada beliau.
Adab sebelum ilmu sangat jelas pada kisah ini.
Nabi Musa bertanya kepada Khidir. Bertanya itu adalah pintu dari ilmu. Ilmu didapat dengan bertanya kepada Ahli ilmu. Tapi apa dan bagaimana sikap Khidir? Tidak dijawab kecuali pada waktunya.
Jangan turuti hawa nafsu murid dan pelajar. Terlalu cepat memahami sesuatu seringkali membuat ia menjadi sombong dan gegabah.
Pada sisi lain, banyak bertanyalah yang membuat Bani Israil menjadi tersesat.
Sebelum konten kurikulum, murid harus mengenali posisi dan derajatnya. Harus membersamai gurunya dengan cinta dan kesabaran.
Pertanyaan yang pertama diajuka bukan langsung kepada konten melainkan bentuk meminta izin. “Bolehkan saya bertanya…?”
Maka sesekali berilah jawaban kepada anak dan murid kita: Simpan dulu pertanyaanmu Nak; Sabar dulu, jangan bertanya sebelum selesai/dipersilahkan; Nanti kamu akan tahu jawabannya; Sekarang belum waktunya bertanya tentang itu.
Disadur dari diskusi hangat grup Homeschooling Keluarga Muslim (HSKM)
(esqiel/muslimahzone/www.syahidah.web.id)